TERNATE-FLP Maluku Utara menyelenggarakan acara bedah buku novel yang berjudul ‘Orang-Orang Sederhana’ di Asrama Haji, Ternate, Sabtu (23/5/2026). Novel tersebut merupakan karaya dari M. Sadli Umasangaji yang juga merupakan Ketua FLP Maluku Utara.
Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut Rafli Marwan (Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Khairun), Dr. Herman Oesman (Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara).
Rafli Marwan membahas topik tentang Karakteristik Sastra dalam Kultur Masyarakat Maluku Utara. Rafli mengulas tentang sastra lisan dan sastra tulis. Sastra lisan adalah sastra lama, sastra rakyat, sastra daerah dan sastra tulis sebagai sastra modern.
“Puisi dalam sastra lisan antara lain Dalil Tifa, Dalil Moro, Dola Bololo dan Pandara. Sedangkan prosa dalam sastra lisan adalah cerita rakyat,” tandas Rafli.
“Kisah Boki Dehegila yang merupakan Antologi Cerita Rakyat Maluku Utara (2011) dimana berisi 29 cerita rakyat dengan berbagai peristiwa, penokohannya bersifat heroik, mengungkap asal usul kejadian objek tertentu, serta dominan memuat pesan ekologi secara filosofis,” kata Rafli dalam mengulas Sastra dalam Cerita Rakyat.
Sadli Umasangaji mengatakan, bahwa saat ini banyak tren tentang sastra dengan isu kedaerahan. Sastra dengan isu kedaerahan adalah karya sastra yang mengangkat realitas sosial, sejarah, budaya, atau mitos dari suatu wilayah tertentu.
“Maluku Utara merupakan daerah yang kaya akan sejarah dan budaya, sejarah rempah, sejarah perang, sejarah kesultanan, dan berbagai konteks kepulauan serta fenomena pertambangan,”katanya.
Novel Orang-Orang Sederhana lahir bermula dari seorang kawan yang menceritakan tentang kehidupan yang agak susah ketika kuliah dan kehidupannya sendiri, kemudian selama bertugas di Halmahera bagian Timur, sekitar 2014.
“Saya melihat berbagai fenomena tambang dan berbagai kondisi dan pekerjanya. Serta keinginan saya untuk menceritakan tentang fenomena Maluku Utara di tengah-tengah kegirangan membaca ide-ide sosialisme dan negara kesejahteraan. Selain itu, karena kesukaan saya pada sastra, novel, dunia aktivisme, dan jalan sunyi, mentalitet korea serta jalan melenting,” ungkap Sadli dalam mengulas novelnya.
Orang-Orang Sederhana menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman, pemikiran, dan kemanusiaan—serta menjadi pengingat bahwa dalam kesederhanaan, selalu ada kekuatan yang diam-diam bekerja mengubah dunia. Novel ini ditulis dengan niat merekam realitas, menyuarakan kegelisahan, serta merawat harapan. Semoga setiap cerita di dalamnya dapat menggugah kesadaran, menghadirkan refleksi, dan menumbuhkan empati bagi para pembaca.
Dr. Herman Oesman mengulas tentang Fenomena Sastra Maluku Utara dalam Perspektif Sosiologi Sastra. Dr. Herman memulai dengan mengutip Robert Escarpit, Penulis Prancis, Sosiolog Sastra bahwa sastra tidak dapat dipahami hanya melalui analisis teks semata. Sastra harus dilihat sebagai “fakta sosial” yang hidup di tengah masyarakat.
“Secara historis, masyarakat Maluku Utara memiliki tradisi sastra lisan yang sangat kuat. Tradisi seperti legenda, dalil tifa, dalil moro, syair adat, hikayat, mantra, dan cerita rakyat diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari sistem pengetahuan local,”ujarnya.
Sastra di Maluku Utara hadir bukan sekadar sebagai ekspresi estetika, melainkan sebagai medium untuk merekam ingatan kolektif masyarakat. Perkembangan sastra di Maluku Utara memperlihatkan hubungan erat antara teks sastra dan realitas sosial masyarakat. Sastra (lisan) di Maluku Utara dapat dipahami sebagai “dokumen sosial” yang merepresentasikan struktur masyarakat. Sastra Maluku Utara acap lahir dari pengalaman masyarakat yang hidup dalam situasi keterpinggiran geografis dan ketimpangan pembangunan.
Novel ‘Orang-Orang Sederhana’, merupakan salah satu karya sastra lokal yang lahir dari ketimpangan pembangunan yang ada di Maluku Utara. Pengarang atau penulis di Maluku Utara tidak berdiri di ruang kosong, melainkan dipengaruhi struktur sosial di sekitarnya. Pengalaman kolonial ikut membentuk narasi tentang perlawanan, penderitaan, dan identitas masyarakat. Sastra Maluku Utara kerap menghadirkan tema sejarah, memori, dan resistensi terhadap kekuasaan.
“Sastra bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga berkaitan dengan ekonomi, teknologi, dan kekuasaan budaya,” tutup Herman Oesman dalam materinya. []
