Sabtu, Februari 28Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Aku dan FLP: Sebuah Rumah Bernama FLP

 

Oleh: Uda Agus

Ada pertemuan-pertemuan yang kita kira kebetulan, padahal sesungguhnya ia adalah takdir yang sedang berjalan perlahan menuju kita.

 

Aku dan FLP Uda Agus

 

Awal Perkenalan: Jatuh Cinta pada Kata

Tahun 1999, aku masih seorang remaja yang sedang mencari arah untuk memahami dunia. Aku suka membaca, tetapi belum tahu ke mana harus melangkah. Hingga suatu hari, di sebuah buku kumpulan cerpen, aku membaca sebuah naskah yang kemudian menjadi penanda penting dalam hidupku: Ketika Mas Gagah Pergi. Sejak itu, aku jatuh cinta, pada ceritanya, pada penulisnya, dan menumbuhkan keinginan untuk bisa membuat karya serupa yang menyentuh batin dan menyadarkan nurani.

Nama penulisnya terpatri kuat dalam ingatanku: Helvy Tiana Rosa. Pencarianku dimulai. Aku ingin tahu lebih banyak tentang karya-karyanya. Pencarian itu membawaku pada sebuah majalah yang kemudian menjadi sahabat setia, Annida.

Aku mengoleksinya dengan kesungguhan yang mungkin berlebihan untuk ukuran remaja laki-laki. Edisi lamanya kuburu, kukoleksi, kusimpan rapi. Annida bukan hanya bacaan; ia adalah saksi bagaimana seorang anak muda mulai jatuh cinta pada kata-kata. Annida bukan sekadar bacaan. Ia adalah sekolah yang mengajariku bagaimana kata bisa menjadi cahaya. Sampai hari ini, mungkin sekitar 80 persen majalah Annida sejak edisi pertama terbit, ada di rumahku.

Bundel Majalah Annida Uda Agus

Di salah satu edisi majalah Annida aku menemukan formulir pendaftaran untuk menjadi anggota Forum Lingkar Pena. Tanpa banyak pertimbangan, aku mengisinya. Bukan karena aku suka organisasi—jujur saja, saat itu aku bukan tipe yang senang berorganisasi—tetapi karena aku ingin belajar menulis dengan lebih serius. Aku ingin berada di lingkungan yang menumbuhkan, dan FLP sepertinya tempat yang cocok untuk tumbuh.

Beberapa waktu kemudian, masih melalui majalah Annida, namaku diumumkan sebagai anggota FLP Wilayah Sumatra Utara. Rasanya seperti mendapat undangan masuk ke sebuah dunia yang selama ini hanya kubayangkan dari balik halaman-halaman majalah.

Menjadi anggota FLP Wilayah Sumatra Utara adalah pengalaman yang unik. Di antara dominasi para penulis perempuan, aku termasuk sedikit lelaki yang rutin hadir. Ada yang berseloroh menyebutnya “Forum Lingkar Perempuan.” Kami tertawa saja. Sentilan yang memang lahir dari kenyataan bahwa anggota aktif didominasi oleh kaum hawa. Namun kemudian kuketahui bahwa kondisi ini ternyata juga berlaku di wilayah-wilayah lain.

 

Menemukan Jodoh di Jalan Kata

Karya Uda AgusAgustus 2006 menjadi babak baru yang tak pernah kuduga. FLP se-Sumatra menggelar Temu Sastra Sumatra di Sumatra Barat. Aku hadir sebagai perwakilan FLP Sumatra Utara sekaligus sebagai salah satu penulis dalam peluncuran antologi Uda Ganteng No. 13.

Perjalanan itu awalnya kupikir hanya perjalanan literasi—bertemu penulis, berdiskusi tentang karya, berbagi semangat. Namun Allah menyiapkan skenario yang lebih indah.

Di antara riuh pertemuan para penulis muda dari berbagai wilayah, ada satu sosok yang kemudian mengubah arah hidupku. Percakapan yang awalnya biasa, diskusi yang awalnya sederhana, perlahan menjelma menjadi kisah yang lebih serius. Siapa sangka, forum kepenulisan yang kuikuti demi mengasah kemampuan menulis, justru menjadi jalan dipertemukannya aku dengan jodohku. Kisah itu telah kutuliskan dalam antologi FLP 24 Jam Sebelum Menikah. FLP bukan hanya mempertemukanku dengan buku dan penulis, ia juga mempertemukanku dengan pasangan hidup.

 

Karier yang Bertumbuh Bersama Komunitas

Bergabung dengan FLP menjadi titik tolak penting dalam perjalanan kepenulisanku. Tahun 2001, naskah pertamaku dimuat di Annida—sebuah kisah epik tentang Palestina. Ketika tulisan itu terbit, rasanya seperti pintu yang selama ini tertutup akhirnya terbuka. Keyakinanku tumbuh: aku bisa menulis, dan tulisanku bisa sampai kepada pembaca.

Uda Agus Menang Lomba Cerpen Annida

Setelah itu, langkah demi langkah terasa lebih ringan. Tahun 2003, aku menjuarai lomba cipta cerpen Milad FLP Sumatra Utara. Tahun 2010, menjuarai lomba cerpen Annida Online. Tahun 2011, menjuarai lomba cerpen tingkat mahasiswa yang diadakan oleh STAIN Purwokerto. Dan yang sangat membahagiakan adalah ketika pada tahun 2013 aku diundang sebagai emerging writer dalam perhelatan Ubud Writers and Readers Festival. Berdiri di panggung festival sastra internasional itu, aku teringat perjalanan panjang dari seorang remaja yang dulu hanya pembaca setia Annida.

Semua capaian itu tentu tidak lahir dengan sendirinya. Selain usaha, di belakangnya ada komunitas yang setia menemani: diskusi rutin, bedah karya, kritik yang menguatkan, sahabat-sahabat seperjuangan yang saling menyemangati ketika naskah ditolak dan saling mendoakan ketika naskah diterima.

Selain buku-buku karya pribadi, aku diberi kesempatan berkontribusi dalam sejumlah antologi bersama FLP. Setidaknya, ada delapan antologi FLP yang ada naskahku di dalamnya: Uda Ganteng No. 13 (Gema Insani Press, 2006), Meremas Sampah Menjadi Emas (Indiva Media Kreasi, 2008), 24 Jam Sebelum Menikah (LPPH, 2009), Air Mata Sunyi (AG Publishing, 2012), Perempuan Langit (Soega Publishing, 2013), Tot Ziens, Rembang (Lingkar Pena, 2020), Idulfitri untuk Ibu (AG Publishing, 2021), dan 27 Puisi Terpilih Lomba Puisi Palestina (Embrio Publisher, 2024).

Karya Uda Agus Kordiv Rumah Cahaya

 

Rumah untuk Kembali

Waktu bergulir cepat. Tak terasa lebih dari dua dekade telah berlalu sejak aku pertama kali mengenal FLP. Dari seorang anggota yang awalnya hanya ingin belajar menulis, kini aku justru diamanahi sebagai Koordinator Divisi Rumah Cahaya Badan Pengurus Pusat.

Rumah Cahaya? Nama itu selalu membuatku merenung. Dulu, aku datang sebagai seseorang yang mencari cahaya, kini, aku justru diminta untuk menjaganya.

Jika menoleh ke belakang, begitu banyak jejak FLP dalam hidupku. Di rak bukuku, di halaman-halaman antologi, di undangan festival, di perjalanan menuju pelaminan, bahkan kini, pada amanah yang sedang kupikul.

FLP telah memberiku lebih dari sekadar jaringan dan pengalaman. Ia memberiku arah. Ia memberiku keluarga. Ia memberiku makna.

Di usia ke-29 ini, izinkan aku mengucapkan sesuatu yang mungkin sederhana, tetapi sangat tulus: terima kasih. Terima kasih telah menjadi rumah saat aku belajar mengejar mimpi. Terima kasih telah menjadi saksi jatuh bangun perjalanan kepenulisanku. Terima kasih telah mempertemukanku dengan belahan jiwa. Dan terima kasih karena hingga hari ini, aku masih diberi kesempatan untuk mengabdi di dalamnya.

Aku datang ke FLP karena ingin menulis, dan aku bertahan karena menemukan makna di dalamnya. Bagiku, FLP adalah rumah. Rumah tempat bertumbuh. Rumah tempat menemukan sahabat, karya, bahkan jodoh. Rumah yang selalu terbuka, bahkan ketika kita sempat pergi menjauh.

Selamat Milad ke-29, Forum Lingkar Pena. Semoga lingkar ini tak pernah putus. Semoga pena-pena kita tetap menulis cahaya. Di usia ke-29 ini, FLP bukan sekadar komunitas menulis. Ia adalah ruang perjuangan yang telah melahirkan begitu banyak penulis, menguatkan begitu banyak mimpi, dan menyatukan begitu banyak hati.

Sekali lagi, Selamat Milad ke-29 Forum Lingkar Pena. Teruslah menjadi rumah bagi kata-kata yang berdaya. Berbakti. Berkarya. Berarti.

Ada rumah yang tidak dibangun dari batu dan semen.
Ia dibangun dari pertemuan, dari doa-doa yang tak terdengar, dari kata-kata yang berasal dari hati.

Ada rumah yang tidak kita cari dengan sengaja.
Kita hanya melangkah biasa saja, membaca biasa saja, menulis biasa saja—lalu tanpa sadar, kita telah tinggal di dalamnya selama puluhan tahun.

Bagiku, rumah itu bernama Forum Lingkar Pena.

 

Ditulis oleh:
Uda Agus (Koordinator Divisi Rumah Cahaya BPP FLP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

Share This