Jumat, November 28Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

FLP dan Pembebasan Masjidil Aqsha

Di sebuah sudut ruang baca sederhana, suara kertas yang dibalik perlahan terasa seperti detak kecil perlawanan. Di tempat semacam inilah, banyak anggota Forum Lingkar Pena (FLP) memulai langkah sunyi mereka, menulis tentang Palestina, tentang luka yang jauh namun terasa dekat, tentang Masjidil Aqsha yang selalu hidup dalam imajinasi dan doa.

Tidak ada dentuman bom di ruangan itu. Tidak ada bau mesiu atau sirene yang menghantui. Namun setiap paragraf yang lahir adalah pantulan dari sebuah tragedi yang terus berlangsung, sekaligus harapan yang tidak pernah padam. “Kami mungkin tidak berada di garis depan, tetapi kata-kata kami adalah bagian dari barisan itu,” kata salah seorang anggota FLP, yang tidak pernah bosan menulis  tentang al-Aqsha. Kalimatnya lirih, tapi mengandung nyala.

Sejak lama, FLP memandang sastra bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai alat perjuangan. Dalam setiap kelas kepenulisan, Palestina sering muncul sebagai latar diskusi, tentang bagaimana narasi bisa mengubah persepsi, menggerakkan hati, dan melawan propaganda. Di tangan para penulis muda, Masjidil Aqsha menjelma bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi simbol penjagaan martabat. “al-Aqsha itu bukan hanya batu. Ia ingatan yang menolak beku,” ucap seorang mentor senior FLP.

Di media sosial, postingan pendek tentang Palestina mungkin berlalu begitu cepat, ditelan arus harian. Tapi FLP memilih jalan lain, menuliskan kisah, memperlambat waktu, membuat pembaca berhenti sejenak, untuk merasakan hidup seorang ibu di Gaza, mimpi seorang anak di Hebron, atau sunyi malam di bawah kubah yang terus dijaga para penjaga tidak bernama. Dari cerpen hingga puisi, dari artikel ilmiah hingga catatan reflektif, setiap tulisan adalah jendela kecil menuju tanah yang jauh namun terasa akrab.

Beberapa program dibangun untuk merawat jendela itu, kelas menulis khusus Palestina, proyek buku kumpulan kisah Palestina, hingga pengadaan divisi khusus Ke-palestinaan. Keberadaannya diharapkan untuk memahami secara mendalam tentangnya, hingga jejak tanah para nabi itu bisa ditelusuri dalam literatur-litetatur orisinil para Ulama muslim. Hasil yang diharapkan bukan sekadar karya, tetapi pembaca dan penulis, yang lebih sadar, lebih peka, dan lebih peduli.

Pada akhirnya, pembebasan Masjidil Aqsha tidak hanya menunggu langkah kaki para pejuang. Ia juga menunggu kesediaan dunia untuk memahami, untuk tidak melupakan, untuk terus menyuarakan kebenaran. Dalam lanskap besar itu, FLP mengambil peran yang mungkin tampak sederhana, namun sesungguhnya krusial, menjadi penjaga narasi.

FLP harus meyakinkan dirinya bahwa di balik setiap tulisan selalu ada detak kecil itu, detak yang meyakini bahwa kata-kata, meski lahir dari ruang baca kecil di ujung Nusantara, tetap dapat menggema sampai ke halaman luas  Baitul Maqdis. Karena pembebasan tidak selalu dimulai dari medan perang. Kadang, ia dimulai dari sebuah paragraf yang jujur.

 

Taqiyah Syamsul Arifin Abdul Lathif: Kordiv Palestina

Stasiun Pasar Turi, 28 November 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

Share This