Minggu, Juni 16Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti


Istilah 4L dalam Perspektif Kaderisasi Forum Lingkar Pena

Istilah 4L dalam Perspektif Kaderisasi Forum Lingkar Pena

 

Istilah 4L (Lu Lagi, Lu Lagi) menjadi satu obyek diskusi yang menarik di sebuah organisasi. Dalam beberapa kali perbincangan di forum-forum FLP, istilah 4L ini sering jadi bahan candaan dan, tentu saja, dalam perspektif kaderisasi kita perlu membahas ini secara serius.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kaderisasi akan memengaruhi orang-orang yang siap bekerja dan menginfakkan dirinya untuk FLP, tetapi tentu bukan perkara mudah.

Butuh waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun untuk bisa menempa kader-kader hebat dengan kerja totalitas dan ikhlas.
Baiklah, kita kembali ke 4L.

Saya ingin memandang istilah ini dalam dua perspektif.

Pertama, 4L dalam Perspektif Individu

Apakah 4L itu selalu buruk? Saya katakan tidak. Dalam perspektif individu, 4L menjadi simbol keistiqomahan seseorang dalam bekerja.

Seperti lirik nasyid, jika ada 1 orang yang tetap tersisa dari 10 orang pejuang, maka itulah ‘saya’. Ini perspektif yang baik, bukti nyata ketunakan kita dalam sebuah organisasi.

Menjadi 4L dalam perspektif individu tidaklah mudah sebab ia harus siap menomor duakan hal-hal lain dalam hidupnya.

Jika ada teman kita pengurus atau anggota FLP yang selalu siap dengan kerja-kerja, selalu hadir di rapat-rapat, selalu siap mengerjakan tugas-tugas, bukan berarti ia seorang yang ‘lowong’ tanpa amanah.

Dia punya pekerjaan, dia punya organisasi yang lain, dan dia punya kewajiban-kewajiban yang lain di luar sana.

Namun, karena cintanya dengan keyakinannya terhadap pilihan jalan juang di FLP, maka dia tetap memberikan ruang waktu untuk selalu ada di FLP.

Maka, tidak buruk menjadi 4L. Tidak buruk menjadi yang selalu ada di FLP sebab ketunakan itu adalah contoh untuk kader-kader di bawah kita.

Kita dinilai bukan dari kehebatan dan karya sesaat, tetapi ketunakan dan kesetiaan kita pada kebenaran yang kita yakini di FLP inilah yang akan jadi nilai kita sebenarnya.

Saya sering mengatakan, kenapa si A layak dinaikkan ke Madya misalnya. Atau jenjang apa pun itu.

Selain karena karakteristik di jenjangnya sudah terpenuhi, bagaimana ketunakan dan kesetiaan ia pada organisasi ini selama bertahun-tahun, itu juga menjadi poin lebih untuk yang bersangkutan.

Mencari yang setia itu sulit. Ada banyak alasan orang untuk meninggalkan FLP, tetapi tidak dengan mereka yang benar-benar mencintai.

Tentu saja akan semakin sempurna jika ketunakan itu kita iringi dengan keikhlasan karena Allah semata. Menjauhkan diri dari pragmatisme kepentingan hidup.

Kedua, Perspektif Kaderisasi terhadap 4L

Dalam perspektif kaderisasi, kita mengakui 4L adalah masalah serius. Kondisi 4L ini seringkali mengindikasikan gagalnya proses kaderisasi di tingkat cabang dan wilayah.

Gagal mengelola anggota yang baru terekrut, gagal meningkatkan kapasitas anggota di setiap jenjangnya.

Kegagalan proses kaderisasi ini tak jarang berawal dari kondisi struktur kepengurusan yang lemah sehingga tidak mampu menjalankan program kegiatan yang ada dengan target-target terukur.

Selanjutnya, dari mana kita memulai masalah 4L ini dari perspektif kaderisasi?

Dalam perspektif saya, ada beberapa langkah yakni:

1) Mengaktifkan pembinaan di setiap jenjang sesuai dengan aturan Sistem Kaderisasi Forum Lingkar Pena.

2) Melakukan rekrutmen anggota baru untuk menambah SDM.

3) Menyehatkan kepengurusan dengan melakukan upgrading, konsultasi dengan level kepengurusan di atasnya. Jika diperlukan melakukan penggantian pengurus, silakan dilakukan agar kinerja dan program bisa terlaksana.

Di level wilayah, selain BPP, anggota Andal juga memiliki peran untuk membantu pembinaan di tingkat wilayahnya.

Misalnya anggota Andal di Sumatera Barat, maka ia juga memiliki tanggung jawab untuk melakukan pembinaan anggota Madya di wilayahnya.

Secara struktural, kaderisasi wilayah berkoordinasi dengan kaderisasi di tingkat pusat untuk menyelesaikan masalah-masalah kaderisasi di wilayahnya.

Organisasi kita ini unik, tidak membatasi waktu keanggotaan dari anggota-anggotanya. Maka ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi para pengelolanya.

Apakah bisa mengelola anggota yang terus bertambah jumlahnya atau malah jumlah yang banyak itu telah hilang seiring dengan selesainya masa orientasi rekrutmen.

Wallahu ‘alam
Salam Takzim

Nafi’ah al-Ma’rab

*Koordinator Divisi Kaderisasi Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

Share This