Berita

9 Alasan Mengapa Kita Harus Menulis

Menulis merupakan aktivitas merekam informasi dengan menorehkan simbol-simbol aksara pada suatu media guna menyampaikannya kembali. Menurut Wikipedia, menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Jika diingat ke belakang, hal pertama yang diajarkan orang tua saat  usia kita mulai memasuki dunia sekolah adalah memegang pensil-belajar menulis. Tentu saja itu sangat berguna demi kenyamanan kita dalam menghasilkan goresan huruf terbaik. Namun seiring berjalannya waktu, bertambahnya aktivitas, banyak sekali dari kita yang lupa mengapa harus menulis.

Aktivitas menulis seringkali diremehkan banyak orang. Seolah menulis hanyalah kegiatan yang wajib dilakukan oleh pelajar. Lulus dari dunia pendidikan, lantas tidak lagi memiliki alasan menulis. Padahal kita semua tahu, kegiatan yang tidak lagi dilakukan memiliki kesempatan lebih banyak untuk dilupakan. Alhasil, ketika tangan tidak lagi terbiasa digunakan untuk menulis, otak tidak lagi diasah mengeluarkan hasil pikir, aktivitas menulis akan menjadi pekerjaan yang menyulitkan.

Forum Lingkar Pena merupakan organisasi yang fokus dalam bidang literasi. Tujuan utamanya adalah mencetak dan mengkader generasi penulis yang progresif di kalangan masyarakat. Liputan6.com bahkan memberi julukan “Pabrik Penulis Cerita”. Tak heran, karena penulis yang dihasilkan sampai saat ini berjumlah ribuan dan masih terus bertambah. Belajar menulis berbagai macam tulisan pun menjadi kegiatan utama yang wajib dicantumkan dalam jadwal kegiatan sehari-hari para anggota.

Terlebih lagi di era globalisasi yang menuntut kemampuan soft skill, Forum Lingkar Pena seperti menjawab tantangan zaman. Menulis menjadi kegiatan penting sebagai konsep awal setiap pekerjaan besar dapat terlaksana. Lalu, masihkah kamu bingung dengan alasan menulis? Masihkah pertanyaan “Mengapa harus menulis?” itu bertengger? Kalau begitu, mari simak ulasan berikut.

  1. Menulis Itu Menyenangkan.

Otak adalah organ inti manusia, pusat kontrol segala tindak-tanduk manusia. Jika di otak kita tertanam bahwa menulis adalah aktivitas yang melelahkan, ketahuilah, semua hal yang melelahkan berawal dari asumsi negatif otak. Memang tidak mudah membiasakan diri menuliskan ide-ide. Apalagi untuk penulis yang baru memulai. Namun jika kita telah memiliki satu modal pertama ini saja, kesempatan menulis akan selalu didambakan.

2. Mengabadikan Waktu

Imam Ghozali pernah berkata, “Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah”. Para penulis yang telah lama berkecimpung di dunia literasi pasti tahu salah satu fatwa dari filsuf muslim ini. Dengan jumlah 7,7 miliar manusia di bumi (2020), mustahil dunia tahu bahwa kita pernah hidup di bumi, kecuali jika kita adalah anak orang terkenal. Maka melahirkan karya tulis adalah salah satu cara paling mudah untuk membuktikannya. Ingat kan dengan peribahasa, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”?

3. Mengikat Ingatan dan Pengetahuan

Sebagai kegiatan yang menuntut kita menuangkan ide, menulis bisa juga disebut sebagai cara mengikat ingatan dan pengetahuan. Dilansir dari hellosehat.com, para peneliti mengungkapkan bahwa otak mampu menyimpan sekitar tujuh ingatan jangka pendek sekaligus hanya dalam waktu 20-30 detik. Betapa waktu yang sangat singkat jika ide yang mungkin terlintas dalam pikiran kita, boleh jadi adalah salah satu ide cemerlang yang dapat mengubah tataran dunia saat ini. Kita tidak akan bisa bergaul dengan orang di luar Indonesia jika Mark Zuckerberg tidak mencatat step-step pemutakhiran Facebook. Jangankan berkenalan dengan manusia, umat muslim pun juga tidak akan mengenal ajaran Islam jika ayat-ayat Al-Qur’an tidak pernah dibukukan.

4. Sarana Healing

Kedukaan mendalam seringkali membuat manusia gelap mata. Mengungkapkannya ke orang lain untuk sekadar meringankan beban pun terkadang sulit bagi sejumlah orang. Canggung, khawatir, rendah diri, malu, merupakan sebagian perasaan yang membuat seseorang enggan mengungkapkan duka yang menyesakkan dada. Oleh karena itulah menulis bisa menjadi sarana healing yang tepat.

Data ini akurat. Sudah banyak bukti yang mengesahkan metode menulis sebagai terapi penyembuhan. Sebut saja Bapak Alm. Ir. BJ. Habibie. Duka mendalam yang dirasakan ketika kehilangan sosok sang istri, luruh satu per satu hingga ia mampu bangkit dan meneruskan sisa usia dengan penuh kegemilangan.

5. Menyeimbangkan Fungsi Kinerja Otak

Menulis dengan tangan akan membantu mengasah kemampuan kognitif pada otak. Goresan yang dibuat oleh tangan, mampu melatih sensor motorik seseorang. Dr. Marc Seifer, seorang ahli grafologi dan ahli tulisan tangan bahkan mengatakan bahwa menulis dapat menenangkan otak dan membuat kita lebih fokus.

6. Mengurangi Risiko Alzheimer

Sama seperti organ tubuh lainnya, otak juga berkembang seiring dengan seberapa sering ia digunakan. Ketika otak dilibatkan dalam proses menulis (berpikir), sel-sel neuron dalam otak akan saling tersambung dan hidup sehingga mengurangi risiko kepikunan. Pada usia tua, otak yang kelelahan karena jarang diasah juga dapat mengerut dan kehilangan fungsi mengingat. Penyakit ini dikenal dengan sebutan Demensia atau Alzheimer.

7. Tanda Seseorang Berpendidikan

Dari sekian alasan sebelumnya, alasan ini terlihat memiliki nilai prestius yang tinggi. Jelas saja, seperti yang telah kita bahas di 6 poin sebelumnya, menulis sangat melibatkan proses berpikir pada otak. Seseorang yang tidak terbiasa mengasah otak hanya akan melakukan hal-hal rutin tanpa melibatkan proses berpikir kreatif. Wajar saja jika kegiatan menulis dikaitkan dengan tingkat pendidikan.

8. Bisa Menjadi Sumber Penghasilan

Ini adalah satu alasan yang tidak diketahui banyak orang dan jarang dilirik untuk dijadikan profesi utama. Sebut saja, tulisan biografi yang bisa menghasilkan ratusan juta rupiah dalam sekali pengerjaan buku. Jika saja mereka tau betapa menulis adalah pekerjaan yang sangat menjanjikan, apa iya masih mau memandangnya sebelah mata?

9. Sarana Dakwah

Terakhir dan alasan yang paling penting bagi umat muslim, yaitu dakwah atau bisa juga disebut syiar. Syiar Islam sangat penting dilakukan untuk menjaga keutuhan syariat Islam itu sendiri. Suatu ilmu tidak akan cukup jika hanya disyiarkan melalui ceramah-ceramah langsung di depan publik. Berimplikasi dengan poin nomor 3, bahwa ingatan jangka pendek kita berlangsung sangat singkat. Untuk itulah menulis menjadi tongkat estafet kita dalam berdakwah.

Itulah 9 alasan mengapa kita harus menulis. Adakah salah satu dari 9 alasan di atas yang juga menjadi alasanmu? Jika iya, selamat! Kamu bisa memulai menulis.

Winda Aryan
Resmi menjadi bagian dari FLP Jakarta pada tahun 2013. Sempat vakum di dunia kepenulisan hingga akhir tahun 2019, saat ini ia kembali mengejar ketertinggalan. Antologi cerpen “Perjalanan Luka” menjadi pembuktiannya tahun 2020 ini. Beberapa resensinya pernah menjadi resensi pilihan di lomba resensi yang diadakan Republika. Selain menulis, Winda juga punya hobi memusikalisasikan puisi yang bisa dinikmati di Spotify kanal Podcast Nada Kata. Kunjungi IG @windystone atau FB Winda Ariyanita untuk mengenalnya lebih dekat. Tulisannya juga bisa dikunjungi di blog windystone.wordpress.com.

Related posts

Koordinasi Tim Jarwil di Bandung

admin

Datang ke Munas atau Tidak? Ingin Bukumu Dikaji Secara Akademis Tak?

admin

Di Balik RegOn FLP; Data Valid Organisasi, Siapa Saja yang Bisa Berpartisipasi?

admin

Leave a Comment