Selasa, Januari 13Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Opini

Menonton Film Baik Sebelum Memusyawarahkan Kebaikan

Menonton Film Baik Sebelum Memusyawarahkan Kebaikan

Karya Anggota, Opini
Semacam catatan menyambut penyangan Duka Sedalam Cinta dan Munas FLP ke-4 Hujan renyai ketika mobil kami merangkak meninggalkan Serpong menuju Tebet bakda ashar. Meskipun tiba dua jam lebih lambat dari yang diperkirakan informan Google Maps yang gemar meralat prediksi waktu tempuh saban kemacetan memerangkap kami plus salah jalan yang sempat kami ambil, tapi tetap, Rabu, 18 September 2017, pukul 21.35 itu, kepenasaran atas kelanjutan film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) itu akhirnya siap saya tuntaskan di XXI Kota Kasablanka Mall. Kepenasaran itu sebenarnya lebih mewujud kelegaan, sebab saya yang sudah menungggu-nunggu jadwal penayangan Duka Sedalam Cinta (DSC), demikian sekuel KMGP ini dijuduli, belum juga mendapatkan informasi akurat terkait jadwal tayangnya di XXI, meskipun berbagai aku...
Menghidupkan Ekosistem Perbukuan di Indonesia (Bagian 2-Selesai)

Menghidupkan Ekosistem Perbukuan di Indonesia (Bagian 2-Selesai)

Karya Anggota, Opini, Pojok
Baca juga: Bagian 1 Menghidupkan Ekosistem Perbukuan di Indonesia - Berbagai Permasalahan Dunia Perbukuan Berbagai Usulan Solusi Secara umum, dunia perbukuan di Indonesia memang sedang dipayungi awan tebal. Agar buku tak lenyap dari negeri ini, para pelaku perbukuan harus segera mengambil langkah-langkah sebagai berikut. Pertama, langkah dari pemerintah. Saat masih menjabat sebagai Mendikbud, Anies Baswedan menggencarkan ekosistem perbukuan sekolah. Buku-buku harus masuk ke sekolah sehingga terjadi interaksi yang baik antara siswa dengan pelaku perbukuan. Sejumlah aturan diterbitkan, misalnya Permendikbud No 23 Tahun 2015 yang mengatur tentang kegiatan sehari-hari di sekolah yang harus diterapkan, di antaranya membaca buku non-pelajaran 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai, disusul de...
Menghidupkan Ekosistem Perbukuan di Indonesia (Bagian 1)

Menghidupkan Ekosistem Perbukuan di Indonesia (Bagian 1)

Karya Anggota, Opini, Pojok
"Buku adalah jendela dunia," kata Bung Hatta. "Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas." Kamis 11/8 lalu, bertempat Hotel Megaland Solo, sejumlah penerbit anggota Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) se-Jawa Tengah menyelenggarakan Musyawarah Daerah (Musda) Ke-8. Ir. H. Tomy Utomo Putro, MM (Intan Pariwara) yang sebelumnya menjabat sebagai ketua DPD Ikapi Jateng, terpilih sebagai ketua masa bakti 2016-2020, menggantikan ketua sebelumnya, H. Siswanto (Tiga Serangkai). Selamat bertugas, Pak Tomy! Tentu tak ringan menjadi ketua Ikapi di masa-masa suram dunia perbukuan dan literasi seperti saat ini. Tapi saya yakin, dengan semangat membangun ekosistem dunia perbukuan yang kuat dan berakar, berbagai masalah yang mendera akan terselesaikan. Berbagai Permasalahan Dun...
Brexit dan Tantangan Multikulturalisme di Britania Raya

Brexit dan Tantangan Multikulturalisme di Britania Raya

Karya Anggota, Opini, Pilihan Editor
Pada Jumat, 24 Juni 2016, hasil referendum masyarakat di Britania Raya dan Irlandia Utara tentang keanggotaan di Uni Eropa resmi diumumkan. Hasilnya, kubu Brexit memenangkan referendum dengan meraup 51.9% suara. Ini berarti, Britania Raya dan Irandia Utara menjadi negara pertama yang secara resmi akan keluar dari Uni Eropa. Perubahan ini tentu membawa banyak tantangan, salah satunya tentang masa depan multikulturalisme di Britania Raya. Britania Raya dan Irlandia Utara yang terdiri dari Inggris, Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara memang memiliki pasang-surut dalam hubungannya dengan Uni Eropa. Perdebatan mengenai keluarnya Britania Raya dan Irlandia Utara dari Uni Eropa sebenarnya telah muncul sejak tahun 1973. Pada tahun 1975, dilaksanakan referendum untuk menentukan apakah Britania Ray...
5 Karakter di Jantung Sastra Santun

5 Karakter di Jantung Sastra Santun

Karya Anggota, Opini, Senandika
Menurut kamus, santun berarti halus dan baik budi bahasanya, tingkah lakunya. Santun juga bisa berarti sopan, sabar dan tenang, menaruh rasa belas kasihan, dan suka menolong. Santun tidak berarti kaku dan dogmatis. Terkadang, seseorang semaunya menggunakan dalil agama, tanpa mengindahkan kehalusan, kebaikan, kesabaran, dan ketenangan. Meskipun demikian, sastra santun juga tidak boleh hanya berbekal kehalusan budi bahasa sembari meninggalkan rekam jejak yang kurang baik bagi pembaca. T.S Elliot dalam Lathief (2008) mengatakan, bahwa ukuran karya sastra harus dilihat dari aspek etika dan agama. Bila ada gagasan atau semacam kesepakatan dalam suatu masyarakat tentang etika keagamaan, maka karya sastra haruslah ‘baik’ sesuai dengan etika keagamaan itu. Sumber etika maupun budaya adalah agama....
Apakah Barat Anti-Islam? (Bagian 2-habis)

Apakah Barat Anti-Islam? (Bagian 2-habis)

Karya Anggota, Opini, Pilihan Editor
Apakah Barat anti-Islam? Jika konsep 'Barat' itu kita letakkan minimal pada warga yang tinggal di tiga benua tersebut--Amerika, Eropa, dan Australia--maka secara general orang-orang yang tinggal di sana apapun latar belakangnya adalah barat. Dan, jika kita berpatokan pada asumsi bahwa Barat membenci Islam atau saat ini terjadi konflik antara Barat dan Islam, maka semua yang jadi warga di tiga benua itu dianggap berperang atau membenci Islam. Padahal, di tiga benua itu orang Islam-nya juga ada, bahkan terus meningkat. Tambahan lagi, walau tidak beragama Islam, di tiga benua itu juga banyak dari mereka yang bersimpati kepada Islam, bahkan menjadi pembela Islam dan mengkampanyekan pentingnya perdamaian. Danielle Loduce, dalam tulisannya Living Islam in the West: Is it Easy?, menulis, "Not onl...
Apakah Barat anti-Islam? (Bagian 1)

Apakah Barat anti-Islam? (Bagian 1)

Karya Anggota, Opini, Pilihan Editor
Walau sudah lebih dari dua dekade, pengaruh teori 'clash of civilizations' masih terasa sampai sekarang. Pertarungan antara kekuatan Barat dan Islam menjadi tema yang dikaji oleh banyak sarjana tidak hanya Islam tapi juga non-Muslim yang tertarik dalam kajian Islam. Efek paling jelas nyata dari 'kebenaran' benturan antar peradaban itu terlihat dari konflik-konflik anti-Barat yang dilancarkan tidak hanya di Timur Tengah, tapi juga di Eropa, Amerika, bahkan di Asia Tenggara. Fakta meningkatnya gerakan anti-Barat seperti yang terlihat dari kemunculan Taliban di Afghanistan, serangan gerakan Al Qaeda terhadap pos-pos penting Amerika Serikat--seperti yang paling besar di menara kembar WTC--yang disusul juga bom beruntun yang terjadi di Bali, telah semakin menguatkan stigmatisasi akan 'buruknya'...
Berita Buruk Waktu Menulis

Berita Buruk Waktu Menulis

Karya Anggota, Opini, Pilihan Editor, Pojok
 “Apakah kamu sedang bingung menentukan kapan waktu yang tepat untuk mulai menulis? Jika iya, maka saya punya berita baik, dan juga berita buruk. Berita baiknya adalah, kamu takkan pernah punya waktu lebih (untuk menulis) melebihi waktumu yang telah ada setiap hari. Kemudian, berita buruknya adalah sama dengan apa yang tadi saya sebutkan. Itu sekaligus berita buruk!” Kurang lebih begitu, kata Moira Allen, dalam tulisan dia berjudul Finding Time to Write di laman yang dia kelola, Writing World. Masalah waktu menulis, kata dia lagi, tidak akan pernah bisa ditemukan. Tapi, hanya bisa dibuat. Ya, dibuat, bukan ditemukan. Jika kamu memutuskan untuk mengulur-ulur waktu menulis sampai nanti dapat waktu kosong, saat berada di pegunungan, sawah, atau pinggir pantai yang tenang, yakinlah kamu tak a...
Catatan Dari AKI 2015

Catatan Dari AKI 2015

Opini, Pilihan Editor
Suasana Ruang Sumardjo, Hotel Sunan, malam itu, Senin 12 Oktober 2015, terasa meriah. Ratusan insan yang bergelut di dunia komunikasi memadati ruangan. Mulai dari menteri beserta segenap jajaran Kemenkominfo, para ahli komunikasi, anggota ISKI (Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia), awak media, hingga para peraih Anugerah Komunikasi Indonesia (AKI) 2015, berkumpul di hotel yang berlokasi di Kota Surakarta tersebut. Kami, dari rombongan Forum Lingkar Pena (FLP), dipersilahkan untuk menduduki kursi depan, mengitari sebuah meja bulat berisi beraneka ragam hidangan. Memang setting ruangan saat itu dibuat santai, dengan meja-meja bertaplak putih yang masing-masing dikelilingi sekitar delapan kursi. Rombongan FLP saat itu terdiri dari Maimon Herawati (Pendiri FLP, Anggota Majelis Pertimbangan FLP...
Menyikapi Konspirasi

Menyikapi Konspirasi

Opini
Sejak zaman pelayaran samudera yang dilakukan Portugis dan Spanyol untuk mencari rempah-rempah ke timur dengan membawa misi 3 G (gold, gospel, dan glory), tema konspirasi tidak pernah mati. Apalagi belakangan ditambah dengan pengakuan para tokoh yang terlibat dalam konspirasi—seperti John Perkins dalam bukunya Confessions of an Economic Hit Man (2004)—membuktikan bahwa konspirasi dalam bentuk kolonisasi ekonomi di negara-negara dunia ketiga memang ada. Tidak terlihat, tapi ada. Dalam konteks kasus Tolikara yang terjadi pada Idul Fitri 1436 Hijriyah yang lalu, aroma konspirasi juga kabarnya ada. Sebelum terjadi penyerangan kepada umat Islam yang akan menunaikan salat Idul Fitri, telah ada selebaran dari GIDI yang melarang umat Islam ‘membuka lebaran’ (salat Idul Fitri) di Kabupaten Tolikara...

Pin It on Pinterest