FLP dan Pembebasan Masjidil Aqsha
Di sebuah sudut ruang baca sederhana, suara kertas yang dibalik perlahan terasa seperti detak kecil perlawanan. Di tempat semacam inilah, banyak anggota Forum Lingkar Pena (FLP) memulai langkah sunyi mereka, menulis tentang Palestina, tentang luka yang jauh namun terasa dekat, tentang Masjidil Aqsha yang selalu hidup dalam imajinasi dan doa.
Tidak ada dentuman bom di ruangan itu. Tidak ada bau mesiu atau sirene yang menghantui. Namun setiap paragraf yang lahir adalah pantulan dari sebuah tragedi yang terus berlangsung, sekaligus harapan yang tidak pernah padam. “Kami mungkin tidak berada di garis depan, tetapi kata-kata kami adalah bagian dari barisan itu,” kata salah seorang anggota FLP, yang tidak pernah bosan menulis tentang al-Aqsha. Kalimatnya lirih, tapi mengandung nyala.
Seja...

