Senin, Agustus 15Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Tag: Chairil Anwar

Religiositas Terpecah Chairil Anwar (Bagian 2 – Selesai)

Religiositas Terpecah Chairil Anwar (Bagian 2 – Selesai)

Majelis Puisi
DOA kepada pemeluk teguh Tuhanku/Dalam termangu/ Aku masih menyebut namamu //Biar susah sungguh/mengingat Kau penuh seluruh// cayaMu panas suci/tinggal kerdip lilin di kelam sunyi //Tuhanku //aku hilang bentuk/remuk//Tuhanku//aku mengembara di negeri asing // Tuhanku /di pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling. 13 November 1943 Puisi tersebut adalah ikon dari religiusitas kepenyairan Chairil Anwar. Puisi “aman” yang membuat Chairil populer sebagai salah satu penyair religius. Pola ucapnya adalah pola ucap sufistis yang mengajak pembaca untuk melebur pada ke-Mahabesaran Tuhan. Bagusnya lagi ia mengungkapkan sebuah proses berat keberserahan kepada Tuhan /biar susah sungguh/ mengingat Kau penuh seluruh/ sebuah prose yang dialami oleh manusia pada umumnya. Namun, ia juga mengungkapka...
Religiositas Terpecah Chairil Anwar (Bagian 1)

Religiositas Terpecah Chairil Anwar (Bagian 1)

Majelis Puisi
Chairil Anwar adalah mitos dalam ranah kesusastraan Indonesia. Sejak kelahirannya sampai detik ini, ia masih tetap dirayakan dan bahkan (kadang) perayaan-perayaan tersebut bersipat repetisi. Puisi-puisinya, bait-bait puisinya, dan bahkan larik-larik puisi, bahkan frasa-frasa dari puisi-puisinya adalah semacam mantra yang diucapulang, direproduksi dalam berbagai teks penulis-penulis generasi setelahnya. Banyak sudah yang menganalisis Chairil sebagai teks kebudayaan dan mencari penyebab kenapa ia begitu legendaris. Ada yang menyebutkan karena ia berhasil mendobrak pola estetika sastra yang ada. Ada yang menyebutkan karena ia begitu independen, antipolitik, dan mendobrak pemikiran kebudayaan saat itu dengan pemikiran eksistensialisme Nietszian. Ada yang menyebutkan ia adalah sebagai seorang ...
Penulis Sadar Estetika

Penulis Sadar Estetika

Pojok
Tidak ada penulis besar yang abai pada estetika. Muhammad Yamin besar karena memperkenalkan puisi bentuk kuatren pada dunia sastra Indonesia. Di samping itu, tema yang diusung adalah kebangsaan. Saat itu, pandangan orang terhadap puisi masih syair dan berbentuk naratif. Takberapa lama, Amir Hamzah besar karena ia memperkenalkan puisi lirik kepada dunia sastra Indonesia. Bahkan, ia membuat enjambemen bebas, tidak terikat, seperti puisi-puisinya Yamin. Keduanya menganut aliran romantisme, seperti halnya para pengarang prosa Balai Pustaka. Chairil Anwar besar karena memperkenalkan gaya penulisan ekspresionisme. Secara tematik, ia memperkenalkan vitalisme yang jadi tonggak alam pikiran modernis dalam sejarah intelektualisme di Indonesia. Taufik Ismail terkenal karena kembali memopulerkan t...

Pin It on Pinterest