JAKARTA—Helvy Tiana Rosa tak menduga bukunya Gaza: Suatu Malam di Jakarta meraih penghargaan Book of the Year dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Kamis (30/9/2026). Diumumkan saat pembukaan Indonesia International Book Fair 2026 di Jakarta, ia hanya sangat bersyukur dan terharu buku yang lahir dari kegelisahan sangat panjang terhadap Palestina dan kemanusiaan memperoleh ruang lebih luas untuk didengar.
Namun, memang, ia menulis bukan untuk mencari penghargaan. “Ketika menulis, perhatian utama saya justru selalu pada karya itu sendiri: apakah ia cukup jujur, cukup kuat secara sastra, dan cukup mampu membawa pembaca memasuki kehidupan manusia lain,” ujarnya Jumat malam (2/10/2026) melalui pesan WhatsApp.
Meraih penghargaan tentu membahagiakan. Namun, Helvy lebih bahagia ketika penghargaan itu membuat orang yang belum membaca jadi ingin membacanya, kemudian memikirkan kembali yang tengah terjadi di Gaza dan Palestina.
“Sastra, bagi saya, memang tidak bisa menghentikan bom. Sebuah cerpen tidak bisa menghadang tank. Tetapi sastra dapat menjaga sesuatu yang juga sangat penting: ingatan dan nurani manusia,” ucap sastrawan yang telah lebih 40 tahun berkarya.
Helvy tak tahu alasan dewan juri IKAPI memilih buku itu sebagai Book of the Year. Ia menduga salah satu kekuatan buku itu penyebabnya, yaitu mempertemukan persoalan kemanusiaan yang sangat aktual dengan ikhtiar sastra yang dilakukannya cukup lama. Di buku itu, jelas Helvy, Palestina tidak diletakkan sebagai berita atau slogan semata. Ia menghadirkan pengalaman manusia.
“Ada kehilangan, ketakutan, cinta, keluarga, anak-anak, harapan, juga kehidupan sehari-hari yang terus berusaha berlangsung di tengah kekerasan. Saya tidak ingin pembaca hanya mengetahui angka korban,” ucapnya. “Angka sangat penting, tetapi sastra berusaha mengembalikan nama, wajah, rumah, kenangan, dan mimpi kepada manusia yang sering kali berubah menjadi statistik dalam pemberitaan.”
Kelebihan lain yang juga penting dari buku ini, lanjut Helvy, yaitu Palestina tak selalu dihadirkan secara geografis di Palestina. Ada hubungan Gaza dan Jakarta, antara tragedi ribuan kilometer di sana dengan kehidupan manusia Indonesia di sini. Sastra, oleh buku itu, menghapus jarak Palestina-Indonesia. Buku itu menjadi katalis yang membuat pembaca merasakan penderitaan seseorang yang sangat jauh jadi terasa dekat dan personal.

Jika Bukunya Difilmkan
Bagi Helvy, penghargaan bukan titik akhir sebuah buku. Ia justru pintu masuk baru bagi sebuah karya. Helvy ingin menjangkau pembaca lebih luas, terutama generasi muda. Caranya sangat terbuka seperti penerjemahan ke berbagai bahasa, diskusi buku di kampus dan sekolah, pembacaan karya, pertunjukan, audiobook, hingga alih wahana ke film atau bentuk audiovisual lainnya.
“Saya sangat terbuka terhadap kemungkinan film. Film mempunyai kekuatan jangkauan yang berbeda dari buku. Orang yang mungkin tidak membaca kumpulan cerpen bisa bersentuhan dengan gagasan yang sama melalui layar,” ungkapnya.
Jika buku itu difilmkan, Helvy beri syarat: ruh buku tak boleh hilang. Ia tak ingin film malah menjadikan penderitaan Palestina sebagai tontonan emosional semata. Nilai kemanusiaannya harus dijaga. Jangan sampai tragedi berubah menjadi komoditas dramatik.
“Saya ingin penonton keluar dari bioskop bukan hanya dengan mata basah, tetapi dengan pertanyaan di kepala dan sesuatu yang bergerak di dalam nuraninya,” katanya.

Rahasia Produktif
Helvy telah menulis lebih dari 80 buku novel, kumpulan cerpen, antologi puisi, naskah drama, dan esai sastra. Beberapa bulan ini, karyanya semakin deras terbit. Baginya, produktivitas adalah akumulasi dari kebiasaan yang sangat panjang.
Helvy mengaku tidak menunggu inspirasi. Sebab, baginya, disiplin jauh lebih penting. Ia membaca dan mencatat hampir setiap hari serta menjaga hubungan dekat dengan bahasa.
“Banyak gagasan saya simpan bertahun-tahun sebelum menjadi karya. Ada yang kemudian menjadi puisi, ada yang tumbuh menjadi cerpen, novel, esai, atau buku nonfiksi,” ungkapnya.
Helvy pun terbiasa mengerjakan beberapa proyek dalam waktu berdekatan. Masing-masing memiliki ruang mentas tersendiri. Saat menulis puisi, caranya memandang kata berbeda saat menulis cerpen. Waktu menulis nonfiksi, disiplin faktanya juga berbeda. Dari semua itu, kesamaannya adalah kesungguhan terhadap bahasa dan pembaca.
Helvy percaya penulis harus memiliki stamina membaca yang tinggi. Harus jauh lebih besar daripada stamina menulisnya. Logikanya, tak mungkin terus-menerus mengeluarkan sesuatu jika tak memasukkan sesuatu terus menerus ke dalam diri seperti buku, pengalaman, percakapan, penelitian, perjalanan, dan pengamatan terhadap manusia dan kehidupan.
Menurut Helvy, buku perlu dikenalkan, dibicarakan, dan didiskusikan. Media sosial dapat dimanfaatkan untuk itu. Namun jangan sampai penulis sibuk bangun citra daripada berkarya. Ia pun percaya cara terbaik agar buku berumur panjang adalah menulis sesuatu yang memang layak dibaca ulang.
Helvy memberi bocoran tentang buku yang akan terbit sebentar lagi. Judulnya Sebelum Tepukan Berhenti. Buku ini berisi 26 cerpen yang semuanya mengangkat Aceh sejak tahun 1.600 hingga sekarang.

Sastra Masih Penting
Helvy yakin sastra masih penting di tengah dunia yang semakin bising. Derasnya peristiwa dan informasi justru membuat manusia semakin kehilangan kemampuan untuk merasa. “Hari ini kita menangis melihat sebuah video. Beberapa detik kemudian kita menggulir layar dan tertawa melihat video lain,” ucapnya.
Menurut Helvy, urgensi sastra dalam konteks Palestina menemukan tempatnya. Tragedi terbesar yang meluluhlantakkan Palestina hingga kini, kata Helvy, bukan hanya saat manusia terbunuh, melainkan juga saat kematian mereka dianggap biasa.
“Selama masih ada ketidakadilan yang perlu disaksikan, manusia yang ceritanya perlu didengar, dan kehidupan yang perlu dipertahankan dalam ingatan, sastra masih mempunyai pekerjaan,” tegasnya. “Dan selama itu pula, penulis belum boleh merasa selesai.”* (Billy Antoro)
