Membangun Jejak Kepenulisan; Oleh-oleh dari Yogyakarta (1/2)

2 menit baca |

Oleh FAIDA ZUHRIA, FLP.or.id – Forum Lingkar Pena bukanlah nama yang asing sejak masaku di bangku SMA, tahun 2000 waktu itu. Mengenal dan membaca berbagai bukunya, bahkan mulai dari sanalah hijrahku dimulai dengan berhijab. Banyak cerita yang bisa diambil hikmahnya, yang memberikan wacana lebih luas tentang agama, tanpa menggurui, tanpa menghakimi, namun cukup mampu mengambil hati.

Membaca memang menjadi rutinitas sejak SD, bahkan tidak terlewat satu hari pun tanpa membaca. Hingga SMA, membaca karya sastra, novel, cerpen, dan sebagainya masih rutin dilakukan. Pada masa SMA pun mulai menulis dan sempat masuk dalam majalah sekolah. Akan tetapi, keinginan menjadi penulis masih belum begitu kuat karena kesibukan belajar. Aktivitas yang rutin adalah membaca.

Masa kuliah yang masuk tahun 2003 masih sempat membaca beberapa buku cerita, akan tetapi mulai tenggelam dengan banyaknya materi kuliah yang harus dibaca. Masa membaca yang sempat hilang selama beberapa tahun, terlebih saat lulus dan mulai bekerja. Rasa-rasanya hanya membaca status yang sempat dilakukan, dan kembali pada rutinitas pekerjaan.

Saya mulai menemukan passion menulis pada tahun 2016, mulai mencoret-coret tentang cerita yang mungkin bisa dikembangkan menjadi sebuah bacaan. Alasannya adalah selama perjalanan hidup saya menemukan banyak cerita, menjadi tempat cerita teman, sahabat, maupun keluarga yang dapat menginspirasi. Bahkan pengalaman pribadi yang mungkin bisa menjadi ibrah untuk pembaca. Tahun 2017 mulai mengikuti berbagai event dan lomba kepenulisan. Sempat malu memang karena saingan adalah usia muda. Akan tetapi, malu adalah penghambat cita-cita, jadi jalan saja. Tahun 2017 pun sempat ingin menjadi anggota Forum Lingkar Pena wilayah Yogyakarta, namun mengetahui informasinya pada saat tahapan wawancara.

Tahun 2018 ini Allah mengizinkan untuk saya mencoba bergabung menjadi anggota FLP Yogyakarta. Informasi open recruitment yang cukup awal saya terima membuat saya ‘memburu’ kesempatan itu. Banyak hal menarik yang membuat saya sangat kuat ingin bergabung menjadi penulis. Selain kesempatan menulis yang disana banyak penulis hebat yang saya kenal, nilai tulisannya juga tidak sekedar hiburan, namun juga nilai dakwah dan hikmah. Hal inilah yang membuat saya merasa bahwa saya dengan FLP sefrekuensi.

Informasi awal yang saya terima pun menjadi langkah saya untuk segera memenuhi syarat berjuang ke arah sana. Saya tidak perlu menunggu pengumpulan berkas sesuai jadwal. Mba Rias, narahubung sangat kooperatif untuk menerima berkas saya lebih awal, formulir, esai, dan cerpen.

Seleksi pertama lolos dan diikuti wawancara. Seleksi ini bukanlah penentu diterima sebagai anggota FLP. Kami yang lolos seleksi pertama diharuskan mengikuti Reading and Writing Class selama 4 kali pertemuan selama 1 bulanĀ  setiap hari ahad, mulai pukul 08.00 – 12.00 WIB. Masa ini adalah masa yang menurut saya langkah awal menjadi seorang penulis yang baik. Tugas dan materi mulai diterima dan dipraktikkan selama masa Reading and Writing Class. Masa inilah yang menentukan lolosnya seleksi tahap 2 yang merupakan diterima atau tidaknya sebagai anggota FLP.

Lolos! Sebanyak 62 peserta dari 165 pendaftar termasuk saya lolos Seleksi Tahap 2. Ini adalah langkah awal menjadi penulis Forum Lingkar Pena. Diawali dengan kegiatan PDKT dan Empatik yang diselenggarakan pada 31 Maret – 1 April 2018, materi kepenulisan tidak lepas dari kegiatan kami. Bahkan tugas praktik selalu harus tuntas dikerjakan selepas menerima materi.

Bersambung

Post Author: admin

Admin adalah administrator laman FLP.OR.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *