Kamis, Januari 1Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Kiat Menulis Catatan Perjalanan ala Wiwiek Sulistyowati

Menurut Wikipedia dan buku Travel Writing dari Lonely Planet, travel writing adalah satu genre dalam penulisan yang berfokus pada tempat, baik imajiner maupun riil. Genre ini mencakup banyak hal. Dari tulisan dokumenter hingga yang menggugah. Dari studi literatur hingga jurnalistik. Dari yang penuh humor hingga tulisan serius.

Jenis tulisan satu ini berhubungan erat dengan turisme. Termasuk karya-karya seperti ulasan dan buku panduan, yang bertujuan mengedukasi pembaca tentang destinasi, memberikan beberapa tips tentang tempat-tempat tujuan, dan menginspirasi orang untuk mengunjunginya. Tulisan yang baik akan memberi gambaran jelas kepada pembaca tentang suatu tempat dengan cara yang bermanfaat dan menghibur.

Penulisan traveling yang bagus berawal dari:

1. Persiapan yang Matang
Melakukan riset tentang lokasi atau tempat wisata yang kita tuju. Mulai dari jenis transportasi yang digunakan (bus, kereta, kapal laut, pesawat), lama perjalanan, fasilitas yang ada di lokasi, dan lain-lain. Selain untuk membuat itinerari, riset juga berfungsi sebagai pelengkap data ketika kita menulis.

Riset = 50% pekerjaan penulisan.
Buatlah itinerari yang jelas, berhubungan dengan waktu, dana dan efektivitas

2. Peralatan Pendukung
Kamera, notes, dan alat perekam merupakan peralatan pendukung yang kita perlukan. Ingatlah bahwa yang kita tulis adalah fakta yang tentunya membutuhkan data dan bukti.

3. Liputan yang Fokus
Tulisan yang fokus dan mendalam lebih baik daripada banyak tetapi melebar. Pembaca ingin tulisan yang seakan-akan membawa mereka ke lokasi yang dibaca.

 

Lima Senjata untuk Memikat Pembaca

1. Unik, Baru, dan Berbeda

Contoh

      • Menulis tentang pembuatan sarung keris di Yogyakarta
      • Menulis proses pengembangbiakan penyu hijau di Ujung Genteng

2. Membuat Opening yang Menarik

Contoh:

Konon pada abad ke-15, Pulau Jawa pernah mengambang di lautan luas, dipermainkan ombak ke sana-kemari. Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa.
Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa dan menggendong gunung itu di punggungnya. Sementara itu, Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.
Dewa-dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Akan tetapi, berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau. Bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru.
Tiba di Stasiun Pasar Turi Surabaya pukul 06.30 WIB, saya dan rombongan bergegas melanjutkan perjalanan menuju Malang. Beberapa mobil carteran telah menunggu kami di depan stasiun. Setibanya di Malang, kami berganti kendaraan menuju Pasar Tumpang. Di sini para pendaki bisa membeli perlengkapan logistik seperti beras, sayuran, atau kebutuhan lainnya. Perjalanan dilanjutkan menuju Desa Ranupane (2.100 m) yang merupakan desa terakhir dan tempat pemeriksaan serta pos untuk melapor bagi para pendaki.
Menggapai Atap Pulau Jawa (Mahameru 3,676 mdpl) dimuat di majalah Annida tahun 2008

3. Menceritakan Joy atau Kegembiraan saat Traveling

Contoh:

Mendadak jukung kami oleng. Sekilas terlihat benda hitam muncul di permukaan laut.
“Lumba-lumba!” spontan saya berteriak kegirangan. Canon 1000d, yang sedari tadi tersimpan dalam tas, langsung beraksi. Memakai mode continuous, saya langsung membidik mamalia yang hidup berkelompok ini. Cukup sulit mendapat foto lumba-lumba secara utuh. Mereka hanya muncul sesaat untuk menghirup udara ke permukaan laut dan kembali menyelam.
“Sebelah kiri!” kamera langsung saya arahkan ke tempat yang ditunjuk oleh seorang teman.
(Berburu Lumba-Lumba di Teluk Kiluan)

4. Kaya akan Detail, Akurasi, dan Deskripsi

Tulisan traveling itu BUKAN FIKSI. Jangan mengarang dan salah menulis data, terutama nama orang, gelar, dan lain-lain.

Contoh:
Pada prinsipnya, makin besar, makin besar, makin berkilau, dan makin mulus permukaan mutiara, makin tinggi pula nilainya. Kemarin, waktu di showroom Atlas, sebuah kalung yang terdiri dari untaian 33 butir mutiara berukuran 12-15 mm dijual seharga 46.800 dolar. Ini saja sudah didiskon dari harga semula 52.000 dolar. Berapa ya, kira-kira harganya kalau ukuran mutiaranya 20 mm semua?
Ketika kembali ke kafe, saya disambut Dr. Joseph Taylor, pakar mutiara kelas dunia yang dimiliki Atlas. Meski kedudukannya di perusahaan induk atlas di Australia sudah tinggi, sebagai managing director, ia masih telaten terjun langsung ke peternakan mutiara untuk mengontrol kualitas produk. (Pearls of Gods/Teguh Sudarisman)

5. Suspense, Surprise!!

Ini berawal dari curiosity, keikutsertaan intens si penulis dalam liputannya.

Contoh:
“Beberapa bulan lau, Laboca pernah mendaki Gunung Sindoro memakai sepeda, sukses sampai ke puncak. Beritanya masuk Koran dan televisi,” kata Umar, teman yang mengantar saya dan Arif ke Temanggung ini untuk meliput panen tembakau. Laboca adalah klub bersepeda yang Umar ketuai, di Borobudur, Kabupaten Magelang.
Saya tersentak. Mendaki gunung setinggi 3.138 meter dengan bersepeda, bagaimana caranya? Dikayuh dari bawah sampai ke puncak?
“Oh tidak,” Umar tertawa.
“Waktu mendaki ya sepedanya dipanggul. Baru saat turun, sepeda dinaiki.”
Wah, orang “gila” mana yang mau melakukan seperti itu?
(Surviving Sindoro/Teguh Sudarisman)

 

Sebelum mengirimkan naskah, perhatikan:

1. Mengedit
Jangan biarkan tulisan kita penuh kesalahan tanda baca, EYD, dan tata bahasa. Pastikan untuk memeriksa data.

2. Tentukan audiens/target pembaca
Apakah untuk majalah wisata, surat kabar, atau situs perjalanan online. Majalah biasanya menuntut yang lebih sempurna/sophisticated. Sementara Koran mencari trik perjalanan gaya backpacker. Pelajari gaya media tersebut.

Jadi, tunggu apalagi? Ayo menulis sehingga perjalananmu akan menjadi lebih bermakna dan bermanfaat. Dengan menulis cerita perjalanan, perjalananmu menjadi abadi dan tak terlupakan.

 

Ditulis oleh:
Wiwiek Sulistyowati
Ketua Harian II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

Share This