FLP Yogyakarta: Wilayah Kedua yang Tetap Istimewa

2 menit baca |

Senin, 4 Desember 2017. Terik matahari selepas Dzuhur di langit Yogyakarta terus memayungi perjalanan saya dari stasiun Lempunyangan ke bilangan Gedong Kuning. Dengan Uber Car, saya meluncur ke Rumah BaCa yang beralamat di Jl. Gedong Kuning No 102, Rejowinangun – Kotagede. Sebelumnya sudah membuat janji dengan mbak Maruti selaku Ketua FLP wilayah Yogyakarta untuk bisa berjumpa pengurus FLP wilayah Yogyakarta pada siang ini.

Rumah BaCa adalah perpustakaan anak-anak yang dirintis oleh mas Ganjar Widhiyoga. Mantan Ketua FLP wilayah Yogyakarta yang kini mendapat amanah sebagai Sekjend BPP FLP ini, sepulang dari studi doktoralnya di Inggris, mulai kembali menggeluti dunia literasi masyarakat. Rumah BaCa inilah salah satu usahanya yang baru berjalan tiga bulan, dan kini menjadi alternatif tempat berkumpul teman-teman FLP Yogyakarta. Siang ini, saya menikmati obrolan hangat bersama tiga pengurus FLP wilayah Yogyakarta; yaitu Maruti Asmaul Husna Subagio (Ketua), Rezha Aditya Maulana Budiman (Koordinator Sub-Divisi Kaderisasi) dan Rosna Hermawan (Staff Humas).

Baik. Kembali pada pengenalan FLP Yogyakarta yang menjadi inti kunjungan Jarwil kali ini. Sebagaimana Yogyakarta adalah Daerah Istimewa, maka FLP di Yogyakarta juga tak kalah istimewanya. Inilah wilayah kedua yang berdiri 28 Agustus 2000 setelah Bontang – Kalimantan Timur, yang hingga kini tak pernah vakum. Namun uniknya, karena inti anggotanya adalah mahasiswa dan pusat kegiatannya di kampus, maka FLP wilayah Yogyakarta hingga kini belum ada cabang yang efektif berjalan. Cabang-cabang seperti Bantul, Sleman dan Kota Yogyakarta yang dahulu telah dirintis di masa mas Solli Dwi Murtyas tahun 2013, kini belum digerakkan kembali. Menariknya, sepertiga dari anggota adalah pengurus wilayah. Sehingga total pengurus wilayah mencapai 26 orang, dan itulah anggota aktif. Artinya, FLP wilayah Yogyakarta memenej anggota aktifnya dengan langsung memberdayakan dalam kepengurusan.

Kepengurusan Maruti yang baru berjalan sejak Mei 2017 ini, memiliki struktur kepengurusan yang mewarisi kepengurusan sebelum-sebelumnya. Ada dua Divisi, yaitu Divisi Karya dan Divisi HRD. Divisi Karya membawahi Sub-Divisi Redaksi dan Sub-Divisi MMC (Multi Media Center). Divisi HRD membawahi Bidang Kaderisasi dan Bidang CWC (Creative Writing Centre). 

Ada satu produk layanan yang disajikan oleh FLP Yogyakarta, yang sudah berjalan 9 tahun terakhir. Namanya SMC (Sanggar Menulis Cahaya), yaitu pelatihan menulis untuk tingkat Sekolah Dasar hasil kerjasama dengan Perpustakaan Kota. Program ini menjalankan kelas tingkat Basic dan tingkat Intermediate. Pada tingkat Basic targetnya buku antologi. Sementara pada tingkat Intermediate targetnya 1 anak 1 buku. Pesertanya setiap angkatan dua kelas, yang setiap kelasnya 20 siswa. Mereka adalah siswa kelas 4 -hendak naik kelas 5- dan kelas 5 -hendak naik kelas 6-. Selama ini, 80% dari seluruh peserta tersebut dapat bertahan hingga akhir semester dengan pertemuan sekali setiap pekan. Selain SMC, ada juga produk layanan yang bernama JSC (Junior Smart Camp). Ini adalah produk layanan untuk mengisi liburan sekolah. Selamat untuk FLP wilayah Yogyakarta, semoga produk-produk serupa dapat disiapkan oleh Divisi Bisnis BPP untuk bisa dijalankan oleh wilayah-wilayah lainnya. Sehingga FLP wilayah lainnya memiliki kas masuk rutin sebagaimana FLP wilayah Yogyakarta.

 

Yogyakarta, 4 Desember 2017

Irfan Azizi
Koordinator Divisi Jarwil BPP

Post Author: Irfan Azizi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *