FLP Sumatra Barat: Akar Sejarah dan Kekayaan SDM-nya

2 menit baca |

Ahad, 25 Februari 2018. Ranah Minang adalah bumi literasi. Sejak zaman dahulu tanah swarnadwipa ini telah lahirkan segudang maestro sastra dan beragam pahlawan bangsa. Mulai Bung Hatta sampai Buya Hamka, lahir dan tumbuh di negeri yang memegang teguh “Adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah”. Bung Hatta adalah proklamator yang menikah dengan mahar sebuah buku goresan penanya berjudul “Alam Pikiran Junani”. Sedangkan Buya Hamka adalah ulama penulis “Tafsir Al Azhar” cum sastrawan pengarang “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”. Maka, sungguh datang ke propinsi yang populer dengan legenda Malin Kundang ini, gelora berkarya pun kan terpantik kembali.

Kali ini, saya datang ke tanah minang ini dalam rangka menghadiri Musyawarah Wilayah ke-8 FLP Sumatera Barat, mewakili Ketua Umum FLP Afifah Afra. Bila menilik sejarah, maka aktivitas literasi FLP di ranah minang sesungguhnya telah dimulai sejak 5 November 2000. Itu artinya, FLP Sumatra Barat termasuk wilayah yang dirintis di masa awal perjalanan sejarah organisasi ini. Dan memang, salah satu pendiri Forum Lingkar Pena, uni Maimon Herawati pun merupakan putri asli Sumatra Barat.

Benih FLP di tanah minang ini mulanya disemai oleh Melvi Yendra, Wince Sindria dan Ramayani Dwiputri. Benih itu kemudian tumbuh hingga menjadi pohon besar yang cabangnya sampai merambah ke berbagai kabupaten dan rantingnya masuk ke hampir seluruh kampus besar di kota Padang. Tetapi kehidupan ini memang punya musim yang silih berganti. Begitupun FLP Sumatra Barat, dalam perjalanannya tak sedikit pengurus yang kemudian menghilang karena pulang kampung atau justru merantau. Hingga akhirnya cabang-cabang yang telah tumbuh kembali mati. Kegiatan penerimaan anggota barupun kemudian kembali ditangani oleh struktur wilayah.

Meski demikian, kondisi ini tentu tak akan dibiarkan begitu saja. Dan Muswil kali inilah momennya. Sejumlah generasi pendahulu FLP Sumbar hadir di Aula Universitas Andalas, tempat Muswil digelar. Ada Azwar Sutan Malaka yang datang jauh-jauh dari Jakarta. Ada juga Ade Efdira yang pernah jadi Ketua wilayah 10 tahun yang lalu. Selain itu tampak pula Fauzul Izmi, Linda Wati, Dewi K. Sutra hingga Elly Delfia. Semua hadir meski dari luar kota Padang, bahkan luar propinsi Sumatra Barat.

Berbagai masukan pun mengisi ruang-ruang diskusi di ajang Muswil ini. Semua berpikir untuk kembali menyuburkan cabang dan ranting di bawah FLP Sumbar. Hingga akhirnya musyawarah wilayah bersepakat mengamanahkan bahtera FLP Sumbar kepada Ade Efdira. Sosok sastrawan muda yang satu dedake sebelumnya (2006-2008) sudah pernah memimpin FLP Sumbar, kini kembali diminta untuk memimpin.

Siapakah Ade Efdira? Dialah pemilik nama pena Ragdi F. Daye yang sudah dikenal di gelanggang sastra nasional. InsyaAllah dengan bekal jaringan yang dimiliki beliau, segenap pengurus FLP wilayah Sumatra Barat nantinya akan bisa merealisasikan rekomendasi Muswil yang di antaranya adalah menghidupkan kembali sekurangnya 5 cabang di Padang, Payakumbuh, Pariaman, Bukittinggi dan Dharmasraya. Tak lupa juga fokus pada produktivitas anggota dalam menghasilkan karya bermutu. Selain itu, didukung oleh Gubernur Sumatra Barat serta Walikota Padang yang peduli dunia literasi berkeadaban, FLP Sumbar semakin optimis menjadikan kota Padang sebagai tuan rumah Musyawarah Nasional FLP V tahun 2021.

 

Medan, 27 Februari 2018

Anugrah Roby Syahputra
PJ Teritori Sumatra – Divisi Jarwil BPP

Post Author: Irfan Azizi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *