Berita Pilihan Editor

Anugerah Pena FLP Solo Raya 2015

foto anugerah pena flp solo 2015
Anugerah Pena FLP Solo 2015

 

Kegiatan pemberian Anugerah Pena Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Solo Raya yang digelar Ahad (15/3) terbilang sukses. Sekitar 70 orang memadati panggung Taman Keprabon Solo untuk mengikuti acara bergengsi yang baru pertama kali diadakan FLP Solo Raya ini. Anugerah Pena ini oleh ketua FLP Solo Raya, Trimanto B. Ngaderi, bahkan diklaim sebagai yang pertama di Indonesia untuk tingkat FLP Cabang. “Yang saya tahu, kegiatan pemberian Anugerah Pena semacam ini hanya dilakukan oleh FLP Pusat. Untuk tingkat Cabang, baru di Solo ini,” kata Trimanto bangga. 

Menurut ketua panitia, Agus Yulianto, pemberian Anugerah Pena ini merupakan puncak acara dari serangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh FLP Solo Raya untuk memperingati MIlad ke-18 FLP. Kegiatan lain yang telah dilaksanakan diantaranya diskusi, launching buku, Parade Baca Puisi di area Car Free Day (CFD) Solo dan Tasyakuran. Sekretaris FLP Solo Raya, Taufiqurrahman, menjelaskan, setelah melalui seleksi yang ketat, dari duabelas orang nominator, terpilih empat orang penulis yang dianggap layak mendapatkan Anugerah Pena FLP Solo Raya 2015. 

Hasilnya, untuk kategori penulis fiksi paling produktif, diberikan kepada Deasylawati Prasetya. Kategori penulis Buku Best Seller diraih Nourma Keisya Anicenna (penulis buku Beauty Jannati). Sementara Agus Yulianto, mendapatkan anugerah pena sebagai penyair muda berbakat. Sedangkan Afifah Afra, seorang novelis dan penulis yang sudah melahirkan sekitar 50 karya buku dan memiliki nama asli Yeni Mulati, dipilih FLP Solo Raya sebagai penerima Anugerah Pena untuk kategori Pegiat Literasi. 

Dipandu oleh seorang penyair muda, Ibudh, kegiatan yang berlangsung lesehan dan santai ini juga diisi suguhan seni atraksi musik Sekolah Alam Akila Klaten pimpinn Mia, dan musikalisasi puisi. Agus Kapas misalnya, mantan pengamen yang dikenal sebagai penyair jalanan membacakan puisi-puisi karyanya bertema kritik sosial. Sementara Ibudh yang puluhan esai dan puisinya bisa dinikmati di media sosial, tampil membacakan dua karyanya yang lahir dua belas tahun lalu, berjudul “Penyapu Jalanan” dan “Sang Pemulung”. Begitupun Agus Yulianto alias Gus Yul, membacakan karya puisi yang menjuarai lomba di Banjarbaru, ikut mewarnai acara. Diiringi petikan gitar oleh gitaris Argo, suasana pemberian Anugerah Pena FLP Solo Raya itu cukup menarik.

Ada juga sesi curhat para mantan ketua FLP Solo Raya yang bercerita tentang suka duka dan pengalamannya memimpin FLP dan perjalanan hidupnya dalam dunia kepenulisan. Mereka adalah Aris Adenata, Asri Istiqomah dan Trimanto. Sementara sesi renungan yang disampaikan Rianawati dan Ranu Muda, senior di FLP Solo menjadi sebuah refleksi mendalam mengenai perjalanan dan eksistensi FLP Solo. Riana meminta teman-teman FLP Solo Raya untuk terus berkiprah dan berkarya di tengah situasi “gawat” yang diciptakan para penulis liberal. “Teman-teman FLP harus segera bangkit dan terus melahirkan karya yang mencerahkan. Bukan karya yang meracuni,” tegas Riana yang kini mengajar matakuliah Sastra di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS. 

Sedangkan Ranu Muda yang kini menjadi seorang jurnalis, banyak mengungkap fakta betapa kekuatan media besar yang dikendalikan oleh segelintir orang telah membuat Indonesia dan dunia tidak berdaya. “Kita harus sadar dan segera bangkit, karena faktanya seperti itu. Mereka begitu massive menebar fitnah, sementara kita tidak berdaya,” ungkap Ranu Muda serius. Acara gebyar Anugerah Pena FLP Solo Raya 2015 ini dimeriahkan pula oleh penulis senior dan yunior untuk mempromosikan karya bukunya. Danang Febriansyah, pria berkacamata yang tinggal di Wonogiri dan sudah puluhan tahun aktif di FLP Solo, menunjukkan beberapa karya bukunya yang ditulis sejak 2003. 

Sedangkan Rusna Supriyono, yang baru berbagung di FLP Solo beberapa bulan, sudah melahirkan karya buku berjudul “Bipolar Mayor” yang mengupas tentang gangguan emosi dua kutub, diantaranya berisi psikomemoar dari penulisnya. Semoga kegiatan pemberian Anugerah Pena tahun ini sebagai bukti eksistensi FLP yang dalam beberapa tahun terakhir dianggap kurang bergairah ternyata masih diperhitungkan dan menjadi pengalaman berharga dalam membangkitkan semangat anggota FLP Solo Raya untuk terus berkarya. (Suparto Parto)

Related posts

FLP Hadhramaut Gelar Diklat Resensi

Wildan Nugraha

Catatan Silaturahmi Media Islam dengan MUI (1): Dibuka dengan Konferensi Pers Kasus Ahok

Yanuardi Syukur

Koordinasi Tim Jarwil di Bandung

admin

Leave a Comment