YOGYAKARTA-Forum Lingkar Pena (FLP) Yogyakarta menggelar kegiatan Gelar Wicara Literasi bertema “Menulis Itu Personal, Bertumbuh Itu Komunal” dengan menghadirkan Ketua Umum FLP Pusat, Nafi’ah Al-Ma’rab, sebagai narasumber.
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi mengenai perjalanan personal seorang penulis, tantangan dalam berkarya, serta peran komunitas literasi dalam menjaga konsistensi dan mengembangkan kualitas tulisan.
Dalam diskusi tersebut, Nafi’ah menjelaskan bahwa keputusan seseorang untuk mulai menulis dapat berangkat dari berbagai pengalaman. Ketertarikan terhadap dunia kepenulisan bisa tumbuh karena paparan bacaan, lingkungan, atau pengalaman mengikuti komunitas. Apresiasi, seperti keberhasilan memenangkan lomba, juga dapat menjadi dorongan awal bagi seseorang untuk terus menulis.
“Menulis dapat muncul dari keterdesakan untuk menyampaikan sesuatu yang mengusik pikiran dan perasaan. Kebutuhan untuk mengungkapkan gagasan, merespons persoalan, atau menyuarakan keresahan dapat menjadi alasan kuat bagi seseorang untuk mulai berkarya,”ujarnya, Ahad (25/10/2026).
“Menulis saja. Menulis itu proses kita berpikir,” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Nafi’ah ketika membahas hubungan antara proses menulis dan mengenal diri. Menurutnya, seseorang tidak harus menunggu sampai benar-benar memahami dirinya sebelum mulai menulis. Proses tersebut justru dapat berlangsung bersamaan dengan kegiatan membaca, menulis, melakukan riset, dan memperkaya sudut pandang melalui berbagai referensi.
Nafi’ah juga menyoroti rasa tidak percaya diri yang kerap menjadi hambatan bagi penulis, terutama ketika menghadapi kemungkinan tulisannya dinilai buruk oleh orang lain. Ia menekankan pentingnya keberanian untuk mengirimkan karya, melakukan penyuntingan, mengevaluasi tulisan, dan terus belajar dari proses tersebut. Kritik, dalam pandangannya, merupakan bagian dari ilmu yang dapat membantu penulis memperbaiki kualitas karyanya.
Sesuai dengan tema kegiatan, diskusi turut menempatkan komunitas literasi sebagai bagian penting dalam perjalanan kepenulisan. Komunitas tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menjaga konsistensi, membangun kebiasaan, memperluas relasi, dan meningkatkan kapasitas anggota.
Melalui kebersamaan, anggota dapat saling memantik semangat, belajar dari pengalaman satu sama lain, serta terdorong untuk terus menghasilkan karya. Namun, pertumbuhan dalam komunitas tetap membutuhkan keterlibatan aktif dan kesadaran setiap anggota terhadap perannya masing-masing.
Nafi’ah menegaskan pentingnya pengelolaan komunitas yang berorientasi pada perkembangan anggota. Komunitas perlu untuk menganalisis kebutuhan, mengidentifikasi persoalan, mengevaluasi program, dan menghadirkan inovasi yang relevan.
“Anggota juga perlu diberi ruang untuk menyampaikan gagasan agar komunitas terus berkembang dan tidak berhenti pada kegiatan berkumpul semata,”tambahnya.
Dengan demikian, keberhasilan komunitas literasi tidak hanya dilihat dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi juga dari proses belajar, peningkatan kemampuan, dan perkembangan karya para anggotanya.
Sesi diskusi memberikan kesempatan kepada peserta untuk berbagi pengalaman sekaligus mengajukan pertanyaan seputar perjalanan dan tantangan dalam dunia kepenulisan.
Rindang Yuliani, salah seorang peserta gelar wicara, menanyakan perjalanan personal Nafi’ah Al-Ma’rab dalam menekuni dunia menulis. Menanggapi pertanyaan tersebut, Nafi’ah menekankan pentingnya disiplin dan kegigihan dalam berkarya. Perjalanan kepenulisan, menurutnya, dapat dibangun melalui kebiasaan membaca, upaya mencari referensi, keterlibatan dalam komunitas literasi, dan riset. Ia juga menyoroti peran FLP dalam membangun sistem yang membantu anggotanya menjaga konsistensi dan keberlanjutan proses menulis.

Pertanyaan berikutnya datang dari Retno, yang berbagi pengalaman membaca dan menulis cerpen hingga mengantarkannya pada penerbitan novel. Ketertarikannya pada sastra kemudian berkembang ke bidang linguistik.
Dalam kesempatan tersebut, ia mempertanyakan relevansi bergabung dengan komunitas literasi bagi seseorang yang telah memasuki usia lanjut. Pertanyaan ini membuka refleksi tentang komunitas sebagai ruang belajar yang terbuka bagi siapa saja, tanpa dibatasi usia maupun latar belakang.
Melalui komunitas, seseorang dapat memperluas pengetahuan, mengembangkan kapasitas, dan meningkatkan kontribusinya dalam ekosistem literasi. Pertumbuhan tidak semata-mata diukur dari jumlah karya yang diterbitkan, tetapi juga dari perkembangan diri dan peran yang dijalankan dalam komunitas.
Sementara itu, Novi, yang berlatar belakang pendidikan teknik elektro dan telah terlibat dalam penerbitan antologi, mengangkat persoalan konsistensi menulis di tengah maraknya lomba kepenulisan yang turut menggunakan jumlah penonton (viewers) dan tanda suka (likes) sebagai tolok ukur penilaian. Ia mempertanyakan bagaimana penulis dapat menjaga fokus berkarya tanpa terjebak pada ukuran popularitas tersebut.
Menanggapi pertanyaan itu, Nafi’ah mengajak peserta untuk memahami tujuan masing-masing dalam menulis. Menulis dapat berangkat dari dorongan untuk menyampaikan gagasan atau keresahan yang mendesak untuk diungkapkan. Di sisi lain, menulis juga dapat menjadi upaya memperoleh penghasilan. Kedua orientasi tersebut memiliki konteks dan pertimbangan yang berbeda. Ketika menulis untuk menyampaikan gagasan, penulis perlu berpegang pada hal yang ingin disuarakan.
Sementara itu, ketika berkarya untuk memperoleh penghasilan, kualitas karya tetap menjadi prinsip penting. Dengan memahami tujuan menulis, penulis dapat menentukan sikap terhadap penilaian publik tanpa menjadikan popularitas sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Beragam pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan kepenulisan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan karya, tetapi juga dengan upaya menjaga konsistensi, menghadapi penilaian, dan menemukan ruang untuk terus berkembang. Dalam proses tersebut, komunitas dapat menjadi tempat bertukar pengetahuan, membangun kebiasaan, serta membuka kesempatan bagi setiap anggota untuk belajar dan berkontribusi sesuai kapasitasnya.
Gelar Wicara Literasi FLP Yogyakarta ini menegaskan bahwa menulis merupakan perjalanan personal yang dapat tumbuh melalui dukungan komunal. Setiap penulis memiliki pengalaman, dorongan, dan tujuan yang berbeda. Namun, melalui komunitas yang mendorong proses belajar, terbuka terhadap gagasan, dan berorientasi pada perkembangan anggota, perjalanan tersebut dapat menjadi proses bertumbuh bersama yang berkelanjutan.
Menulis bermula dari kesadaran dan keberanian individu untuk menuangkan gagasan, sedangkan komunitas menyediakan ruang untuk saling belajar, menguatkan, dan mengembangkan kontribusi melalui karya. []
