JAKARTA-Wakil Bendahara BPP FLP, Miyosi Margi Utami mewakili Ketua Umum FLP menghadiri undangan dari Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) dalam rangka Pencanangan Sensus Ekonomi 2026, Senin, 29 Juni 2026. Acara diselenggarakan secara hybrid, dengan kegiatan luring di Hotel Ayana Midplaza Jakarta, dan dibuka tepat waktu pukul 10.30 WIB.
Hadir dalam kegiatan tersebut Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya serta Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti.
Forum tersebut juga dihadiri oleh para pelaku usaha dan asosiasi sementara FLP masuk dalam kategori subsektor penerbitan dan fotografi.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar menegaskan bahwa data merupakan infrastruktur strategis bagi pembangunan nasional.
“Data adalah infrastruktur yang mutlak menjadi kebutuhan pemerintah maupun di luar pemerintah. Karena itu, Sensus Ekonomi 2026 merupakan investasi besar bagi kemajuan bangsa. Data yang akurat akan melahirkan kebijakan yang tepat, membuka ruang-ruang baru bagi percepatan ekonomi kreatif serta menjadi bekal menuju Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera,” ujar Muhaimin dalam Sosialisasi Sensus Ekonomi 2026 Sektor Ekonomi Kreatif di Jakarta, Senin (29/6).
Senada dengan Muhaimin, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya mengatakan, SE 2026 menjadi momentum penting untuk memetakan potensi ekonomi kreatif Indonesia secara utuh.
“Dengan data yang semakin jelas, pemerintah, asosiasi, akademisi, dan pegiat usaha dapat berkolaborasi lebih efektif menjadikan ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Menteri Ekraf.

Sementara itu menurut Miyosi Margi Utami sambutan Ketua BPS, Menteri Ekonomi Kreatif, dan Kemenko Bidang Pemberdayaan Masyarakat tentang peran penting sektor ekonomi kreatif dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi adalah pengingat para penulis untuk terus aktif berkarya.
“Walaupun sumbangan dari subsektor penerbitan belum sebesar subsektor lain seperti kuliner dan fesyen, namun bukan berarti bisa dipandang sebelah mata,”ujarnya.
Lanjut Miyosi, sejatinya kontribusi literasi memang tidak langsung bisa dirasakan hasilnya dalam sehari dua hari seminggu dua minggu atau bahkan sebulan dua bulan. Ia adalah investasi jangka panjang yang baru akan terlihat efeknya setelah bilangan tahun bahkan mungkin di generasi berikutnya.
“Bentuk kontribusi nyata literasi ada pada pola pikir. Bisa kita bandingkan seperti apa negara yang masyarakatnya punya literasi tinggi dan yang tidak. Ibarat pondasi, literasi memang tak terlihat, tapi menentukan kekuatan sebuah peradaban. Maka, jangan buang waktu lagi, mari terus aktif berkarya,”pungkasnya.
Acara ditutup dengan Sesi “NGIBAR” (Ngisi Bareng) Kuesioner Sensus Ekonomi 2026 dilakukan setelah ishoma dengan dipandu oleh Tim Sensus Ekonomi BPS.[]
