4 Sasaran dalam Menulis Argumentasi Menurut Gorys Keraf

1 menit baca |

JAKARTA, FLP.or.id — “Di samping prinsip-prinsip dasar yang harus diperhatikan, penulis selalu berusaha pula untuk membatasi persoalannya,” demikian menurut Gorys Keraf. Untuk mengetahui prinsip dasar dimaksud, sila baca 2+3 Prinsip Dasar Mencipta Tulisan Argumentatif.

Selain itu, penulis juga perlu “menetapkan di mana terletak titik atau sasaran ketidaksesuaian pendapat antara pengarang atau pembaca. Dengan demikian, ia dapat mengubah keyakinan atau mempengaruhi sikap dan tindakan pembaca atau hadirinnya.”

 

Untuk membatasi persoalan dan menetapkan titik ketidaksesuaian, maka sasaran yang harus ditetapkan untuk diamankan oleh setiap pengarang argumentasi adalah:

 

1. Argumentasi itu harus mengandung kebenaran untuk mengubah sikap dan keyakinan orang mengenai topik yang akan diargumentasikan.

 

Contoh, bila seseorang ingin mengetengahkan bahwa kerja sama negara-negara Asia Tenggara dapat mencegah perluasan komunisme, maka pengarang harus sungguh-sungguh menunjukkan, apakah benar kerja sama itu secara efektif dapat mencegah perluasan komunisme itu.

 

Untuk maksud tersebut, ia harus menyusun fakta-fakta menuju suatu kesimpulan yang dapat diterima, atau ia harus menyusun proposisi-proposisi yang benar. Dengan demikian, lawannya tidak bisa mengajukan fakta atau proposisi dan kesimpulan yang bertentangan dengan fakta dan kesimpulannya itu.

 

2. Pengarang harus berusaha untuk menghindari setiap istilah yang dapat menimbulkan prasangka tertentu.

 

Apakah seorang pengarang tidak menipu dirinya sendiri bila ia menulis, “Pemerintah harus mencabut peraturan Menteri Dalam Negeri No 12 karena peraturan itu menghancurkan kehidupan demokrasi di Indonesia.”

 

Jika peraturan itu sungguh-sungguh merusak kehidupan demokrasi, maka setiap orang pasti akan sepakat menolaknya dan menuntut untuk segera mencabut peraturan tersebut. Kalau tidak ada perbedaan pendapat, maka tidak ada persoalan yang menjadi landasan argumentasi pengarang.

 

Bila pengarang merumuskan proposisi tadi dengan mengungkapkannya dalam bentuk pertanyaan, maka pengarang sebenarnya meragukan atau menyangsikan sesuatu yang ingin diargumentasikannya.

 

3. Sering timbul ketidaksepakatan dalam istilah-istilah. Sedangkan tujuan argumentasi adalah menghilangkan ketidaksepakatan. Sebab itu, pada saat pertama pengarang menggunakan suatu istilah, ia harus membatasi pengertian istilah yang dipergunakan itu, agar dapat dihindarkan kemungkinan timbulnya ketidaksesuaian pendapat karena perbedaan pengertian.

 

4. Pengarang harus menetapkan secara tepat titik ketidaksepakatan yang akan diargumentasikan. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting. Setiap analisa yang cermat, sejak awal harus mengungkapkan dengan jelas, di mana letak perbedaan-perbedaan yang akan diargumentasikan itu. Dengan demikian, arah dan sasaran tulisan hanya dipusatkan kepada titik perbedaan itu.

 

Referensi: Gorys Keraf. Argumentasi dan Narasi. Penerbit PT Gramedia Jakarta, 1991

Post Author: admin

Admin adalah administrator laman FLP.OR.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *