Rabu, Maret 18Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Sukses Bisnis dengan Modal 1 M

 “Pekerjaan paling menyenangkan di dunia adalah hobi yang dibayar.”

(Ridwan Kamil)

Saya sangat setuju dengan pernyataan Kang Emil tersebut. Hobi adalah sesuatu yang ketika melakukannya, kita akan sangat bahagia. Bisa dibilang hobi saya adalah berdagang dan saya telah memulainya sejak bangku SD. Waktu SD, saya dan saudari kembar saya punya koleksi aneka jepit rambut. Karena sudah terlalu banyak, akhirnya kami jual ke teman-teman sekelas. Alhamdulillah, laris manis. SMP hobi jualan berlanjut, saya menjual cokelat unik. SMA jualan majalah sekolah karena saya jadi tim redaksi majalah OSIS tersebut. Kemudian saat S1, saya jualan camilan dan pulsa elektrik di kos. Selain itu, saya juga menjual fotokopian catatan kuliah saya dengan sistem pre order. Jadi setiap akan ada kuis atau tes semester, saya akan mengedarkan kertas pemesanan fotokopi catatan di kelas.

Saya suka menulis dan saat S2 di Bandung tahun 2011 menerbitkan buku single perdana berjudul “The Secret of Shalilah”. Saya pun menjualnya dan alhamdulillah buku tersebut laku 1.445 eksemplar dan terjual dari Sabang sampai Merauke bahkan ke berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Hongkong, dan Jepang. Setelah lulus tugas belajar S2 dan kembali bekerja di Kementerian Perdagangan, tahun 2014 saya kembali menekuni bisnis online sampai sekarang, namanya “Supertwin Shop”. Berbisnis sambil bekerja kantoran? Insya Allah bisa!

Itulah sekelumit pengalaman bisnis saya.

Dewasa ini dunia bisnis, terutama bisnis online kian diminati apalagi saat ada pandemi seperti sekarang.  Baik anak muda sampai emak-emak paruh baya mulai melek teknologi untuk menekuni dunia bisnis.  Sahabat terjun ke dunia bisnis juga kah? Atau baru ingin memulai bisnis? Berikut sedikit inspirasi yang saya dapatkan selama menggeluti dunia bisnis.

Tiga Sektor Kehidupan

Ada 3 sektor dalam kehidupan, di antaranya:

  1. Public Sector, yakni ranah orang-orang yang bekerja di dunia publik seperti karyawan, pegawai,  termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN). Mereka digaji dan bekerja untuk melayani kepentingan pihak lain, tidak mencari keuntungan pribadi tapi memberikan pengabdian.
  2. Private Sector, yakni ranah pebisnis, wirausaha, orang-orang yang menggaji orang lain dengan usaha pribadi, berusaha untuk mencari keuntungan atau menggunakan prinsip ekonomi atau dengan modal yang sedikit, tapi mendapatkan keuntungan yang banyak.
  3. Third Sector, yakni ranah orang-orang yang bergerak di bidang Non Government (NGO) seperti Lembaga Sosial Masyarakat (LSM), pegiat sosial, komunitas, dan yayasan nonprofit.

Sebagai pebisnis kita masuk ranah private sector. Dengan berbisnis, harapannya kita bisa memberikan manfaat lebih banyak untuk sekitar. Seorang pebisnis perlu memiliki mindset bahwa dengan berbisnis atau dengan berjualan barang atau jasa, kita dapat membantu orang yang ingin memenuhi kebutuhannya lewat produk yang dijual atau jasa yang ditawarkan.

Sukses Bisnis dengan Modal 1 M? Insya Allah Bisa!

Nah,  sebelum memulai bisnis, hal yang penting untuk dimiliki adalah modal. Banyak orang berpersepsi bahwa uanglah modal utama dalam berbisnis. Sayangnya, saya kurang setuju dengan hal tersebut. Kalau saya boleh bilang, memulai bisnis cukup dengan modal 1 M.

Apa? 1 Miliar?!

Tenang Sahabat, 1 M yang saya maksud di sini adalah “ME” atau diri kita sendiri. Modal utama memulai bisnis adalah diri sendiri, bukan orang lain, bukan sekadar uang. Modal ini berupa niat, motivasi, dan aksi.

Niat yang lurus karena Allah SWT akan mengarahkan perjalanan bisnis menuju target yang diinginkan. Terus berusaha sebaik mungkin untuk mengaktualisasikan niat tersebut dengan senantiasa diiringi dengan doa terbaik. Betapa indahnya jika bisnis yang kita jalani membuat diri kita menjadi pribadi yang semakin dekat dengan Sang Pemberi Rezeki. Semoga bisnis kita penuh          barokah dan berlimpah kebaikan. Aamiin.

Yang kedua adalah motivasi. Motivasi adalah daya dorong. Hal ini perlu dimiliki agar ketika perjalanan bisnis kita mulai menemui aral melintang, kita tidak akan cepat goyah atau putus asa karena memiliki motivasi yang kuat. Menjalankan bisnis, jangan asal jualan-laku-dapat untung. Kita harus punya motivasi dalam menjalankannya.

Setiap pebisnis pasti memiliki motivasi yang tidak seragam. Ketidakseragaman itulah yang mungkin nanti akan menjadi inspirasi atau motivasi baru bagi pebisnis lainnya. Beberapa contoh motivasi berbisnis :

  1. menjalankan sunnah atau mengikuti jejak Rasulullah Saw. dan bunda Khadijah;
  2. mendapatkan pemasukan tambahan;
  3. membantu suami/orang tua;
  4. mengisi waktu luang;
  5. menyalurkan hobi;
  6. menolong orang lain;
  7. ingin infak 10 juta tiap bulan;
  8. agar bisa naik haji bersama keluarga;
  9. memasarkan produk Indonesia;
  10. bersaing dengan produk impor yang kualitasnya kurang baik;
  11. dan lain sebagainya.

Ada 3 (tiga) jenis motivasi dalam berbisnis, di antaranya:

  1. Motivasi yang sifatnya materi

Motivasi bisnisnya untuk mendapatkan hal-hal yang sifatnya materi seperti keuntungan yang besar, uang yang banyak,  punya aset,  punya pendapatan sendiri,  dan lainnya. Tidak salah kok kalau kita punya motivasi yang bersifat materi.

  1. Motivasi yang sifatnya emosional

Ada orang yang memulai bisnis karena melihat kondisi keluarganya.  Misal punya cita-cita ingin mengubah kondisi perekonomian keluarga,  ingin membelikan istri perhiasan,  ingin menyekolahkan anak,  ingin menghajikan orang tua, dan lain sebagainya. Ada semacam dorongan emosional untuk mengubah dirinya hingga memilih sarana mencari rezeki dari bisnis.

  1. Motivasi yang sifatnya spiritual

Pebisnis muda zaman sekarang mengistilahkannya dengan “Bisnis Langit” karena berbisnis motivasinya berhubungan dengan akhirat.  Misal dia berbisnis agar bisa mengumpulkan dana untuk membangun masjid, ia berbisnis agar 20% profitnya untuk disedekahkan, dan bisnisnya juga tidak sekadar mencari keuntungan tapi juga bisa membantu banyak orang. Kalau punya karyawan, karyawannya punya komitmen untuk menggiatkan ibadah dan dia punya kepuasan tersendiri atas komitmen tersebut misal shalat tepat waktu, saat adzan toko tutup, dan lain-lain.

Dari tiga aspek motivasi tersebut,  hasilnya beda-beda. Misal kalau yang motivasinya hanya materi, saat tidak dapat materi yang ditargetkan ia menjadi baperan atau tidak bersemangat.  Beda dengan yang motivasi bisnisnya bersifat emosional, memang lebih terjaga kondisinya. Tapi ada yang perlu diwaspadai juga yakni godaan untuk menghalalkan segala cara karena keinginan yang besar untuk membahagiakan orang terdekat atau keluarga.  Contoh : orang yang masih ngontrak tapi pengin punya rumah. Sebenarnya punya tabungan cukup dari hasil bisnisnya untuk membangun rumah, tapi tiba-tiba dapat kabar bapaknya sakit.  Tentunya prioritas menyerahkan tabungannya untuk bapak. Dorongan emosional mengalahkan dorongan materi.

Begitu juga dorongan emosional bisa dikalahkan oleh dorongan spiritual. Tentunya kita akan lebih memilih kebahagiaan akhirat yang hakiki dibanding kebahagiaan dunia yang sementara.

Jadi, mau pilih yang mana? Gabungan ketiganya boleh saja! Tapi motivasi yang sifatnya spiritual harus jadi yang utama. Milikilah motivasi bisnis sebanyak-banyaknya hingga tak ada lagi alasan untuk loyo atau tidak bersemangat dalam berbisnis.

Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa pedagang yang senantiasa jujur lagi amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang selalu jujur, dan orang-orang yang mati syahid (HR. Tirmidzi). Hadist ini tentunya menjadi salah satu motivasi agar saat berbisnis, kita selalu memegang teguh kejujuran dan bisa menjalankan bisnis dengan amanah.

Let’s Action!

Suatu ketika saat saya mengikuti seminar bisnis, tiba-tiba sang pembicara mengeluarkan selembar uang Rp50.000,00. Uang itu diangkatnya tinggi-tinggi. Beliau hanya tersenyum, tanpa mengeluarkan instruksi apapun. Akhirnya, seorang teman yang duduk di depan saya gegas berdiri dan menyambar uang itu. Sang pembicara tersenyum. Peserta yang lain, termasuk saya mulai sadar dengan yang baru saja terjadi.

Hari itu kami belajar, bahwa kami harus peka terhadap kesempatan yang ada di hadapan. Kami harus beraksi. Sebuah kesempatan itu datangnya tidak terduga. Kesempatan terkadang datang hanya sekali di dalam kehidupan kita. Saat itu ada yang bersemangat menyambut kesempatan yang datang padanya. Ada yang malu-malu menyambutnya. Ada yang tidak percaya diri, akhirnya tidak mendapatkan sama sekali. Kesempatan itu lewat begitu saja.

“Hidup ini perlombaan. Jika kau tidak cepat, seseorang akan mengalahkanmu dan melaju kencang meninggalkanmu!” Begitu kata Viru Shastrabhuddi (Virus) dalam film “3 Idiots” yang telah saya tonton empat kali.

Oleh karena itu, saat niat dan motivasi sudah menguat kemudian beriring kesempatan berbisnis hadir, yang dibutuhkan adalah suatu tindakan atau aksi. Oh iya, jangan juga selalu menunggu kesempatan datang lebih dulu, terkadang kitalah yang harus membuat kesempatan itu menghampiri.

Berbisnis dapat menjadi suatu amal yang sangat bermanfaat dan investasi akhirat. Tentu, jika bisnis yang dijalankan sesuai dengan syariat. Lewat berbisnis, kita bisa ‘berdakwah’ lewat barang yang kita jual, transaksi yang kita lakukan, sharing-sharing yang kita lakukan, dan banyak aktivitas lainnya. Semangat berbisnis, luruskan niat karena-Nya, dan mari menjadi bagian dari sekelompok umat yang disebut dalam firman-Nya:

“Hendaknya di antara kalian ada sekelompok umat yang mengajak kepada kebaikan serta menyeru kepada kema’rufan dan mencegah dari kemunkaran.” (QS.Ali-Imran [3] : 104)

Oleh: Etika Aisya Avicenna (Kordiv Bisnis BPP FLP)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

Share This