Rabu, Februari 18Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Serambi Cahaya Edisi Perdana: Menguatkan Rumah Cahaya di Seluruh Indonesia

“Di Rumah Cahaya ngapain saja, sih?”

Pertanyaan itu mungkin sederhana, tetapi bagi sebagian pengelola Rumah Cahaya dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), ia adalah kegelisahan yang nyata. Rumah sudah ada. Rak buku sudah terisi. Namun, bagaimana membuatnya hidup, bergerak, dan berdampak?

Kegelisahan itulah yang dijawab oleh Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena (BPP FLP) melalui Divisi Rumah Cahaya dengan menyelenggarakan Serambi Cahaya edisi perdana pada Senin (16/2/2026) secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi ruang berbagi cerita dan praktik baik antar pengelola Rumah Cahaya dari berbagai daerah di Indonesia.

Serambi Cahaya Edisi Perdana Menguatkan Rumah Cahaya di Seluruh Indonesia

 

Menghidupkan Visi Literasi

Mewakili Ketua Umum FLP, Ketua Harian II BPP FLP, Wiwiek Sulistyowati, dalam sambutannya menegaskan bahwa salah satu visi Divisi Rumah Cahaya yang dirumuskan dalam Musyawarah Kerja Nasional akhir 2025 adalah menggerakkan kegiatan literasi di seluruh Rumah Cahaya.

“Masih banyak pengelola yang bingung mau melakukan apa di Rumah Cahaya. Karena itu, Serambi Cahaya hadir sebagai ruang belajar bersama agar kita tidak berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Memang, Rumah Cahaya tidak boleh berhenti sebagai ruang penyimpanan buku. Ia harus menjadi pusat aktivitas literasi, ruang perjumpaan, serta tempat bertumbuhnya gagasan dan karya.

Serambi Cahaya dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut—terutama bagi Rumah Cahaya yang baru berdiri, sedang dirintis, maupun yang telah lama ada tetapi masih mencari pola kegiatan yang tepat. Rumah Cahaya yang dimaksud mencakup TBM yang dikelola pengurus FLP maupun yang dirintis secara mandiri oleh anggota FLP.

Serambi Cahaya Edisi Perdana BPP FLP

 

Berbagi Pengalaman Nyata

Kegiatan perdana ini dipandu oleh Kasturi Kasih dari Rumah Cahaya Cicurug, Jawa Barat, selaku pembawa acara. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Dony Anggono dari Rumah Cahaya Cakrawala Incenia, Sidoarjo, menghadirkan suasana hangat dan khidmat.

Hadir sebagai narasumber, Lindawati, Ketua Pustaka Dua-2 Payakumbuh sekaligus Ketua FLP Wilayah Sumatera Barat. Dalam dua tahun terakhir, komunitas literasi yang dikelolanya menerima Bantuan Pemerintah untuk Komunitas Literasi dan Komunitas Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dalam pemaparannya, Linda membagikan langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan pengelola Rumah Cahaya agar lembaganya berdaya dan berdampak.

Salah satu yang ia tegaskan adalah memahami kebutuhan lingkungan. “Kalau di sekitar kita banyak anak-anak, sediakan bacaan sesuai usia mereka agar tertarik datang. Kita harus peka terhadap siapa yang kita layani,” jelasnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun tim. Menurutnya, pengelolaan Rumah Cahaya tidak bisa dilakukan seorang diri.

“Jangan bergerak sendirian. Rekrut relawan. Bahkan keluarga sendiri bisa kita berdayakan. Anak-anak kita bisa mengajak teman-temannya datang dan berkegiatan,” tambahnya.

Program kreatif, konsistensi kegiatan, serta kemampuan menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak juga menjadi kunci keberlanjutan sebuah Rumah Cahaya.

Zoom Meeting Serambi Cahaya Edisi Perdana BPP FLP

 

Pentingnya Rekam Jejak

Salah satu poin penting yang ditekankan Linda adalah dokumentasi dan publikasi kegiatan melalui media sosial.

“Rekam jejak itu sangat penting. Banyak bantuan datang karena pemberi bantuan melihat aktivitas kita di media sosial,” ungkapnya.

Ia membagikan pengalaman ketika proposal bantuan buku yang diajukan ke sebuah toko buku belum mendapatkan respons. Namun, beberapa waktu kemudian, pihak toko buku justru menghubungi Pustaka Dua-2 dan menyatakan komunitas tersebut terpilih sebagai penerima bantuan setelah memantau keaktifannya melalui media sosial.

Pengalaman itu menjadi pelajaran bahwa kerja literasi hari ini tidak hanya berlangsung di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital. Aktivitas yang terdokumentasi dengan baik dapat membuka peluang kolaborasi dan dukungan yang lebih luas.

 

Membangun Ekosistem yang Saling Menguatkan

Agenda kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang dimoderatori oleh Kiki Masduki, pengelola TBM Semesta Hikmah Ciamis sekaligus staf Divisi Rumah Cahaya. Diskusi berlangsung interaktif, para peserta bertanya perihal tantangan maupun pengalaman dalam mengelola kegiatan literasi rumah cahaya di daerah masing-masing.

Serambi Cahaya merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem literasi yang saling terhubung di lingkungan FLP. Rumah Cahaya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Perlu adanya jejaring yang saling menguatkan dan saling menyalakan. Dari satu rumah, bisa menginspirasi rumah yang lain.

“Kalau hari ini masih ada yang bertanya, ‘Ngapain saja di Rumah Cahaya?’ maka jawabannya: banyak. Kita bisa membaca, berdiskusi, mendampingi anak-anak, membuat program kreatif, bahkan melahirkan karya. Rumah Cahaya adalah ruang kecil yang bisa melahirkan dampak besar,” tambahnya.

Ke depan, Serambi Cahaya direncanakan digelar secara rutin setiap dua bulan dengan menghadirkan narasumber dari berbagai Rumah Cahaya di Indonesia. Harapannya, semakin banyak praktik baik yang dibagikan, semakin banyak pula Rumah Cahaya yang hidup dan menyala.

Semua pasti sepakat bahwa Setiap Rumah Cahaya punya cerita. Dan setiap cerita selalu menghadirkan cahaya.

Ditulis oleh:
Uda Agus (Koordinator Divisi Rumah Cahaya BPP FLP)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

Share This