Divisi Kepalestinaan BPP FLP menyelenggarakan Talkshow Interaktif Webinar Kepalestinaan pada Sabtu, 11 April 2026 pukul 10.00 WIB melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti oleh 43 peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki kepedulian terhadap isu kemanusiaan di Palestina.
Diskusi berlangsung secara interaktif dan menghadirkan ruang refleksi sekaligus penguatan peran literasi dalam merespons situasi global yang terus berkembang, khususnya terkait penjajahan dan genosida berkepanjangan yang berdampak pada masyarakat sipil Palestina.
Hadir sebagai narasumber, Dr. Maimon Herawati, Dewan Pertimbangan FLP, Koordinator Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) sekaligus Direktur Utama SMART171. Beliau menyampaikan materinya secara langsung dari Barcelona pada pukul 05.00 pagi waktu setempat, sebelum subuh.
Kehadiran beliau dari luar negeri menunjukkan keterhubungan langsung kegiatan ini dengan agenda global, mengingat beliau merupakan bagian dari inisiatif kemanusiaan Global Peace Convoy yang dijadwalkan bergerak mulai 12 April 2026 untuk menembus blokade Gaza.
Dalam pemaparannya, Dr. Maimon menekankan pentingnya keterlibatan komunitas literasi dalam mengawal isu kemanusiaan. Menurutnya, literasi tidak hanya berfungsi sebagai medium ekspresi, tetapi juga sebagai instrumen advokasi yang mampu membangun kesadaran publik secara luas.

Peran ini menjadi semakin krusial dalam situasi ketika akses informasi mengalami pembatasan atau distorsi, sehingga diperlukan narasi yang jernih, bertanggung jawab, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
Dr. Maimon menegaskan bahwa Forum Lingkar Pena (FLP) sejak awal berdiri telah memiliki orientasi pada nilai-nilai pembebasan. Hal ini tercermin dalam karya awal FLP berupa antologi cerpen Hingga Batu Bicara, yang mengangkat tema perlawanan terhadap ketidakadilan, penjajahan, dan blokade di Palestina.
Beliau menilai bahwa tradisi literasi yang dibangun FLP memiliki landasan historis dan ideologis yang kuat untuk terus berkontribusi dalam menyuarakan kepentingan kemanusiaan di tingkat nasional maupun global.
Lebih lanjut, beliau mengingatkan bahwa Indonesia satu-satunya negara yang mencantumkan mandat konstitusional dalam mendukung perjuangan melawan penjajahan. Pembukaan UUD 1945 secara tegas menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.
Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai memiliki legitimasi moral dan historis untuk berada di garis depan dalam mendukung pembebasan Palestina, tidak hanya melalui jalur diplomasi negara, tetapi juga melalui gerakan masyarakat sipil yang terorganisir.
Dalam paparannya, Dr. Maimon juga menyoroti situasi krisis informasi akibat gugurnya sekitar 300 jurnalis dalam konflik Palestina. Kondisi ini dinilai mempersempit ruang publik dalam memperoleh informasi yang objektif dan berimbang.

Oleh karena itu, beliau mendorong para penulis dan pegiat literasi untuk mengambil peran sebagai penyambung suara yang dibungkam. Produksi narasi yang akurat, empatik, dan berbasis data menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan advokasi kemanusiaan.
Sebagai langkah strategis, beliau menekankan pentingnya memperdalam pemahaman terhadap isu Palestina secara komprehensif, termasuk dinamika geopolitik dan aktor-aktor yang terlibat. Pemahaman yang utuh dinilai menjadi prasyarat dalam menghasilkan narasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu menggerakkan pembaca untuk berkontribusi dalam misi pembebasan ini.
Selain itu, beliau juga mendorong konsolidasi internal FLP, khususnya dalam menghimpun influencer dan kreator konten untuk memperkuat jangkauan pesan secara digital.
Selain aspek kapasitas dan kolaborasi, Dr. Maimon menegaskan pentingnya kesiapan menghadapi risiko dalam menyuarakan isu Palestina. Beliau mengingatkan bahwa advokasi kemanusiaan seringkali dihadapkan pada tekanan, baik dalam bentuk pembatasan narasi maupun resistensi publik.
Oleh karena itu, diperlukan keberanian moral dan keteguhan sikap dalam menjaga konsistensi perjuangan, yang harus ditopang oleh integritas, pengetahuan, serta komitmen terhadap nilai-nilai keadilan.
Dalam penutupnya, Dr. Maimon menyampaikan ajakan reflektif kepada seluruh peserta dan seluruh anggota FLP, untuk mengambil peran lebih aktif dalam mengawal narasi global terkait Palestina. Beliau menekankan bahwa komunitas literasi, khususnya FLP, memiliki modal sosial, intelektual, dan spiritual yang memadai untuk berada di garis terdepan dalam membangun opini publik. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perjuangan kemanusiaan tidak hanya berlangsung di medan pertempuran, tetapi juga melalui produksi dan distribusi narasi yang mencerahkan serta berorientasi pada pembebasan.
