Penulis Pojok

Writer’s Block? Kamu Dapat Mencoba Tips Teruji dari 5 Penulis FLP Ini

JAKARTA, FLP.or.id — Writer’s block? Buntu kala menulis? Tenang, fenomena ini bisa terjadi kepada siapa saja. Bukan cuma penulis pemula, penulis ternama pun mengalaminya, sejak dulu kala. Mulai dari kekurangan ide orisinil, hingga yang selama bertahun-tahun tak lagi mampu berkarya.

Bagaimana untuk mengatasinya? Tips-tips dari 5 penulis anggota Forum Lingkar Pena (FLP) ini sepertinya dapat kamu intip, bisa kamu coba.

1. RILEKS
“Kalau aku lagi buntu pas nulis, tarik nafas dalam-dalam, hembuskan perlahan. Buat diri serileks mungkin lalu pejamkan mata dan berbaring. Bukan tidur lho ya, tapi membayangkan kembali, itu tulisan mau dibuat seperti apa.”

Suwanda, Ketua FLP Wilayah Lampung 2016-2018 yang baru terpilih

2. MEMBACA SANTAI
“Saya akan berhenti berusaha menulis, lalu membaca dengan santai. Ketika membaca, pasti akan ketemu sesuatu yang dirasa perlu untuk ditulis lagi.”

Erin Cipta, Finalis Penghargaan Sastra Pekerja Migran ke-2 2015, pernah bergiat di FLP Taiwan

3. TUTUP LAPTOP, PEKERJAAN RUMAH TANGGA BIKIN FRESH
“Kalau aku, pas mengalami kebuntuan menulis. Tutup laptop. Main sama anak-anak. Ngobrol sama tetangga. Ngerjain kerjaan rumah, nyupir a.k.a, atau ngejemur baju. Biasanya setelah itu kepala fresh lagi. Malah dapat ide baru dari hasil ngalamun saat nyuci piring atau ngejemur baju. Kadang juga aku nonton film, baca buku dan bikin cemilan bareng anak-anak. Lumayan juga, ampuh untuk mengusir kebuntuan.

Sri Widiyastuti, penulis buku anak, blogger, pernah bergiat di FLP Malaysia.

4. TINGGALKAN TULISAN, BERPETUALANG, BERSILATURAHIM
“Jika dalam keadaan buntu, cara terbaik yang sering saya lakukan adalah: meninggalkan tulisan itu untuk sementara waktu. Tidak dilanjutkan, tidak dikerjakan, tidak dipikirkan, dan tidak dihiraukan. Lantas melakukan kegiatan berpetualang.

“Misalnya, satu hari dihabiskan untuk bartamasya, refreshing, pergi ke suatu tempat yang menyenangkan, menikmati indahnya alam. Pergi ke laut, ke pantai, ke hutan atau tempat-tempat indah lainnya. Atau boleh juga refreshing yang sederhana, “bersilaturrahim” ke rumah teman, saudara, guru. Silahkan minum dan makanlah menu yang disediakan oleh tuan rumah. Akan lebih baik lagi, jika membawakan oleh-oleh.

“Jika bersilaturrahim ke rumah sang guru yang mempunyai balita misalnya, dapat pula membawa hadiah boneka, buku, crayon atau apapun itu (yang pastinya disesuaikan dengan isi dompet). Berceritalah tentang masa-masa sekolah yang indah. Semoga kelaknya, setelah melakukan itu, akan mendapatkan ide-ide tulisan yang ‘istimewa’.”

Limawan Vihien, FLP Batam.

5. BEDA SKALA KEBUNTUAN, BEDA PERLAKUAN

“Sejujurnya aku jarang mengalami kebuntuan dalam menulis, tapi stuck in the moment *halah kek lagunya Cold Play aja*. Itu sih sama ajaaah. Cuma memang, nulis itu sebenarnya, buat aku, melarikan diri dari rutinitas dengan cara yang menyenangkan. Cuma kalau lagi buntu, tergantung skalanya.

Kalau malas banget, aku manasin diri ke Gramedia, lihat buku-buku yang ditulis temen-teman atau orang lain. Nanti kan gemas sendiri tuh. Pulangnya biasanya bakalan anget dan semangat buat nulis.

“Nah, kalau skalanya sedang sampai ringan (bujug dah, kek ujan yak), aku nonton film-film yang nyenengin. Karena kalau yang terlalu mellow, yang ada aku malah nulis diary. Film-film dengan aktor-aktor ‘lucu’ (tolong jangan artikan lucu dengan arti sebenarnya yah. U know what I mean lah), itu juga bisa. Berikutnya, baca novel atau yang lain.

“Selain itu, bisa juga dengan lihat katalog-katalog barang-barang lucu. Apa hubungannya? Ya kalau naskah selesai, kirim ke penerbit, dapat royalti, kan bisa beli barang-barang yang lucu-lucu toh. Atau yang lebih relijius, lihat buku tabungan haji. Kalau kagak nambah-nambah, pasti semangat nulis.

“Kalau masih buntu juga, bisa dipastikan, gara-gara kekurangan bacaan, jadi bingung mau nulis apaan, hihihi.

Aprilina Prastari, pegiat FLP Bekasi, penulis buku, karya terbarunya “Jangan Asal Resign” (Gramedia, 2016)

***

Sumber: Utas diskusi di Grup Wisma Indah Forum Lingkar Pena yang diprakarsai Wiwiek Sulistyowati, food photographer, penulis buku-buku kuliner, Bendahara Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) FLP.

Related posts

Mengadili Pembaca

Wildan Nugraha

Perempuan dalam Syariah (Bag 1)

Kontributor FLP

Hukum Menulis Cerpen

Kontributor FLP

Leave a Comment