Venesia & Jejak Akulturasi Dengan Dunia Islam (3/3)

2 menit baca |

TRAVELING, FLP.or.id – Saya meneruskan perjalanan ke sisi luar Piazza San Marco. Dari sini Istana Doge tampak lebih jelas. Sangat mirip dengan Masjid Ibnu Tulun, yang hanya saya bandingkan melalui foto. Tak jauh dari Istana Doge, tampak turis berkerumun di sebuah jembatan kecil. Aha, inilah Bridge of Sigh. Konon dahulu para tahanan yang dihukum mati akan melewati jembatan ini. Di sinilah mereka diberi kesempatan untuk menarik napas terakhir sebelum dieksekusi. Karena itu jembatan ini dinamakan “Bridge of Sigh” (Jembatan Desah).

Sejujurnya, sebelum ke Venesia saya tak menyangka akan menemukan jejak akulturasi dan hubungan erat antara Venesia dengan dunia Islam. Piazza San Marco adalah buktinya. Hubungan dagang dengan dunia Islam memang sangat penting bagi Venesia. Yang menarik, kala itu Venesia juga dikenal sebagai pusat penerbitan di Eropa. Banyak karya ilmuwan Muslim yang diterjemahkan ke dalam bahasa Italia, salah satunya adalah buku referensi kedokteran, Canon of Medicine yang ditulis oleh Ibnu Sina yang selanjutnya lebih dikenal dengan Kanun Ibnu Sina. Bahkan sebuah penerbit buku lokal mencetak dan menerbitkan Al-Quran meski banyak kesalahan pada edisi pertamanya.

Setelah beristirahat beberapa saat di tepi kanal sambil memandang San Giorgio, pulau kecil di seberang alun-alun, saya pun kembali ke Venezia St Lucia. Bila sebelumnya melewati lapangan San Marco, kali ini saya menyusuri koridor bagian dalam gedung yang berkoneksi dengan alun-alun. Nah, di sini saya menemui Caffe Florian. Kafe berusia hampir 300 tahun ini terinspirasi kedai-kedai kopi di Istanbul, Turki. Kopi, sebagaimana kita ketahui, mulai berkembang di dunia muslim. Pada tahun 1600 an, kedai-kedai kopi mulai menyebar ke dataran Eropa. Awalnya terdapat penentangan dari masyarakat Kristen Eropa, karena kopi dianggap “minuman Islam”. Lambat laut kedai kopi menjadi “pusat pencerahan” terutama di Perancis. Para filsuf bertemu di keda-kedai kopi di mana mereka membahas filsafat, pemerintahan, politik dan ide-ide lain yang menjadi pilar pencerahan.

Yang juga menarik dari Caffe Florian adalah satu-satunya kafe pada masa itu yang mengizinkan wanita untuk masuk. Seperti halnya kedai kopi di Perancis, Caffe Florian juga menjadi tempat para filsuf dan sastrawan bercengkerama. Goethe, Casanova, Lord Byron, Marcel Proust, hingga Charles Dickens adalah beberapa nama yang pernah menjadi pengunjung rutin kedai kopi ini.

Harum kopi begitu menggoda saya, sayangnya saya ditunggu kereta yang akan membawa saya ke Austria. Jadi saya bergegas. Namun saat melewati Jembatan Accademia dan menemukan kedai yang menjual makanan halal, saya tak tahan. Pemilik restoran tersebut orang Bangladesh yang dengan ramah mengucap “Assalamu’alaikum, Sister!” saat saya masuk. Setelah menikmati kebab, saya melanjutkan perjalanan kembali ke stasiun Venezia St. Lucia. Jalan dan gang berkelok, kembali melewati ratusan kanal kecil yang cantik menuju stasiun, tetap memanjakan mata.

Post Author: Rahmadiyanti Rusdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *