Super Fahri; Perspektif Perbedaan Individu

4 menit baca |

SENANDIKA, FLP.or.id – Baiklah saya akan menulis pengalaman saya dengan Ayat-ayat Cinta 2. Dan baiklah, saya kembali menemukan sosok ciptaan Habiburrahman El-shirazy yang super sempurna pada AAC-2, mirip Clark Kent si Superman, maka saya beri judul saja tulisan ini Super Fahri :D. Iya, seperti dulu pernah saya sampaikan pada Abik dan ustadz Yusuf Mansyur pada saat bedah buku AAC 1 di MAN Surakarta, dan beliau berdua mampir makan di rumah saya di Solo sekitar tahun 2004 (sebelum keduanya sepopuler sekarang) bahwa Fahri terlalu sempurna. Nampaknya memang begitu Fahri ini akan disimbolkan oleh pengarangnya. Sama seperti tokoh Jerry Siegel dan Joe Shuster si Clark Kent itu, mereka berdua super sekali. Dan Anda tahu kan, bahwa semula karakter Superman awalnya adalah botak, jenius dan psikopat? (yang kemudian jadi musuh bebuyutannya si Lex Luthor), dan ternyata tidak laku, sehingga Siegel mengubah karakternya menjadi ganteng, lembut dan baik, dan bahkan Amerika pun mencintai kebaikan. Haha.

Maka, perbedaannya adalah pada genrenya. Superman diciptakan dalam genre fiksi komik fantasi sedangkan Super Fahri diciptakan dalam genre fiksi realis yang idealis, yang berisi idealism penciptanya. Saya tidak mau berdebat soal aliran sastra, tetapi ternyata berangkat dari dua genre yang berbeda, maka respon pembaca atau penontonnya pun bisa berbeda. Sebab, pada dasarnya tontonan adalah stimulus yang membutuhkan respon, dan respon kita terbentuk dari skema kognitif kita akan bentuk-bentuk tertentu, dalam hal ini konsep tentang genre.

Nah, dugaan saya, komik fantasi mengaktifkan kerja otak manusia dengan proses imajinasi simbolik-metaforik seperti kata Ricoer (1978) dalam tulisannya The Metaphorical Process as a Cognition, Imagination and Feeling. Sedangkan genre fiksi realis-idealis akan mengaktifkan kerja otak manusia dengan proses imajinasi rasional kata Ruth M.J. Byrne (2008) dalam teorinya yang ketika pertama kali dirilis diberi judul Rational Imagination: How People Creates Alternative to Reality (Byrne, 2008). Jadi, singkatnya imajinasi ada yang metaforik, ada yang rasional.

Itu sebabnya, ada orang-orang yang menonton Superman akan lebih bisa berterima pada saat menonton Superman, berterima akan hal-hal yang tidak logis, misalnya: semua penonton bisa menerima ‘kepicekan’ Louis Lane, pacarnya Superman yang tidak bisa membedakan Clark Kent dengan Superman, yang menyamar hanya dengan kacamata, menghilangkan rambut kluwer di jidatnya, dan tentu saja letak celana dalam :D, bahkan semua penonton tiba-tiba mengidap kepicekan massal menahun (hadeeh..kenapa jadi ikut bahasanya Theppy kwak kwak kwakk..) dan biasa-biasa saja menontonnya hingga seluruh sekuel-sekuelnya, sementara kesuperan Super Fahri berikut ‘kepicekan’ dia terhadap kehadiran Sabina yang ternyata adalah Aisha, tidak bisa berterima. Ini masalah pilihan genre dan kerja otak kita yang secara standar akan memilah dan memilih.

Mungkin akan ada argumentasi, tentu saja Fahri tidak mengenal Aisha sebagai Sabina, karena ia ghadhul bashar (menundukkan pandangan), dan tidak fokus atensi padanya, karena dia bukan mahram. Ini masalah nilai-nilai yang dianut oleh si Super Fahri! Tetapi akan terus ada argumentasi tandingan, bukankah suaranya tidak diberi cadar? Apakah suaranya juga berbeda? Demikianlah. Genre fiksi realis-idealis, akan menuntut imajinasi yang rasional, seperti cara berfikir kontrafaktual, yang dimiliki manusia, walaupun ia mengingkari fakta, tetapi tetap saja berstruktur dan logis (Byrne, 2008). Persoalan-persoalan kebaikan hati Fahri yang ‘berlebihan’ boleh jadi mirip sebuah kerinduan akan penciptanya pada sosok yang mungkin asing pada saat ini: Baik hati, Penolong, Ganteng, Brilian dan digemari sebagian wanita (saya nggak demen sosok Fahri sih, wkwkwk. Terlalu baik, kurang menantang hahahah). Seperti film-film superhero Hollywood yang menurut saya adalah kerinduan pada sosok baik, ganteng, penolong dan super-duper. Tetapi sekali lagi perbedaan genre membuat otak kita serta-merta menerima atau tidak menerima ketidaklogisannya, karena cara kerja otak kita selain cenderung holistic tetapi sekaligus kategorikal, dengan cara yang berbeda antara satu individu dengan individu lain.

Jika bicara tentang selera dan nilai-nilai, tentu saja akan makin banyak lagi variasi komentar terhadap segala produk manusia, termasuk film ini, dan menurut saya kita pantas merayakannya. Angka satu juta limaratus dalam delapan hari tentu saja tidak bisa dianggap enteng. Terlepas dari apakah para penonton itu menonton karena diperintahkan oleh jamaahnya, ustadz/ustadzahnya, dosennya, suami/istrinya atau menonton karena merasa memiliki nilai-nilai sama dengan pengarangnya, atau menonton karena ingin mengkritisi, mengolok-olok atau sekedar penasaran, we have our own intention.

Sekali lagi, produk berpikir manusia dalam perspektif psikologi selalu berpijak pada perbedaan individu. Sebab bahkan dalam studi kembar sekalipun, individu berbeda satu-sama lain. Kognisi kita yang dibentuk secara biologis oleh jejalin herediter emak dan bapak kita, terjalin secara berbeda. Maka skema berpikir kita juga akan berbeda yang merupakan hasil saat berinteraksi secara sosial dengan emak-bapak kita, lalu kakek-nenek dan orang-orang signifikan lain di sekitar kita, lalu terbentuk sikap, preferensi, nilai-nilai, belief lalu ideologi.

Jika saja para kritikus film ini, berdialog dan memberikan usulan film lanjutan dengan mengambil perspektif salah-satu dari wanita Fahri, atau menghadirkan wanita lain yang vis a vis dengan gaya tutur film ini -yang cenderung menggunakan budaya maskulin (menempatkan laki-laki dominan terhadap wanita, dan wanita submisif terhadap laki-laki)- tentu akan lebih seru lagi, sebab terjadi dialog antar-budaya. Sebab sejujurnya, saya agak risih dengan dialog : Fahri..nikahi aku Fahri, aku mohon. :D, seolah-olah Fahri adalah lelananging jagad, tak terganti. Ah! Saya lupa, dia dikonsep super!

Demikianlah, film adalah produk budaya, dan semakin banyak variasinya buat saya sebagai penikmat, akan semakin berbahagia, jika dunia yang direpresentasikan melalui film ini, penuh warna.

Post Author: Intan Savitri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *