KIMRI | Cerpen Topik Mulyana

6 menit baca | JIKA Tuan seorang ahli sejarah, Tuan pasti tahu nama Desa Cibintinu. Itulah desa kami dulu. Di sinilah pelajar Soekarno bertemu dengan salah seorang leluhur kami, petani Marhaen. Ketika pelajar Soekarno menjadi kian ternama, nama leluhur kami itu acapkali disebut-sebut dalam pidato-pidatonya. Sudah pasti, kami merasa sangat bangga. Berpuluh tahun lamanya kami […]

Proses Kreatif Nenek Mallomo, Lelaki itu, dan Sepotong Kayu yang Bersandar

4 menit baca | Kemenangan saya di Lomba Penulisan Cerita Rakyat Kemendikbud 2015, membuat saya menerima banyak pertanyaan terutama seputar tips menulis cerita rakyat. Banyaknya pertanyaan yang muncul, mungkin karena peserta lomba yang diselenggarakan Kemendikbud ini, memang hampir menembus angka 3000 peserta lomba. Saya pun kaget campur senang ketika pertama kali saya dihubungi masuk 8 […]

Wawancara Eksklusif Bersama Juara Cerita Rakyat Nusantara 2015

4 menit baca | Halo FLP’ers. Kita akan berkenalan dengan  juara pertama Lomba Cerita Rakyat  Nusantara 2015 yang diadakan Kemendikbud. Yuk, langsung saja kita kenalan dengan Sabir atau yang lebih kita kenal, Daeng S. Gegge Mappangewa.  Selamat membaca! Kapan Daeng Gegge  mulai menulis dan kenapa menulis? Saya mulai menulis sejak SD kelas lima. Pertama kali […]

Pada Sebuah Subuh yang Terburu-Buru

7 menit baca | Seorang lelaki merapatkan jaketnya dan melangkah cepat-cepat pada sebuah subuh yang masih dini. Azan terdengar setengahnya, tadi dia sedikit termenung, agak gusar juga karena menyangka azan itu adalah azan panggilan shalat subuh. Tapi air mukanya berubah lagi setelah sadar bahwa yang terdengar sekarang baru azan awal. Dia menggelengkan kepala, masih agak […]

Attar

Jadi, siapakah jajak insan yang hendak kau jerat dengan jejala retinamu, Jelita? Tanpa peduli detak waktu yang terus berputar, kau terus saja menebar jaring pandangmu. Padahal, piranti penjeratmu begitu sempit. Sementara, padang ini membentang seluas mata memandang. Dan, tempat ini pun pastinya tak selaras dengan napas keindahan yang kau asakan. Ini bukan wahana penenggat penat. Bukan pula sarana rehat

Ambilkan Bulan, Bu!

“Aku tak mau lagi bermain denganmu!” kataku marah sambil melemparkan boneka-boneka kain dan rumah-rumahan kertas ke luar jendela. Kaca rumah masih berembun, buram dan berkabut setelah hujan menyambangi rumah kecil di tepi kota. Sunyi masih mengitari sudut-sudutnya dan bercak basah di langit-langit masih menitiki

Ice Cream

There was nothing special about me. I did not have much to tell you except the fact that I am a thirteen year-old boy who was crazy about ice cream. Yes. I liked ice cream very much. Chocolate, strawberry, vanilla, any tastes of ice cream that I could find in the small town I was living in. I’d like to eat ice cream in any kind of seasons

Humaira

Humaira, gadis cilik berusia 12 tahun itu meringkuk ketakutan seraya memeluk Umar, adiknya yang masih berusia lima tahun. Mereka bersembunyi di dalam almari dapur rumahnya yang gelap tanpa listrik. “Kakak, aku takut sekali…” Umar berbisik pelan. Tubuhnya menggigil ketakutan dan ia mulai menangis.

Selamat Datang, Cinta!

Lelaki itu mengusap wajahnya yang berpeluh. Langit malam terasa begitu memanas. Udara nyaris tak bergerak sehingga begitu menyesak ke tenggorokan. Entah berapa lama lagi ia harus berjalan, kedua kakinya sudah goyah dan gemetaran setiap kali melangkah. Sungguh sulit untuk

Mantra Penawar Bisa

Tadi malam aku bermimpi yang sangat aneh. Aku sedang berjalan di depan rumah ketika seekor ular berwarna coklat menghentikan langkah kakiku. Semula tubuhnya hanya sebesar jempol kaki dengan panjang tidak lebih dari sejengkal orang dewasa. Ular yang biasa