Karya Opini Pilihan Editor

Merayakan Komunitas Cerdas

milad flp 18Merayakan Komunitas

Merayakan komunitas sastra adalah semacam merayakan sebuah kebangkitan sastra Indonesia. Betapa tidak, ternyata komunitas sastra di negeri ini, saat ini, lebih dari 200 belum ditambah dengan komunitas sastra di kampus-kampus (Kompas, 1 Juni 2001). Tentu saja ini bisa dijadikan sebuah parameter kebangkitan dunia literasi di Indonesia. Dan di antara sekian ratus komunitas tersebut, terseliplah sebuah nama kecil Forum Lingkar Pena (selanjutnya disebut FLP). Sebuah komunitas sastra atau komunitas kepenulisan (begitu biasa kami menyebut) yang memiliki konsern meretas sastra yang mencerahkan.

Mengapa harus dirayakan? Itu pertanyaan besarnya.

Tentu saja ini bisa dikatakan semacam tahaddus binnikmah (pengungkapan rasa syukur yang sangat dianjurkan sekali dalam Islam). Tahaddus binnikmah insya Allah akan berefek menebar keoptimisan bagi negeri yang sedang didera banyak cobaan ini. Ya, kebangkitan komunitas sastra adalah sebuah kemudah-mudahan atau sebuah harapan hari depan. Karenanya FLP sebagai salah satu di antara komunitas yang tersebar itu sudah selayaknya berhitung kembali untuk sebuah langkah bersama dalam memperjuangkan budaya literasi tersebut.

Menurut saya, ada banyak sekali keuntungan bila jalan komunitas ini dirayakan dan dikukuhkan oleh para pengamat sastra dan dijadikan jalan kreatif oleh para sastrawan dan para penggiat literasi.

Keuntungan pertama adalah, dengan diangkatnya era komunitas ini dalam berbagai pengamatan dan kritik akan semakin membuat para penggiat komunitas lebih terkontrol dan menata ulang langkah-langkah geraknya sehingga efektif bagi kemajuan bangsa. Ini mungkin sedikit melambung, tetapi, saya sangat meyakini sesuatu yang tersistemkan akan mampu menghadapi pekerjaan besar kebudayaan dibandingkan dengan sesuatu yang bersifat improf dan sporadis. Ada baiknya para sastrawan dan budayawan yang memiliki ide dan gagasan brilian dalam mencari solusi kebudayaan di negeri tercinta ini bersinergis dengan komunitas dalam tataran pelaksanaannya. Bukankah PR besar bangsa ini sangat memerlukan sebuah langkah integral. Dan itu, insya Allah, akan mampu dilakukan oleh komunitas yang salah satu di antaranya bernama FLP.

Keuntungan kedua adalah akan terjadinya sebuah ruang fastabiqul khairat ’berlomba-lomba dalam (mencapai) kebaikan’ (terminologi berjuang menuju prestasi dalam Islam). Bahkan kalau mungkin ada semacam komunikasi permanen di antara komunitas sastra yang ada tanpa membedakan latar belakang visi-misi masing-masing. Pekerjaan besar itu akan dengan sinergis terselesaikan dengan cara duduk bersama tanpa saling merendahkan. Bila para sastrawan dan budayawan sering mengkritisi tentang betapa mustahilnya efektivitas perjuangan tanpa kesatuan dalam bidang politik dengan banyaknya partai, alangkah lebih baik makna dari sentilan itu diwujudkan pada gerak budaya bersama yang nota bene mudah-mudahan lebih “murni” niatannya daripada politik. Mudahan-mudahan jalan budaya bisa menjadi alternatif kesatuan bangsa karenanya.

Sastra dengan keluasan dimensinya tentu saja memungkinkan munculnya banyak ragam komunitas. FLP, misalnya, yang selama ini bergerak dalam sastra bernuansa religius populer yang bahkan sering diidentikkan dengan eksklusif sastra Islami sebenarnya bisa diajak bersinergi dengan komunitas lain yang sama-sama berkonsentrasi dalam perbaikan budaya literasi tersebut. FLP yang genap 18 tahun ini harusnya bisa menjadi wakil dari margin kanan (bila memang dikotomi itu masih populer) dunia kesastraan yang kemudian akan bekerja sama dengan margin-margin kesusastraan lainnya untuk meningkatkan keberbudayaan di negeri tercinta ini. Tentu dalam usianya yang masih muda ini FLP sangat perlu sekali mendapat bimbingan pada sisi-sisi peningkatan kualitas dan sebaliknya FLP bisa berbagi dalam berstrategi menyusun barisan rapi yang kemudian akan sangat diperlukan untuk solusi bangsa ini. Karenanya, suatu saat tidak ada lagi ungkapan-ungkapan saling melecehkan antarkomunitas karena itu adalah hal yang paling kontraproduktif. Namun, tentu saja saling berdiskusi, memberi masukan pada beberapa hal di antara komunitas, sangatlah diperlukan.

Perbedaan paradigma gerak atau ideologi mungkin bisa menjadi penghalang bagi komunikasi tersebut, tetapi di sisi lain bisa menjadi triger bagi aspek kualitatif gerak. Kira-kira apa yang diperlukan oleh bangsa ini, itu yang kemudian diperjuangkan bersama. Sepertinya tampak mustahil ide ini, tapi itulah hal yang (menurut saya) harus dilakukan. Tulisan ini bisa disebut semacam ajakan untuk melangkah dengan produktif.

Keuntungan ketiga adalah akan munculnya peta perjuangan literasi untuk bangsa ini. Bila mungkin ada tumpang tindih, hal itu bisa disinergiskan, atau bahkan berbagai komunitas ini akan saling berbagi ruang gerak sehingga gerakan literasi menjadi terintegrasi. FLP yang alhamdulillah dalam usianya yang ke sepuluh telah memiliki tiga puluh wilayah di dalam negeri dan delapan wilayah di luar negeri serta sekitar lima puluh cabang di dalam negeri akan semakin bermakna geraknya bila bersinergis dengan kekuatan komunitas lain yang tersebar di berbagai wilayah yang di wilayah tersebut juga FLP ada. Kekuatan keorganisasian dan kuantitas keanggotaan bisa dijadikan energi gerak bagi sinergi tersebut. Sebaliknya, kekuatan link, kualitas kekaryaan, dan referensi bisa menjadi kekuatan berbagi dari komunitas lain. Selain itu, dalam gerak sosial juga kemungkinan itu bisa disinergiskan. Contoh untuk hal ini adalah ketika bencana terjadi di beberapa daerah di negeri kita, persatuan komunitas ini bisa saling menyambung napas. Saat bantuan buku dan pendirian perpustakaan untuk Aceh tampak terlalu besar untuk ditangani, akan menjadi ringan bila beban bantuan ditanggung bersama. Belum lagi bencana lain menyusul kemudian. Saat di Aceh Tamiang para sukarelawan kemanusiaan memerlukan bantuan buku dan tenaga, saat itu, FLP telah (seolah) kehabisan napas.

Keuntungan berikutnya adalah ada semacam kritik karya lintas komunitas, bahkan bila ada forum tersendiri untuk hal ini akan lebih baik. Saat FLP terus berkarya dan lebih mengutamakan kuantitas dari pada kualitas pada sepuluh tahun pertama, komunitas lain akan memberikan masukan yang kritis dengan upaya terbuka lewat komunikasi yang terbuka pula. Hal ini, tentu saja akan mengeliminasi sistem kritik yang berbau gosip dan stereotipe. Karya-karya FLP yang sampai saat ini sudah melebihi empat ratus buku bisa secara objektif dijadikan bahan kajian bagi individu maupun komunitas lain. Begitu pun sebaliknya, FLP, bisa belajar “membaca” karya hasil komunitas lain dengan pembacaan kritis. Dari proses inilah akan terdapat nilai pembelajaran yang mudah-mudahan bemakna untuk perbaikan kualitas karya.

Menggagas Jalan Cerkas

FLP yang oleh Taufiq Ismail disebut sebagai anugerah bagi Indonesia sudah seharusnya menimbang kembali jalan yang selama ini ditapakinya. Jalan yang semula hanya (melulu) memperbanyak anggota dan karya, kini harus dibarengi dengan jalan-jalan lain yang memiliki nilai kecerkasan. Nilai-nilai kesigapan atas problema yang lebih luas dari sekadar jumlah. Ya, jumlah anggota yang lima ribu lebih yang lima ratus di antaranya penulis produktif itu harus dimasukkan pada sistem yang lebih bersifat kualitatif. FLP harus mengubah asumsi tentang jumlah anggota lima ribu itu. Asumsi yang semula menganggap bahwa jumlah sebanyak itu adalah prestasi menjadi asumsi yang menganggap jumlah sebanyak itu sebagai amanah yang harus ditangani.

Melalui logika semacam itu akan kemudian muncul kecenderungan baru yang cerkas terhadap kerinduan masyarakat akan karya-karya anak bangsa yang bekualitas. FLP nantinya tidak hanya menggenapi karya-karya populer dan menghibur semata seperti yang dianut oleh logika kebudayaan populer nasional maupun global, tetapi menggenapi juga karya-karya yang menoreh makna bagi perubahan generasi kreatif bangsa. Karya yang secara estetika bermutu dan secara moral memiliki kejanggalan tertentu harus dihadapi oleh karya yang secara estetika bermutu dan memiliki nilai moral yang lurus. Begitulah seterusnya. Jadi, FLP harus telah memiliki dua marhalah (tahapan sistematis). Kuantiatif dan kualitatif. Popular dan interpretatif-inspiratif.

Alhamdulillah, jalan cerkas ini sudah mulai ditapaki. Saya melihat bermunculannya geliat penulis-penulis potensial di tiap-tiap wilayah dan cabang. Dari Aceh sampai Nusa Tenggara Barat. Dari Hongkong sampai Amerika. Dari masing-masing wilayah tersebut muncul geliat yang dilahirkan dari perubahan asumsi gerak tadi. Saya membayangkan bila dari masing-masing wilayah dan cabang tersebut muncul minimal dua orang saja yang serius berkarya, setidaknya ada 76 sastrawan dari seluruh wilayah yang ada yang akan meramaikan dunia literasi negeri ini. Belum lagi bila hitungannya cabang, maka akan lebih dari 100 penulis yang hadir. Bila kita sebut 100 orang tersebut adalah satu angkatan, maka akan diikuti oleh angkatan-angkatan berikutnya. Bila logika periodiknya adalah persepuluh tahun, maka akan terdapat 200 penulis yang meramaikan dunia literasi Indonesia sepuluh tahun mendatang.

Bila terkesan masih kuantitatif dan kurang logis, kita ambil persentasi yang sederhana saja, misalnya, sepuluh persen dari 200 penulis tersebut, 20 orang. Ya, masuk akal bila sepuluh tahun mendatang akan muncul penulis-penulis, sastrawan-sastrawan, yang keluar dari kawah candradimuka FLP. Dua puluh orang terpilih yang tidak main di dalam kandang FLP dan penerbitan Islam saja, tetapi telah menjadi milik bangsa ini. Untuk menuju titik itu tentu saja diperlukan tahapan-tahapan yang sistematis yang harus diupayakan. Menurut saya jalan itu setidaknya ada sepuluh.

1. Mengoptimalkan kembali sistem pengkaderan yang rapi dan terkontrol. Pada sisi ini FLP jelas memerlukan uluran tangan komunitas dan individu berkualitas luar FLP yang telah memiliki begitu banyak pengalaman. Dan jalan ini sudah mulai ditapaki. Tak terkira FLP mengucapkan terima kasih pada sastrawan-sastrawan yang juga ikut membina FLP, seperti Taufik Ikram Jamil, Isbedi Setiawan Z.S., Ahmad Tohari, Agus R Sarjono, Maman Mahayana (untuk sekadar menyebutkan beberapa nama). Tentu saja mereka yang telah secara formal dilibatkan di FLP lebih-lebih lagi rasa terima kasih ini terucap (Ust. Rahmat Abdullah alm., Taufiq Ismail, Ahmadun Yosi Herfanda, Jamal D. Rahman, dan Joni Ariadinata). Dalam hal ini bahkan FLP ke depan diharapkan bisa menyumbangkan sistem pengaderan yang dibuatnya untuk masyarakat luas dengan mendirikan Sekolah Menulis FLP, misalnya. Kemungkinan untuk hal ini sangat jelas bahkan beberapa penerbit sudah siap mendukung. Tentu saja setelah dibuatnya kurikulum dan tenaga pengajar yang layak.

2. Mengubah alur penerbitan karya. Bila sebelumnya FLP seperti “dimanja” oleh penerbit-penerbit Islam, kini saatnya FLP menjajaki alur lain, yaitu dengan ikut berjibaku dengan penulis lain untuk dimuat di media massa tanpa menggeser alur pertama. Dan jalan ini sudah mulai ditapaki dan terus dikampanyekan, dengan bukti telah muncul semacam “serangan” karya FLP pada media lokal dan nasional. Tak kurang surat kabar seperti Republika, Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Seputar Indonesia, Jawa Pos, dll yang sekupnya nasional telah disambangi oleh penulis-penulis FLP di antara mereka ada Alimudin (Aceh), Ade Efdira (Padang), Palris Jaya (DKI), Zaenal Radar T (DKI), Denny Prabowo (Depok), dan Wildan Nugraha (Bandung). Sedangkan surat kabar lokal bahkan telah secara resmi maupun tak resmi menampung karya-karya FLP (Aceh Megazine, Serambi Minang, Batam Pos, Radar Bandung, utk sekadar memberi contoh media lokal tsb). Ke depan jalan ini bisa dijadikan jalan primer, sedangkan ke penerbit adalah jalan sekunder setelah proses menembak media ini terlewati. Atau dua-duanya bisa berbarengan dilalui untuk jenis tulisan yang berbeda, Namun, kampanye menembus media adalah kampanye utama sebagai jalan proses pembinaan. Dari proses ini, nantinya akan meningkatkan kepercayaan penerbit pada kualitas karya anggota FLP. Penerbit-penebit yang selama ini menyokong FLP (Syaamil, LPPH, Mizan, GIP, Zikrul Hakim, Senayan Abadi, Beranda Hikmah, Era Intermedia, FBA Press, Pustaka Latifah, Karya Basmala, Khairul Bayan, Bening Publishing, MQ Publishing, Penerbit Republika, dll).

3. Mengupayakan adanya media pengayaan wawasan FLP berupa Jurnal yang secara rutin bisa menjadi pengantar bagi eksplorasi kreativitas dan menambah wawasan dunia literasi. Jurnal yang bisa memenuhi aspek pengembangan wawasan adalah hal yang sangat diperlukan oleh FLP saat ini. Tentu saja Jurnal ini hanya menggenapi media-media peningkat wawasan kebudayaan dan kesastraan seperti majalah Horison, Annida, Jurnal Kalam, Jurnal Cerpen, Jurnal Puisi, Jurnal Al-Huda, Jurnal Islamia, Jurnal Basis, Majalah Mata Baca, dan lain-lain.

4. Mendorong anggota FLP untuk terus mengikuti berbagai lomba yang diadakan oleh berbagai lembaga, baik tingkat lokal maupun nasional. Hal ini perlu ditegaskan untuk semakin menguatkan atmosfir peningkatan kualitas. Apa yang telah diraih oleh Asma Nadia , Tasaro, Agustrianto, Sakti Wibowo, Deni Prabowo, Aep, dan lain-lain harus diikuti oleh anggota lain. Mudah-mudahan dengan hal ini akan semakin menguatkan capaian prestasi sebagai salah satu parameter kualitas karya.

5. Menekankan fokus penulisan pada aspek lokalitas sehingga kekuatan subkultur menjadi warna yang bisa ditawarkan. Ini adalah salah satu titik lemah FLP yang semakin hari semakin diprogramkan untuk diminimalkan, yaitu belum terbiasanya menuliskan aspek budaya lokal sebagai ruh kekaryaan. Memang, kecenderungan itu sudah mulai ada dengan digemarinya sastra sejarah dan latar kedaerahan di FLP (Helvy Tiana Rossa, Habiburahman el –Shirazy, Sinta Yudisia, Afifah Afra, Sakti Wibowo, Tasaro, Aswi, dll). Namun, penggarapannya masih belum intens alias masih artivisial. Saya lihat penyebab yang paling utama adalah pengerjaan karya yang “kejar terbit” sehingga tak heran bila di FLP ada yang mampu menyelesaikan novel dalam empat hari, sedangkan bila kita lihat pengerjaan-pengerjaan karya kreatif yang intens memerlukan waktu riset dan pengerjaan yang tidak sebentar.

6. Menyeimbangkan antara aspek eksternalisasi dan internalisasi pada tiap individu anggota. Maksudnya, aspek promosi yang selama ini gencar dilakukan lewat berbagai media (millis pembaca, blog, situs, dsb) berkenaan dengan karya individu harus dibarengi oleh kesadaran internalisasi berupa pengayaan demi pengayaan wawasan dan proses pematangan karya lewat diskusi-diskusi terfokus di masing-masing cabang dan wilayah. Hal ini akan menyeimbangkan antara hingar bingar pasar yang tak kenal kompromi dan (terkadang) manipulatif dengan proses kreatif penulis yang cenderung berada pada dunia sunyi tanpa pretensi ketokohan dan pasar. Keseimbangan antara proses berkarya dan proses pemasaran harus disekularisasi.

7. Meningkatkan peran serta anggota FLP dalam forum-forum nasional maupun internasional. Hal ini sudah diretas oleh Helvy Tiana Rossa sebagai pendiri dengan mengikuti MASTERA yang kemudian merekomendasikan adik-adik potensialnya untuk ikut pada periode selanjutnya setelahnya. Selain itu, forum regional semacam 2nd Asean Literary Forum di Gwang Ju, Korea Selatan, juga sempat diikuti oleh Asma Nadia dan penulis sendiri. Pertemuan-pertemuan semacam ini akan meningkatkan pengalaman bergaul dengan para pegiat literasi lintas budaya. Selain itu, forum-forum di dalam negeri juga mulai diikuti, seperti forum Sastra Senja yang diupayakan DKJ dan even lain DKJ dan acara Ode Kampung; temu sastrawan sekampung Nusantara di Banten. Tentu saja masih banyak forum yang bisa diikuti oleh anggota FLP. Dan ini menjadi target langkah selanjutnya.

8. Memperbanyak potensi akademisi kesastraan khususnya dan kebudayaan pada umumnya dalam tubuh kepengurusan dan keaggotaan FLP. Ya, untuk menguatkan kontrol kualitas dan upaya pembinaan, keterhubungan FLP dengan kampus akan terus dupayakan. Saat ini, setidaknya baru lima orang anggota FLP yang juga sebagai dosen sastra, yaitu Ronidin di Unand, Firman Venayaksa di Untirta, Helvy Tiana Rossa di UNJ, M. Irfan H. di Unpad, dan Kusmarwanti di UNY. Saya sangat yakin dalam waktu tak terlalu lama potensi-potensi akademisi ini akan semakin meningkat seiring banyaknya mahasiswa sastra yang bergabung di FLP. Selain itu, potensi budayawan yang memang sedang mengisi amunisi lewat program S2 ,di dalam dan di luar negeri, yang sedang maupun akan dijalani akan menggenapi potensi pengurus dan anggota FLP suatu saat.

9. Berpartisipasi dalam lembaga-lembaga kebudayaan sudah selayaknya lebih digalakan seperti keterlibatan Helvy Tiana Rossa di DKJ, Yus R. Ismail di Forum Film Bandung dan M. Irfan H. di Pusat Kajian Lintas Budaya. Keinginan untuk bergabung dengan lembaga-lembaga lain dan berkiprah di dalamnya bukanlah sebuah tindak penggembosan FLP, melainkan hal yang sangat dianjurkan sebagai langkah selanjutnya kiprah anggota FLP. Ini juga salah-satu kontribusi FLP pada negeri ini.

10. Dan yang tak kalah pentingnya adalah mengoptimalkan pengembangan dan peran Rumah Cahaya (Rumah Baca dan Hasilkan Karya) sebagai sisi filantrofi gerak FLP. Rumah-rumah Cahaya yang telah berdiri (Rumcay Depok, Penjaringan, Aceh, Bandung, Pekalongan, dll) bisa menjadi contoh bagi wilayah dan cabang yang terus berkembang dan ingin lebih menancapkan akarnya pada masyarakat. Program Rumcay yang dekat dengan pengabdian pada msyarakat adalah sisi praktis aktivitas FLP. Lewat Rumcay yang optimal FLP akan menjadi bagian dari komunitas yang serius memperhatikan derajat literasi bangsa ini secara langsung. Apa yang telah dlakukan oleh Rumcay dengan bantuan-bantuan buku ke Aceh dan Jogjakarta (saat terjadi bencana) adalah langkah awal bagi program-program selanjutnya. Tentu saja, yang harus gencar dilakukan adalah upaya menarik donatur dan mencari sistem menuju hal tersebut.

Setidaknya, sepuluh langkah tersebut adalah sepuluh upaya meneguhkan jalan cerkas di tengah bangsa yang memerlukan sebuah langkah nyata anak bangsa pada sepuluh tahun usia Forum Lingkar Pena. Dengan cara itulah tentunya FLP patut merayakan kebertahanan dan masa depan kekomunitasannya. Selain itu, sebagaimana dituliskan di awal bahwa FLP mengajak berbagai komponen masyarakat sastra (para sarjana dan ahli sastra, para pencipta sastra, dan para pencinta atau penikmat sastra [Hardjana:1994]) untuk merayakan komunitas sebagai ruang bagi perbaikan literasi bangsa ini. Wallahu’alam bisshawab.

Bumi Sentosa, Medio Februari

*Repost dari tulisan Kang M. Irfan Hidayatullah, dengan judul, “Merayakan Komunitas, Menggagas jalan Cerkas: 10 Tahun Forum Lingkar Pena”, yang dirilis pada milad FLP ke -10 tahun 2007. Dengan pengubahan sedikit di dalam judul. Semoga masih relevan dibaca kembali. Terima kasih.

Related posts

Visi Ketuhanan dalam Berkarya (bag 4 )

Thomas Utomo

Kebudayaan Indonesia Dalam Imajinasi

Kontributor FLP

HIKAYAT

Azzura Dayana

Leave a Comment