Menghidupkan Ekosistem Perbukuan di Indonesia (Bagian 2-Selesai)

2 menit baca |

Baca juga: Bagian 1 Menghidupkan Ekosistem Perbukuan di Indonesia – Berbagai Permasalahan Dunia Perbukuan

Berbagai Usulan Solusi

Secara umum, dunia perbukuan di Indonesia memang sedang dipayungi awan tebal. Agar buku tak lenyap dari negeri ini, para pelaku perbukuan harus segera mengambil langkah-langkah sebagai berikut.

Pertama, langkah dari pemerintah. Saat masih menjabat sebagai Mendikbud, Anies Baswedan menggencarkan ekosistem perbukuan sekolah. Buku-buku harus masuk ke sekolah sehingga terjadi interaksi yang baik antara siswa dengan pelaku perbukuan. Sejumlah aturan diterbitkan, misalnya Permendikbud No 23 Tahun 2015 yang mengatur tentang kegiatan sehari-hari di sekolah yang harus diterapkan, di antaranya membaca buku non-pelajaran 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai, disusul dengan Permendikbud No 8 Tahun 2016 tentang buku yang digunakan oleh satuan pendidikan. Pelaku Perbukuan berharap RUU Perbukuan yang saat ini masih dalam proses penggodokan bisa segera disahkan.

Selanjutnya pemerintah diharapkan cukup menjadi regulator, fasilitator, pembina, pengawas dan penilai saja dalam masalah perbukuan. Bukan justru ikut terlibat sebagai penerbit sebagaimana saat menerbitkan BSE yang secara fakta telah melemahkan banyak penerbit  buku pelajaran. Pemerintah juga diharapkan cukup matang dalam menggodok sebuah kebijakan, sehingga peristiwa semacam penerbitan Kurikulum 2013 yang kemudian dibatalkan tidak terjadi lagi. Anggaran untuk belanja buku ke penerbit sebaiknya juga dinaikkan, seiring dengan perbaikan sistem penilaian buku yang dilakukan pemerintah terhadap penerbit.

Kedua, langkah dari pelaku utama industri perbukuan,  yaitu penerbit, penulis, distributor dan berbagai unsur yang saling terkait. Teknologi tidak bisa dijadikan kambing hitam, sebab perubahan teknologi adalah sebuah keniscayaan. Industri buku harus secepatnya menerapkan alih teknologi. Buku fisik memang masih dibutuhkan masyarakat, akan tetapi, lambat laun buku fisik pasti akan berkurang. Penerbit harus mencoba berbagai platform, misalnya e-book. Ikapi perlu meng-upgrade anggota-anggotanya berbagai skill alih teknologi. Selain itu, dengan ekosistem perbukuan yang dikembangkan oleh pemerintah, penerbit harus agresif menawarkan produk-produknya. Tentu produk yang ditawarkan harus produk yang unggul, mendidik, memiliki performance yang bagus, dan harganya terjangkau.

Teknik marketing juga harus berubah. Menurut Kotler dan Keller (2009), memang telah terjadi perubahan secara revolusioner di dunia marketing dewasa ini. Filosofi marketing sudah bukan lagi berbasis produk, alias mencetak buku sebanyak-banyaknya sehingga bisa menjual dengan murah. Tetapi, marketing harus benar-benar mampu melihat, apa kebutuhan pasar, menjawab dengan produk yang berkualitas, dan mengkomunikasikan dengan baik produknya. Pasar sudah bergerak ke dunia cyber, maka penerbit harus mulai bergeser untuk melakukan komunikasi produk yang efektif di dunia cyber. Hingga saat ini, masih ada penerbit di Jateng yang belum memiliki website, akun media sosial, alih-alih memanfaatkannya dengan baik.

Ketiga, langkah berbagai unsur pelaku perbukuan seperti sekolah, perpustakaan dan masyarakat. Berbagai unsur ini, bersama dengan pemerintah dan pelaku industri perbukuan harus menyadari bahwa ekosistem buku harus dihidupkan. Sekolah bisa memotivasi siswanya agar program 15 menit bisa menjadi stimulus terbentuknya tradisi membaca. Perpustakaan tidak sekadar bangunan “mati” dengan rak-rak berisi buku, tetapi juga harus hidup dengan program-program yang menarik masyarakat.  Masyarakat pun seyogyanya menganggarkan dana untuk belanja buku. Jika mentradisikan baca buku kepada orang dewasa yang sudah telanjur asing dengan buku itu sulit, kita bisa memfasilitasi anak-anak kita, sehingga akan tumbuh generasi baru yang akrab dengan buku dan dunia literasi.

Dengan peran aktif semua pelaku perbukuan, saya meyakini bahwa ekosistem perbukuan akan benar-benar hidup, bukan hanya di sekolah dan perpustakaan, tetapi juga di keluarga, di taman-taman kota, halte-halte bus, rumah makan, terminal, stasiun, bandara dan sebagainya. Betapa indahnyadi seluruh sudut negeri ini tumbuh dan berkembang ekosistem buku yang rimbun dan kokoh.

Post Author: Afifah Afra

3 thoughts on “Menghidupkan Ekosistem Perbukuan di Indonesia (Bagian 2-Selesai)

    Sukmawati

    (27 Agu 2016 - 4:53 pm)

    Menarik.
    Munculnya era teknologi atau gadget memang seringkali membuat orang berpikir praktis. Seperti halnya dalam mencari data/informasi yang dibutuhkan melalui internet. Langkah yang bijak jika ‘ekosistem perbukuan’ itu harus dihidupkan.

    Nurwiyati

    (5 Jan 2018 - 4:12 pm)

    Sebagai seorang guru bahasa dan sekaligus kepala perpustakaan di sebuah smp, saya merasa sangat prihatin melihat sebagian anak sekarang yang kurang memiliki ketertarikan terhadap buku. Hanya sebagian kecil dari mereka yang senang membaca. Dengan adanya gerakan-gerakan cinta buku baik dari pemerintah atau lembaga seperti flp diharapkan mampu menumbuhkan minat baca siswa atau masyarakat.

    Dody Purwanto

    (5 Feb 2018 - 11:50 am)

    Siip deh. Pemerintah bisa membuat kebijakan yang mengharuskan siswa, mahasiswa untuk membaca buku dan kurikulum pendidikan harus berisi program literasi sebagai syarat kenaikan kelas maupun kelulusan. Kalau perlu anak diwajibkan menyerahkan rekaman video saat dia sedang membaca buku dengan suara yang terdengar jelas seperti guru yang sedang mendikte sebagai syarat untuk mendapatkan nilai. Sehingga memancing anak untuk hobi membaca buku. Dan bisa juga mewajibkan setiap pegawai negeri membaca lima buku sebulan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *