Membincang Status Buku Mengubah Paradigma

5 menit baca |

Setiap penulis, pasti berharap bukunya best seller atau laris manis di pasar.

Bila royalti 1 buku 10 % dan harga buku Rp50.000 misalnya, maka penulis mendapat Rp5.000  per buku. Kalau buku terjual  3000 eksemplar, wah, dalam satu periode pembayaran royalti mendapatkan Rp15.000.000. Maka, penulis yang bukunya best seller biasanya dapat membeli laptop, komputer, sepeda motor, bahkan mobil dan rumah. Dapat naik haji dan umroh, melakukan perjalanan keluar negeri dan seterusnya. Senang ya?

Kapan buku disebut best seller?

Berbincang tentang best seller tentu tidak mudah. Sebab, best seller belum tentu sama dengan best quality. Ada buku-buku yang menang lomba, sangat bagus tema dan idenya, cantik diksinya, namun buku tersebut tidak begitu laku dipasaran. Penyebabnya bermacam-macam. Mulai cover yang kurang menarik, penulis yang kurang dikenal, promosi yang kurang gencar serta momen yang tidak pas.

Dalam perjalanan kepenulisan, tidak semua buku-buku saya best seller. Buku dengan penjualan best seller antara lain Lafadz Cinta, Pink, Rinai, The Road to The Empire dan alhamdulillah sekarang Psikologi Pengantin.

Yang very fast moving saat baru terbit adalah The Road to The Empire.

Buku yang hingga kini masih diminati dan terus ditanyakan pembaca adalah Rose, Rinai, Bulan Nararya, serial Takudar : Sebuah Janji, The Lost Prince, The Road to The Empire dan Takhta Awan. Buku anak-anak pun demikian seperti Janji Cici dan Ketika Upi Bertanya.

Apa sebab buku tersebut laris manis?

  1. Karena covernya : Lafadz Cinta, Pink. (ada pembaca yang menyangka penulisnya adalah yang terpampang di cover. Hellooo….itu Karina Kapoor, plis. Penulisnya lebih cantik, lho hehehe
  2. Karena kisahnya yang spesifik : serial Takudar. Tidak setiap penulis menyukai seting Mongolia dan mengangkat tokoh yang jarang dikenal. Saya memang sudah lama jatuh cinta dengan Takudar, sejak menemukan buku warisan ayah berjudul The Preaching of Islam Thomas W. Arnold.
  3. Karena kisahnya yang sederhana : Rose dan Lafadz Cinta. Rose dan Lafadz Cinta ini sebetulnya kisah cinta yang sederhana, setiap penulis insyaallah bisa menulisnya. Bandingkan dengan serial Takudar yang mungkin tidak setiap penulis bisa menuliskan setting Mongolia sebab memang tidak terlalu menyukai dataran China, gurun Gobi dan sejarah Jenghis Khan (Genghis Khan).
  4. Karena momentnya yang pas : Rinai bersetting Palestina. Novel ini tergolong lumayan ‘berat’ sebab berbau psikologi. Namun momen yang tepat, bersamaan dengan momen Palestina, novel ini cukup laris di pasar.
  5. Karena dibutuhkan masyarakat : Psikologi Pengantin. Banyak anak muda dan pasangan baru yang butuh panduan psikologis tentang pernikahan dan bagaimana merawat hubungan agar tetap seperti pengantin baru. Sepertinya, kebutuhan pasar inilah yang membuat Psikologi Pengantin dapat naik cetak yang kedua dalam jangka waktu 3 bulan sejak terbitnya.

 

Buku Write Off

Buku write off adalah buku yang ditarik dari pasaran karena sudah dianggap tidak layak jual (duh sediiih banget … hiks). Buku ini biasanya dikembalikan hak terbitnya kepada penulis dan penulis berhak untuk: merevisi naskah, menyerahkan pada penerbit lain, menerbitkan dalam bentuk e-book atau menerbitkan di blognya pribadi.

Sebetulnya, buku write off belum tentu berarti  buku itu jelek, lho.

Buku ditarik dari pasaran kemungkinan momennya kurang tepat, promosinya kurang gencar. Banyak buku write off yang dikembalikan ke penulis lalu penulisnya menjual via online dan buku tersebut malah laris manis.

 

Bagaimana membuat buku best seller?

Manusia wajib berusaha. Allah Swt yang akan merumuskan akhir perjalanan kita, termasuk bagaimana nasib naskah-naskah yang ditulis dengan segenap pengorbanan. Nyaris, tidak ada penulis yang sembarangan ketika menuliskan sebuah karya, walau ia hanya selarik puisi.

Bila ingin buku best seller, ayo kita saling berbagi ilmu. Pengalaman saya di bawah, semoga bermanfaat buat saya pribadi dan buat orang lain.

  1. Cover. Jangan main-main dengan cover. Orang Indonesia suka sekali dengan tampilan dan kemasan. Cover Lafadz Cinta, saat itu sedang booming cover buku menggunakan wajah seseorang. Kalau sekarang novel saya diterbitkan dengan cover wajah, mungkin orang tidak melirik. Diskusikan dengan editor, ilustrator, apakah jenis cover yang menarik di pasaran saat ini. Penulis harus sering jalan-jalan ke toko buku dan melihat apa sih buku yang sedang digemari kalangan tertentu. Cover Pink pun demikian eye catching maka kumpulan cerpen Pink sangat laris saat itu.
  2. Judul. Ternyata, judul buku juga berpengaruh. Dari hasil diskusi dengan banyak orang, ternyata judul buku harus sederhana dan tidak multitafsir. Kitab Cinta Patah Hati, Cinta x Cinta, dan Psikologi Pengantin adalah buku-buku motivasi cinta yang saya tulis dengan mengumpulkan referensi psikologi puluhan bahkan ratusan. Namun , tidak semua buku itu diterima pasar dengan baik. Kata para pembaca, Cinta x Cinta menimbulkan multitafsir : ini apa sih isinya? Walaupun cover dan tampilan buku itu untuk remaja. Sementara Psikologi Pengantin jelas mengarah pada orang yang mau menikah, ingin menikah, atau baru menikah.
  3. Promosi. Rajin- rajinlah promosi di media sosial : blog, twitter, instagram, fanpage, facebook. Dengan harapan, audience semakin sadar bahwa ada buku manis sedang terbit di pasaran. Setiap orang yang menanyakan buku ini coba ditanggapi, sekalipun hanya bertanya: berapa harganya? Ada di pasaran enggak? Walaupun kadang-kadang pembaca dan khalayak menanyakan hal-hal yang membuat penulis bersedih: ada diskon? Ada gratisan? 200 halaman buku baik novel atau non fiksi, ditulis setidaknya 1 bulan lebih. Ada yang 3, 6 bahkan 24 bulan! Malah ada yang bretahun-tahun! Betapa sedihnya ketika khalayak masih beranggapan buku tersebut seharusnya lebih murah dari Rp50.000. Tetapi, penulis sedang mengkomunikasikan karyanya dengan pembaca. Maka penulis harus bermental positif untuk meyakinkan khalayak: buku ini layak Anda miliki sekalipun uang Anda akan berkurang Rp50.000
  4. Paket. Kalau buku sudah write off, ambil saja oleh penulis. Jual dengan sistem paket. Biasanya , pembaca suka membeli dengan sistem paket ini sebab ongkos kirimnya sekalian. Sistem paket juga mereduksi harga buku. Penulis senang, pembaca juga senang.
  5. Doa. Ini faktor X yang tidak boleh dilupakan siapa saja. Hanya Allah Swt pemberi rezeki. Bila rezeki royalti belum milik penulis, mungkin rezeki yang lain mengintip. Rezeki menang lomba, rezeki cerpen dimuat di koran atau majalah, rezeki mengisi acara dll. Mental positif akan membuka pintu rezeki, insyaAllah.

 

*Sinta Yudisia. Ketua Umum FLP periode 2013-2017. Magister Psikologi Profesional. Beliau dapat dihubungi melalui email: [email protected] atau twitter: @penasinta.

 

 

Post Author: Sinta Yudisia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *