LITERASI BERKEADABAN; Membangun Budaya Ilmu yang Beradab*

11 menit baca |

Oleh DR. ADIAN HUSAINI**, FLP.or.id – Ada yang menyebutkan definisi “literasi” sebagai berikut: “Kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.”  (http://www.komunikasipraktis.com/2017/04/pengertian-literasi-secara-bahasa-istilah.html).

Definisi “literasi” ini semakna dengan definisi “Budaya Ilmu” yang digagas oleh pakar pendidikan Islam internasional, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud:

“Budaya ilmu antara lain bermaksud kewujudan satu keadaan yang setiap lapisan masyarakat melibatkan diri, baik secara langsung mahupun tidak langsung, dalam kegiatan keilmuan bagi setiap kesempatan. Budaya ilmu juga merujuk kepada kewujudan satu keadaan yang segala tindakan manusia baik di tahap individu, apatah lagi di peringkat masyarakat, diputuskan dan dilaksanakan berdasarkan ilmu pengetahuan, sama ada melalui pengkajian mahupun syura. Dalam budaya ini, ilmu dianggap sebagai satu keutamaan tertinggi dalam sistem nilai pribadi dan masyarakat di setiap peringkat.” (Wan Mohd Nor Wan Daud, Budaya Ilmu (Satu Penjelasan), (Pustaka Nasional Pte-Ltd, Singapura, 2003), hlm. 34)

Sedangkan istilah ‘berkeadaban’ atau ‘beradab’, berakar pada kata “adab”, yang oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas diartikan sebagai: “Pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hierarkis sesuai dengan berbagai tingkat dan derajat tingkatan mereka dan tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan kapasitas dan potensi jasmaniah, intelektual, maupun rohaniyah seseorang.” (Al-Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Bandung : Mizan, 1984, hlm. 63).

Pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, menjelaskan pentingnya kedudukan adab dalam ajaran Islam: ”At-Tawhīdu yūjibul īmāna, faman lā īmāna lahū  lā tawhīda lahū;  wal-īmānu yūjibu al-syarī’ata, faman lā syarī’ata lahū, lā  īmāna lahū wa lā tawhīda lahū; wa al-syarī’atu yūjibu al-adaba, faman lā  ādaba lahū, lā syarī’ata lahū wa lā īmāna lahū wa lā tawhīda lahū.” (Hasyim Asy’ari, Ādabul Ālim wal-Muta’allim, Jombang: Maktabah Turats Islamiy, 1415 H).

Jadi, kata KH Hasyim Asyari, “Berdasarkan beberapa hadits Rasulullah saw dan keterangan para ulama di atas, kiranya tidak perlu kita ragukan lagi betapa luhurnya kedudukan adab di dalam ajaran agama Islam. Karena, tanpa adab dan perilaku yang terpuji maka apa pun amal ibadah yang dilakukan seseorang tidak akan diterima di sisi Allah SWT (sebagai satu amal kebaikan), baik menyangkut amal qalbiyah (hati), badaniyah (badan), qauliyah (ucapan), maupun fi’liyah (perbuatan). Dengan demikian, dapat kita maklumi bahwa salah satu indikator amal ibadah seseorang diterima atau tidak di sisi Allah SWT adalah melalui sejauh mana aspek adab disertakan dalam setiap amal perbuatan yang dilakukannya.”

Pentingnya adab telah ditekankan dalam al-Quran, hadits, dan para ulama.
Imam Ibnu Katsir, dalam Kitab Tafsirnya, menyebutkan, bahwa Ali bin Abi Thalib r.a. memaknai perintah Allah “Qū anfusakum wa-ahlȋkum nārā”, dengan “addibūhum wa ‘allimūhum (didiklah mereka agar beradab dan ajari mereka ilmu).

Umar ibn al-Khattab r.a. juga menyatakan: “Taadabû tsumma ta‘allamû (beradablah kalian, kemudian raihlah ilmu). (Lihat, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, al-Ghunyah li Thâlibî Tharîq al-Haq, (Beirut:al-Maktabat al-Sya’biyah, tanpa tahun), hlm. 54).

Seorang ulama besar, Al-Laits Ibn Sa’ad memberi nasehat kepada para ahli hadits: “Ta’allamul hilm qablal ‘ilmi!” Belajarkah sikap penyayang sebelum belajar ilmu! Sedangkan Abdullah ibn Wahab rahimahullah menyatakan: “Mā ta’allamnā min adabi Malikin aktsaru min-mā ta’allamnā min ‘ilmihī.” (Apa yang kami pelajari tentang adab dari Imam Malik lebih banyak daripada yang kami pelajari tentang ilmunya). Abu al-Qasim al-Qusyairy (w 465 H) menyatakan dalam al-Risalat al-Qusyairiyah, bahwa esensi adab adalah gabungan semua sikap yang baik (ijtimâ’ jamî’ khisâl al-khair).

Oleh karena itu orang yang beradab adalah orang yang terhimpun sikap yang baik di dalam dirinya. Begitu pentingnya adab dalam Islam, sampai ulama besar, Abdullah Ibn al-Mubarak mengatakan, bahwa porsi adab dalam Islam adalah dua pertiganya (kādal adabu yakūnu tsulutsay al-dīni). (Lebih jauh tentang konsep adab, lihat Adian Husaini, Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab, Jakarta: INSISTS, 2015; Juga, disertasi Dr. Muhammad Ardiansyah yang berjudul Konsep Adab Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Aplikasinya di Perguruan Tinggi, di UIKA Bogor, 2017).

Pengalaman bangsa-bangsa

Dari berbagai definisi dan pendapat para ulama tersebut, bisa dipahami, bahwa tumbuhnya tradisi literasi atau budaya ilmu yang berkeadaban, sejatinya adalah asas kebangkitan umat Islam. Pengalaman berbagai bangsa pun menunjukkan, bahwa kebangkitan mereka diawali dengan tumbuhnya budaya ilmu di tengah bangsa tersebut. Dalam bukunya, Budaya Ilmu (Satu Penjelasan), Prof. Wan Mohd Nor telah menguraikan bagaimana budaya ilmu menjadi prasyarat penting kebangkitan bangsa.
Simaklah, penggalan puisi di Jepang berikut ini:

Pada awal pagi
Dia mendaki gunung mencari kayu api
Sehingga larut malam
Dia menganyam selipar (daripada jerami padi)
Sambil berjalan
Dia tidak pernah berhenti membaca

Puisi itu mengisahkan seorang pemuda Jepang bernama Kinjiro Ninomiya yang hidup pada awal abad ke-20. Kegigihannya dalam memburu ilmu menjadi inspirasi masyarakat Jepang. Oleh pemerintah Jepang, semangat Kinjiro itu kemudian disebarkan dalam bentuk buku teks moral, tugu peringatan, dan lagu-lagu. Semangat inilah yang banyak memberi inspirasi masyarakat Jepang untuk mengejar ilmu pengetahuan dan kemudian tampil sebagai salah satu peradaban besar.

Pada abad-abad ke-19, masyarakat Jepang dikenal sebagai masyarakat “haus ilmu”. Budaya itu telah membangkitkan Jepang menjadi kekuatan dunia dalam bidang sains, teknologi, dan ekonomi yang mengagumkan pada masa-masa berikutnya. Banyak ilmuwan Barat heran, bagaimana bangsa yang dikalahkan dan dihancurkan dalam Perang Dunia II itu kini mampu mengalahkan Barat dalam berbagai bidang. Profesor Ezra Vogel dari Harvard University, merumuskan, bahwa kejayaan Jepang ialah berkat kepekaan pemimpin, institusi, dan rakyat Jepang terhadap ilmu dan informasi dan kesungguhan mereka menghimpun dan menggunakan ilmu untuk faedah mereka.

Jepang telah menempatkan ilmu dalam posisi penting sejak Zaman Meiji (1860-an-1880-an). Pada akhir 1888, dikatakan, terdapat sekitar 30.000 pelajar yang belajar di 90 buah sekolah swasta di Tokyo. Sekitar 80 persennya berasal dari luar kota. Pelajar miskin diberi beasiswa. Sebagian mereka bekerja paroh waktu sebagai pembantu rumah tangga. Namun mereka bangga dan memegang slogan: “Jangan menghina kami, kelak kami mungkin menjadi menteri!” Para pelajar disajikan kisah-kisah kejayaan individu di Barat dan Timur. Contohnya, buku Yukichi Fukuzawa, berjudul Galakkan Pelajaran pada tahun 1882 terjual 600.000 naskah. Buku ini antara lain menyatakan:

“Manusia tidak dilahirkan mulia atau hina, kaya atau miskin, tetapi dilahirkan sama dengan yang lain. Sesiapa yang gigih belajar dan menguasai ilmu dengan baik akan menjadi mulia dan kaya, tetapi mereka yang jahil akan menjadi papa dan hina.”

Jepang hanya satu contoh, bagaimana bangsa kecil ini mampu bangkit dengan menjadikan budaya ilmu sebagai asasnya. Bom sekutu yang meluluhlanttakkan beberapa kotanya terbukti tidak mampu menghentikan kebangkitan bangsa ini di dunia sains dan ilmu pengatahuan.

Buku Prof. Wan Mohd Nor bukan hanya menyajikan konsep ilmu dan budaya ilmu dalam tataran teoritis. Telaah historis dan perbandingan konsep budaya ilmu antar berbagai peradaban disajikan dengan gamblang, seperti budaya ilmu dalam masyarakat Yunani, Cina, India, Yahudi, Barat, dan Islam dipaparkan dengan padat.

Dalam tradisi Yunani, misalnya, seperti dikatakan Robert M. Huchins, bekas Presiden dan conselor University of Cicago, bahwa di Athens: “pendidikan merupakan matlamat (tujuan.pen.) utama masyarakat. Kota raya mendidik manusia. Manusia di Athens dididik oleh budaya, oleh paideia.” Meskipun terbilang kecil dan tidak memiliki tentara yang kuat, peradaban Yunani berpengaruh besar terhadap masyarakat Romawi dan kemudian juga peradaban Barat. Namun, meskipun berbudaya ilmu, masyarakat Yunani mengabaikan akhlak – ciri budaya ilmu yang berbeda dengan budaya lmu dalam Islam.

Demonsthenes, seorang filosof Yunani, mengungkap pandangan kaum cerdik pandai tetapi tidak berakhlak: “Kami mempunyai institusi pelacuran kelas tinggi (courtesans) untuk keseronokan (keindahan. Pen.), gundik untuk kesihatan harian tubuh badan, dan istri untuk melahirkan zuriat halal dan untuk menjadi penjaga rumah yang dipercayai.”

Bangsa Yahudi sudah dikenal luas menghargai budaya ilmu. Ilmuwan-ilmuwan Yahudi seperti Enstein, Baruch Spinoza, Sigmund Freud, Karl Marx, memiliki pengaruh besar dalam ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Budaya keilmuan di Barat juga menarik dicermati. Setelah terlepas dari cengkeraman kekuasaan Geraja dan memasuki zaman baru (renaissance), bermunculan ilmuwan-ilmuwan Barat yang memiliki pengaruh besar dalam tradisi keilmuan seperti Galileo Gelilei (m. 1642), Charles Darwin (m. 1882), Marie Curie (m. 1934), dan sebagainya. Kini, dunia Barat tetap memberikan perhatian besar terhadap masalah keilmuan. Berbagai pusat kajian ilmu dibangun. Untuk memahami dunia Timur (Asia-Afrika) mereka membangun pusat-pusat kajian dan bidang kajian yang dikenal sebagai “Orientalisme”. Berbagai daya upaya dan biaya dikeluarkan untuk menguasai bahan-bahan literatur, baik buku, manuskrip, majalah, risalah tentang dunia Timur (termasuk dunia Islam). Penguasaan bahasa Arab, Parsi, Turki, Urdu, dan sebagianya juga digalakkan.

Bagaimana dengan dunia Islam? Islam, menurut penulis, memiliki akar konsep dan budaya yang kuat dalam pengembangan tradisi dan budaya ilmu. Prof. Hamidullah, misalnya, menunjukkan, bahwa kebanyakan ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan aspek keilmuan, justru diturunkan di Mekkah. Berbagai hadith Nabi Muhammad saw menekankan pentingnya kedudukan ilmu dalam Islam. Para sahabat Nabi juga dikenal sebagai orang-orang yang haus akan ilmu. Kata Muadh bin Jabal: “Ilmu adalah ketua bagi amal; amal menjadi pengikutnya.” Salah satu sabda Nabi saw yang sangat popular adalah: “Menuntut ilmu adalah satu kewajiban ke atas Muslim dan muslimat.” Budaya ilmu di dalam Islam memang khas. Konsep pembagian ilmu menjadi “ilmu fardhu ain” dan “fardhu kifayah”, misalnya, tidak dikenal dalam konsep peradaban lain. Umur manusia yang terbatas tidak memungkinkan manusia mengejar semua ilmu. Maka, perlu dipelajari ilmu-ilmu yang bermanfaat. Sebab, ujung dari pengejaran ilmu adalah pengenalan Tuhan dan pengabdian kepada-Nya. Dalam konteks inilah bisa dipahami makna ayat Quran: ”Hanyasanya hanya mereka yang berilmu yang takut kepada Allah.”

Satu konsep menarik yang diajukan penulis adalah konsep “integratif” – disamping konsep “Islamisasi”. Penulis mengkritik keras konsep “spesialisasi sempit” yang membutakan ilmuwan dari khazanah keilmuan bidang-bidang lain. Ia menekankan perlunya menjelmakan sifat keilmuan yang multi-disciplinary dan inter-disciplinary. Spesialiasi yang membutakan terhadap bidang lain, menurut Jose Ortega Y Gasset, filosof Spanyol yang berpengaruh besar selepas Nietszche, telah melahirkan “manusia biadab baru” (a new barbarian):

“It is evident that the change has been pernicious. Europe today is taking its sinister consequences. The convulsive situation in Europe at the present moment is due to the fact that the average Englishman, the average Frenchman, the average German are uncultured: they are ignorant of the essential system of ideas concerning the world and man, which belong to our time. This average person in the new barbarian a laggard behind the contemporary civilization, archaic and primitive in contrast with this problem, which are grimly, relentlessly modern. This new barbarian is above all the professional man, more learned than ever before but at the same time more uncultured.”

Bahkan, Jacques Maritain, pemikir Katolik adal Perancis menyatakan, bahwa pendidikan yang terlalu cenderung ke arah spesialisasi sebenarnya melatih manusia untuk menjadi binatang, sebab binatang memang mempunyai kemahiran sangat khusus dalam suatu bidang tertentu. (hal. 51).
Prof. Wan Mohd Nor menulis, bahwa tradisi keilmuan dalam Islam tidak mengenal sifat “spesialisasi buta” seperti ini. Ilmuan-ilmuwan Islam dulu dikenal luas memiliki penguasaan di berbagai bidang. Lebih jauh ia jelaskan:

“Manusia berbudaya ilmu bukan sahaja harus mengetahui ide dan prinsip penting zamannya seperti yang dikehendaki oleh Gasset, tetapi lebih utama lagi ialah prinsip penting dan gagasan utama dalam agamanya serta sejarah pemikirannya. Ini adalah kerana pengetahuan dan pemahaman yang bermakna tentang hal-hal tersebut akan membolehkan individu sedemikian melaksanakan pemaduan ilmu sebenar yang akan mewujudkan kepaduan diri dan masyarakat. Inilah yang mahu dicapai oleh gerakan pengislaman ilmu…” (hlm. 51).

Meskipun menekankan “keunikan” budaya ilmu dalam Islam dan mengajukan konsep “Islamisasi ilmu-ilmu semasa (kontemporer)”, Prof. Wan Mohd Nor mengimbau kaum Muslim tidak apriori terhadap ilmu-ilmu yang berasal dari peradaban di luar Islam. Meskipun mengkritik keras berbagai aspek konsep dan budaya ilmu dalam peradaban Barat, yang diilhami oleh semangat sekular, penulis mengajak kaum Muslim untuk mengakui, bahwa banyak ilmuwan Barat yang gigih dan bersungguh-sungguh dalam mengejar ilmu.

Penutup

Akhirul kalam, adalah sesuatu yang hebat, bahwa sila kedua dalam Pancasila menegaskan: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Maka, sebagai bangsa muslim terbesar di dunia, kaum muslimin Indonesia perlu merenungkan dengan sungguh-sungguh tentang sejarah dan perjalanan bangsa Indonesia. Apakah saat ini ‘budaya ilmu’ yang melandasi sejarah dan arah perjalanan bangsa Indonesia, atau justru budaya yang berlawanan, yaitu ‘budaya jahil’. Jika terlalu banyak dana dihamburkan untuk berbagai hal yang bukan terkait dengan keilmuan, maka itu maknanya, budaya ilmu masih jauh dari tradisi bangsa kita. Dan sejarah menunjukkan, budaya jahil tidak pernah membangkitkan satu peradaban.

Tapi, budaya ilmu atau budaya literasi dalam Islam harus dilandasi dengan adab. Karena itulah, para ulama banyak menulis kitab-kitab tentang Adab dalam mengajar dan meraih ilmu. Tujuannya agar mereka menjadi manusia-manusia berilmu (ilmuwan) yang beradab; bukan ilmuwan yang biadab. Ilmuwan biadab adalah ilmuwan yang tidak tahu dan tidak mau menempatkan segala sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan oleh Allah.

Dalam Gurindam 12, Raja Ali Haji menorehkan untaian kata-kata indah:
“Barang siapa tiada memegang agama,
Maka, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama…

“Jika hendak mengenal orang yang berilmu;
Bertanya dan belajar tiadalah jemu!”

Wallahu A’lam bish-shawab.

(Solo, 25 Februari 2018).

*) Disampaikan dalam acara Seminar Nasional menyambut Milad Forum Lingkar Pena (FLP) di UNS Solo, 25 Februari 2018

**) Ketua Program Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor; Pendiri Pesantren Shoul-Lin al-Islami dan Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization/PRISTAC, Depok, Jawa Barat; www.ponpes-attaqwa.com.

Post Author: admin

Admin adalah administrator laman FLP.OR.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *