Kenali Trauma Psikologis dan Langkah Post Traumatic- Growth (1/2)

2 menit baca |

SENANDIKA, FLP.or.id – Gempa Lombok dan tsunami yang menerjang Sulawesi Tengah, meluluh lantakkan Palu dan Donggala serta daerah sekitarnya membuat ribuan atau bahkan jutaan orang bertanya-tanya: benarkah mereka yang terpapar psikisnya secara sangat ekstrim dapat sembuh seperti sediakala?

Kita dapat bayangkan bagaimana kengerian yang ditimbulkan:

· Menyaksikan saudara dan teman, tiba-tiba tertimpa reruntuhan bangunan lalu tewas seketika

· Menyaksikan para korban mengalami luka tubuh lalu mereka meninggal dalam perjalanan

· Menyaksikan rumah, sekolah, pusat perbelanjaan dan rumah sakit serentak hancur. Hanya dalam hitungan jam. Kemarin, pekan lalu, bulan lalu bersama keluarga masih menikmati kehangatan sembari menatap langit dan matahari tenggelam di Talise. Lalu semua tiba-tiba lenyap begitu saja?

Berikut adalah paparan singkat tentang apakah trauma, dampak dan cara penanggulangannya.

Trauma adalah kondisi tiba-tiba yang melibatkan kejutan emosi luarbiasa, kejadian yang sangat menekan, dan kondisi sakit atau luka pada fisik. Dalam istilah ilmiah, merupakan gabungan emotional shock, stressful event and physical injury. Hal ini semisal bencana alam seperti gempa, tsunami atau perang, kecelakaan, korban kriminalitas dan sejenisnya.

Apa akibatnya?

Korban dapat mengalami neurosis seperti depresi, atau anxiety (kecemasan) sangat parah.

Apa tandanya?

Tanda-tanda fisik yang mudah terlihat lelah, tegang, dada berdegup kencang, bahkan tremor. Gelisah, sulit tidur, keringat dingin juga mungkin terjadi.

Tanda-tanda psikis seperti ketakutan tak masuk akal terhadap suara yang dianalogikan mirip. Misal suara air sama dengan suara air bah. Suara langkah kaki sama dengan suara gemuruh tsunami. Suara lari sama dengan suara kerumunan massa menjauhi bencana. Atau bahkan ketakutan terhadap hal-hal yang dianggap mirip. Takut masuk tenda , karena dianggap sama dengan ruangan tempatnya mengalami kecelakaan gempat.

Tanda psikis yang lain adalah sangat sensitive dan sangat emosional.

Bila individual dengan ciri psikis sama ini berkumpul, dapat membentuk massa. Massa dapat membentuk crowd dan dapat timbul kejadian tak diharapkan seperti penjarahan.

Struktur Neuro-psikologis

Bagian terpapar dari otak akibat kejadian traumatis adalah hippocampus dan amygdala. Hippocampus bertanggung jawab terhadap memory (ingatan) baik short term memory atau long term memory. Hippocampus juga bertanggung jawab terhadap spatial-navigation.

Mereka yang trauma, seringkali mengalami gangguan di bagian ini sehingga mana ingatan jangka panjang, mana yang jangka pendek tumpang tindih. Termasuk spasial. Ketika gempa yang dialaminya saat ia tengah berada di ruang kantor, ia bisa saja salah mengenali dan mengatakan bahwa semua ruangan sama dengan ruang kantornya. Meski dalam kenyataannya jauh berbeda.

Amygdala, yang terletak dekat hippocampus juga terimbas. Amygdala bertanggung jawab terhadap situasi emosi manusia termasuk sifat agresif. Dengan terpengaruhnya amygdala, orang menjadi sangat emosional ketika peristiwa traumatik belum disembuhkan. Ia bisa jadi sangat sedih, meraung tak habis-habis, atau sangat agresif bahkan brutal. Kondisi kesedihan dan kemarahan yang teramat sangat ini membuat psikis korban trauma menjadi sangat rentan untuk mengalami gangguan.

Bila kondisi neurosis sangat parah, tentu obat-obatan antidepresan atau yang disarankan psikiater sangat dibutuhkan

Post Author: Sinta Yudisia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *