Agenda

Gotong Royong Untuk Mas Gagah

ketika-mas-gagah-pergi“Ketika Mas Gagah Pergi sangat menginspirasi saya sebagai remaja saat itu dan membuat saya jadi pribadi yang lebih peduli pada sekitar serta lebih mencintai Islam. Kisah ini abadi dan mampu mengubah banyak pembacanya menjadi lebih baik. ” (Asma Nadia)

Pernyataan penulis bestseller Asma Nadia tak jauh berbeda dari Habiburahman el Shirazy. Bahkan penulis yang populer dipanggil Kang Abik ini mengusulkan agar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memasukkan buku ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ ke perpustakaan sekolah-sekolah dan universitas “untuk membangun karakter pemuda Indonesia.”

Kang Abik dikenal sebagai penulis novel best seller ‘Ayat-ayat Cinta’ dan Ketika Cinta Bertasbih (KCB) yang ketika difilemkan sukses meraih lebih dari tiga juta penonton serta mengawali munculnyagenre drama-religi baik dalam bentuk filem maupun sinetron televisi.

Saran kang Abik ini diperkuat oleh hasil riset yang dilakukan ahli sosiologi asal Jepang, Yo Nonaka Ph.D. Nonaka, yang juga menerjemahkan kisah ini ke bahasa Jepang, menyimpulkan, “buku ini turut berperan dalam membentuk karakter generasi muda muslim tahun 1990-an- 2000-an hingga sekarang.”

Tidak banyak kisah seperti ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ yang punya pengaruh demikian kuat dan masih relevan sejak diterbitkan pertamakali tahun 1993 dalam bentuk cerpen di Majalah Annida. Sampai kini, buku KMGP sudah memasuki cetak ulang 27 kali dan permintaan masih terus mengalir, baik melalui berbagai toko buku maupun penjualan langsung.

Tak kurang dari tiga rumah produksi kemudian mengincar untuk memfilemkan kisah ini. Tapi upaya-upaya tersebut kandas, diantaranya karena ruh religi yang mendasari novel ini justru hendak dihilangkan dengan alasan komersial.

Alih-alih kecewa, keluarga, kerabat dan kawan-kawan penulis kisah ini, Helvy Tiana Rosa, lalu membentuk komunitas “Sahabat Mas Gagah” dan menggulirkan upaya gotong royong menghimpun dukungan dalam bentuk donasi (crowd-funding) guna mewujudkan KMGP menjadi filem, sesuai ruh aslinya.

Gayung bersambut. Para remaja yang membaca buku ini saat sekarang maupun sejak 21 tahun lalu, menyambut baik upaya gotong royong ini. Umumnya mereka kini sudah menjadi bagian dari keluarga menengah Muslim yang jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun seiring perkembangan ekonomi Indonesia.

“Buku ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ menjadi jalan hidayah ketika saya masih di pengungsian, untuk berhijab, belajar giat, tidak pacaran dan menulis diary,” tulis Raidah Athirah, asal Maluku, “Kini di pucuk Aurora Norwegia, memori saya kembali. Semoga KMGP menjadi the inspiring movie.” Athirah menulis ini di status Facebook-nya sambil memajang foto bersama suami bule-nya.

Selama 21 tahun usia kisah ini, Helvy memperkirakan KMGP sudah dibaca hampir 10 juta orang. Kini hanya butuh dukungan 100 ribu orang dalam sepekan pertama untuk mewujudkan cerita ini menjadi filem sesuai ruh aslinya.

Rekening untuk donasi sudah dibuka saat ini, dan akan terus dibuka hingga film ini diproduksi, namun rencananya Pekan Dukungan KMGP (PDKMGP) akan diadakan pada 26 September-3 Oktober 2014 mendatang.

Jika satu orang mendukung dalam bentuk donasi Rp.50 ribu saja, maka akan terkumpul dana Rp. 5 milyar, yang cukup untuk membiayai produksi dan promosi filem ini. Dukungan 100 ribu orang dalam sepekan juga menjadi sinyal positif bagi produser maupun jaringan bioskop tentang potensi komersial filem KMGP ini.

Selain itu, berkat dukungan gerakan sosial ‘TwitGreen’, setiap penyumbang Rp. 50 ribu otomatis akan memperoleh satu pohon yang ditanam atas namanya. Setelah lima tahun, 70% hasil dari pohon ini akan diberikan pada petani penanamnya dan 5% akan kembali pada penyumbangnya. Donasi Rp. 5 milyar akan setara dengan 100 ribu pohon.

Keuntungan filem ini kelak juga akan disumbangkan pada gerakan literasi bagi anak negeri melalui Forum Lingkar Pena serta sebagian lagi untuk wanita dan anak-anak Palestina melalui Adara Relief International.

Jadi, cukup dengan Rp.50 ribu, penyumbang akan mampu mewujudkan KMGP menjadi filem, menanam pohon, menyumbangkan oksigen bagi bumi, membantu petani, menggiatkan aksi literasi di negeri ini, membantu wanita & anak Palestina dan, dalam lima tahun, akan terkumpul dana yang cukup untuk melakukan kegiatan bermanfaat lainnya. [aa]

Contact Person:

Risty: 08121056956/ Fahri 085691746094

Nomor Rekening untuk Crowd Funding

1. BSM Cabang Dewi Sartika 7033101858atas nama Lembaga Forum Lingkar Pena

2. Bank Mandiri Cabang Margo City Depok 1570087778883 atas nama Lembaga Forum Lingkar Pena

3. BNI Syariah cab Margonda 0259296140 atas nama Yayasan Lingkar Pena

Konfirmasi donasi via sms ke 085691746094
Format konfirmasi: Nama Pendonasi_JumlahDonasi_RekeningDonasi yang dituju Contoh: Ramadhan F_Rp 1.000.000,-_BSM

Pelaporan donasi akan dilakukan di web resmi www.masgagah.com

Related posts

“FLP Peduli” Membuka Kesempatan Donasi

admin

19-21 Desember 2017, FLP Lahat Ikut Jadi Bagian Penyelenggaraan “Saatnya Jeme Lahat Peduli Ummat”

admin

18 Desember 2017, Blogger FLP Mengisi Workshop “Literasi di Era Digital”

admin

Leave a Comment