Selasa, Februari 20Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti


Catatan Kaderisasi BPP FLP dalam Pertemuan FLP Wilayah Sumatra 2023

Zoom Meeting Pertemuan Kaderisasi BPP FLP dan Wilayah Sumatr

 

Rabu malam (27/12), tim BPP FLP (Ketum, Kaderisasi, dan Jarwil) melakukan pertemuan terbatas dengan pengurus inti FLP-FLP wilayah di Sumatra.

Program ini merupakan agenda Divisi Kaderisasi untuk melakukan pendampingan Kaderisasi di tingkat wilayah. Sistem Kaderisasi yang baru membutuhkan dorongan dan implementasi hingga ke tingkat cabang. Kaderisasi ingin memastikan semua wilayah telah mengetahui sistem ini dan secara bertahap mengimplementasikannya.

Dalam perbincangan tersebut, muncul beberapa pertanyaan dan diskusi berulang yang juga menjadi wacana dan permasalahan yang sama di beberapa wilayah yang kami kunjungi sebelumnya.

 

Catatan Kaderisasi BPP FLP dalam Pertemuan dengan Sumatra

 

Supaya dapat menjadi catatan dan rujukan, masalah dan pembahasan tersebut akan kami rangkum secara tertulis. Baiklah, saya akan menguraikan beberapa masalah yang menjadi kondisi nyata kita hari ini.

Tentang FLP yang Tak Lagi Diminati Mahasiswa

Pertanyaan yang paling sering muncul saat kami (Ketum, Kaderisasi, Jarwil) turun ke wilayah adalah tentang FLP yang tak lagi memiliki peminat di kalangan mahasiswa.

“Anggota kami rata-rata pekerja, sudah tidak ada mahasiswa, ini jadi kendala kami untuk bergerak karena kesibukan dari anggota-anggota yang sudah bekerja tersebut,” demikian rata-rata pernyataan dari teman-teman di wilayah.

Ungkapan ini mengingatkan saya pada stigma para sastrawan di Riau dulu. Dulu sekali, era awal-awal tahun 2000-an, FLP sering dianggap sebagai organisasi mahasiswa. “Ya, FLP itu kan organisasi mahasiswa saja, belum melahirkan penulis-penulis yang mumpuni,” demikian pandangan umum kalangan sastrawan dan penulis-penulis senior dulu.

Saya ingat sekali saat itu kami memang masih bergerak di kampus, ngumpul di masjid kampus, berangkat pagi pulang malam ngurus organisasi tanpa dibayar. Indah, sih, kenangan itu. Kenangan itu pula yang mungkin ada di pikiran kita sehingga kita seolah-olah ingin bernostalgia kembali ke sana.

Namun, ada hal yang perlu kita ingat bahwa,

✅ Era kehidupan telah berubah, disrupsi, perkembangan zaman terus berubah sehingga mengubah pula manusia-manusia di dalamnya.

✅ Usia FLP telah bertambah dan kita bukan lagi organisasi ecek-ecek di kelas mahasiswa. Organisasi mahasiswa adalah organisasi latihan, organisasi peralihan sebelum kita masuk ke dunia masyarakat seutuhnya.

✅ FLP telah membesarkan kita, mahasiswa yang dulu siap bertungkus lumus itu. Maka sudah saatnya kita benar-benar membawa FLP pada tataran organisasi yang naik level, lebih profesional dalam tata kelola (tidak lagi level mahasiswa).

Pertanyaan lainnya:

✅ Apakah mahasiswa saat ini masih sama dengan model manusia mahasiswa zaman dulu? Gen Z memiliki karakteristik yang berbeda. Kalaupun kita membawa FLP pada gen z hari ini, maka tetap tidak akan sama dengan kita dulu.

✅ Apakah kita sudah memiliki konsep pengelolaan FLP yang lebih matang ke depan? Jika iya, maka kita membutuhkan komposisi latar belakang anggota yang lebih beragam. Semua komponen kita rangkul dalam ruang kolaborasi.

Benar bahwa pada komposisi tertentu mahasiswa menjadi penggerak organisasi kita, tetapi unsur-unsur yang lain tetap penting untuk pengelolaan jangka panjang FLP. Unsur pemerintah, swasta, guru, sesama penggiat, hingga kalangan ustaz menjadi unsur yang perlu dirangkul untuk dikolaborasikan dalam mengelola FLP hari ini.

 

Jadi Esensinya Apa?

Hari ini kita membutuhkan SDM yang siap mengelola FLP dengan memahami visi misi yang benar. Bukan hanya tentang latar belakang, tetapi juga soal kesiapan untuk bergerak dalam ruang aturan organisasi yang jelas.

SDM yang ikhlas bekerja di FLP tanpa ukuran-ukuran pragmatis. Ini yang harus dijaga, apapun latar belakangnya, visi misi dan aturan organisasi sebagai bingkainya.

Dalam hal ini kecakapan pemimpin FLP sangat dibutuhkan dalam mengelola dan mengarahkan potensi setiap anggota.

✅ Ada anggota yang posisinya sebagai kepala sekolah dengan kesibukan yang tinggi, maka yang diminta kontribusinya adalah jaringan, peluang, pemikiran, tidak sama dengan SDM penggerak.

✅ Ada anggota yang posisinya sebagai pegawai di Dispusip atau Balai Bahasa, maka perannya adalah jaringan, ngumpulnya di pustaka, kantor, atau kafe. Tidak bisa lagi kita ajak di teras-teras masjid.

✅ Ada anggota yang posisinya dosen super sibuk, nggak pernah bisa rapat. Apa perannya? Jaringan literasi di kampus, ruang-ruang FLP masuk ke kalangan akademik, dan seterusnya.

Semua perlu dimanfaatkan sesuai dengan posisi dan fungsinya. Dengan begitu semua akan merasa memiliki peran di FLP. Komposisinya perlu diatur.

Jika memang membutuhkan mahasiswa dalam porsi tertentu, maka silakan membuat rekrutmen khusus mahasiswa pada periode dan cabang tertentu. Buat agenda-agenda literasi digital yang bisa lebih menarik minat kalangan Gen Z. Atur porsinya sesuai kebutuhan organisasi.

Sebenarnya yang jadi persoalan bukan soal latar belakang apakah pekerja atau tidak, apakah mahasiswa atau sudah tua-tua, tetapi soal komitmen untuk bergerak dan memahami organisasi ini.

PR-nya adalah bagaimana memahamkan nilai-nilai FLP tersebut ke anggota. Jika nilai sudah tertanam, apapun latar belakangnya akan siap untuk bergerak dan diarahkan.

Sungguh Allah yang Maha Mengetahui Kerja-Kerja kita.

Salam Takzim

Nafi’ah al-Ma’rab (Kordiv. Kaderisasi BPP FLP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

Share This