Senandika

Manusia dan Usaha Mereka-reka Pengalaman; Sebuah Pemetaan Tradisi Bercerita

10 menit baca |

  1. Manusia dan Kehidupan

            Kebudayaan yang merupakan representasi alur kehidupan manusia adalah sebuah makrokosmos bagi dunia ingatan manusia. Dunia ingatan yang kemudian memunculkan aksi penggumpalan-penggumpalan peristiwa dalam ruang lingkup memori dan cita-cita. Memori memunculkan aspek kesejarahan sedangkan cita-cita memunculkan aspek harapan dan imajinasi. Pada titik ini muncullah apa yang disebut mimesis[1]. Kebudayaan sebagai wacana alam semesta dalam hal ini dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi. Setelah terbentuknya wacana kemudian akan muncul pula sebuah penggumpalan-penggumpalan selanjutnya yang lebih kecil ruang lingkupnya. Penggumpalan yang diambil dari sebuah konflik pada alur makro tersebut. Manusia yang fana di dunia mempunyai berbagai macam konflik yang akan membangun jaring-jaring kebudayaan.

            Konflik dunia misalnya dengan adanya peperangan, dengan adanya saling kuasa menguasai. Konflik bencana alam, misalnya, yang akan mengubah alur pada sebuah nilai tragis yang justru menjadikan lahan bagi tumbuhnya nilai-nilai moral kemanusiaan. Konflik kerasulan, misalnya, yang menunjukkan nyatanya fungsi kepemimpinan manusia lewat utusan-utusan-Nya yang diabadikan dalam kitab-kitab dan yang dijadikan pedoman bagi langkah kepemimpinan manusia selanjutnya. Atau malah konflik yang bersifat regional, konflik penjajahan, konflik nasionalisme, konflik pemerintahan, konflik disintegrasi bangsa dan komunitas sampai pada konflik masyarakat yang terbangun dari keluarga dan individu-individu yang konsisten menciptakan permasalahan.

            Dapat disimpulkan bahwa manusia adalah salah satu variabel kehidupan yang mempunyai potensi untuk mengabadikan kefanaan hidupnya dalam bentuk nilai-nilai kebudayaan yang kemudian akan diturunkan pada generasi-generasi selanjutnya.

  1. Manusia dan Waktu

            Kehidupan manusia dibatasi oleh ruang dan waktu yang untuk selanjutnya akan menciptakan tindakan bermacam-macam sesuai dengan pendefinisian hubungan antara manusia, ruang, dan waktu itu sendiri. Banyak manusia yang permisif disebabkan oleh ketakpercayaan akan adanya dimensi lain selain kehidupannya saat ini. Manusia berlomba-lomba memanfaatkan kehidupannya sesuai dengan keyakinan akan waktu tersebut.

            Berhubungan dengan waktu manusia mempunyai berbagai macam kegiatan yang akan merepresentasikan idenya tentang kehidupan. Kefanaan manusia akan memunculkan kefanaan-kefanaan yang lain lewat miniatur kehidupan pada sebuah cerita atau kisah. Cerita atau kisah tersebut bisa muncul dalam beragam sifat; bersifat kenangan, bersifat harapan, dan bersifat khayalan.

  1. Pengendapan Pengalaman

            Pengalaman yang diterima oleh manusia senantiasa selalu diendapkan dengan pengendapan yang berbeda-beda. Seorang manusia yang berhasil mengendapkan peng-alaman dengan baik akan lebih mungkin untuk banyak berepresentasi pada lingkungannya. Pengalaman yang diendapkannya pun dapat berupa pengalaman akuan, diaan, merekaan, dan sebagainya yang kemudian akan memunculkan ide-ide kenangan, ide-ide harapan, dan ide-de khayalan. Semua berasal dari pengendapan pengalaman.

            Pengendapan yang paripurna akan muncul jika manusia memiliki kepekaan untuk merekam kesan-kesan puncak dalam kehidupan yang dirasakan (dialami) dan diperhatikan. Kesan-kesan puncak inilah yang membuat sebuah kisah manusia penuh dengan ketegangan dan asyik untuk diceritakan. Selain itu, pengendapan yang paripurna akan digabungkan dengan sebuah tindakan responsif dari lingkungan (masyarakat) sehingga muncul sebuah keutuhan alur, keutuhan tokoh, dan keutuhan latar. Setelah itu, muncullah fase penciptaan kesan khayali lewat imajinasi manusia.

            Pewarnaan dengan kesan khayali atau imajinasi manusia ini memungkinkan munculnya berbagai macam jenis representasi bergantung pada latar belakang stok respon menusia pencerita. Stok respon yang juga muncul dari hasil pengendapan lain akan berbeda satu sama lain bergantung daya dialog manusia dengan berbagai fenomena, baik lewat bacaan, tontonan, ataupun kejadian nyata. Akhirnya, terjadilah sebuah gumpalan-gumpalan yang kemudian mengkristal dalam bentuk ide cerita yang telah beralur, berlatar, bertokoh, dan tentu saja bertema dan beramanat. Sebuah dunia baru yang secara objektif disebut sebagai dunia otonom.

  1. Representasi Pengalaman

            Representasi manusia terhadap pengalaman mereka setelah fase pengendapan  akan berbeda-beda bergantung pada situasi dan kondisi. Representasi tersebut bisa berbentuk gumaman-gumaman, teriakan-teriakan, tanggapan-tanggapan, usulan-usulan, kecaman-kecaman, dan presentasi-presentasi.

            Yang kemudian dilakukan oleh manusia pencerita adalah membuat sebuah struktur presentasi sehingga maksud yang terkandung pada niat terejawantahkan secara utuh. Strukturisasi presentasi ini akan memunculkan berbagai jenis gumaman, berbagai jenis teriakan, berbagai jenis usulan, dan seterusnya yang dikemas dalam berbagai jenis representasi verbal, seperti keluhan, yel-yel, demonstrasi, seminar-seminar, dan tulisan-tulisan.

            Sebelum dunia mengenal cetak-mencetak representasi yang paling memungkinkan adalah menceritakan pengendapan pengalaman secara lisan. Di sana ada dongeng sebelum tidur, ada pantun-pantun, ada syair, ada mantra dan sebagainya. Bentuk-bentuk representasi tersebut muncul dari sebuah kebutuhan yang spontan akan sosialisasi ide-ide (setelah melalui fase pengendapan paripurna) yang kemudian lebih bersifat komunal dan anonim. Pada tataran ini masyarakat dihadapkan pada sebuah dunia yang sama dalam hakikat perepresentasian hanya saja secara teknik terejawantahkan secara berbeda. Ruang-ruang publik yang secara langsung digunakan oleh mereka sangat memungkinkan untuk menggerakkan mereka secara individu. Oleh karena itu, aksi perepresentasian akan dilakukan oleh individu-individu sebagai subyek perwakilan dirinya sendiri. Dongeng sebelum tidur misalnya. Generasi yang dihasilkan dari fase ini adalah generasi pelanjut cerita yang kemudian menjadi mitos dikemudian hari.

            Selanjutnya muncullah teknologi yang mewakili representasi yang menghasilkan teks di luar aksi pelisanan. Kondisi ini memunculkan sebuah gerakan pengacak-acakan pada tataran aksional. Pelisanan yang mempunyai aspek sosial tinggi melebur pada dunia-dunia teks lain. Dunia yang secara tidak langsung dimaksudkan untuk mewakili pelisanan yang mempunyai efek sosial yang berbeda. Teks yang kemudian dinobatkan memiliki otonomi makna secara khusus memiliki nafas yang panjang pada kehidupannya. Teks tersebut bisa monumental oleh karena itu hilanglah tradisi anonim dan tradisi komunal.

  1. Media Mereka-reka Pengalaman

            Teks adalah bentuk rekaan pengalaman. Teks adalah media interpretasi sebuah konteks. Interpretasi yang secara manusiawi perlu dicurahkan atau disosialisasikan. Pencurahan atau sosialisasi yang sangat dibutuhkan oleh manusia sebagai juru cerita muncul dari berbagai motivasi. Pertama adalah motivasi sosial, manusia memerlukan aksi pembumian cerita sebagai pengejawantahan fungsi sosial mereka. Teks yang dicurahkan terindikasikan oleh fungsi sosial kemasyarakatan. Apakah teks tersebut mempunyai muatan tertentu itu tidak menjadi masalah karena banyak juru cerita yang hanya bertindak sebagai juru cerita bukan penggerak ideologis. Motivasi sosial ini biasanya inheren dalam sebuah tema. Teks yang dikeluarkan kepada masyarakat tentu saja mempunyai aspek-aspek moral yang akan berdampak pada masyarakat. Akan tetapi, sesuai perkembangan zaman, motivasi sosial dari pencurahan rekaan pengalaman ini terwujud ketika media perepresentasian masih sederhana (pelisanan). Pada saat itu motivasi sosial adalah motivasi tertinggi.

            Motivasi kedua adalah motivasi profesional. Motivasi ini muncul ketika teks telah menjadi komoditas penghasil uang dan prestise. Teks yang berada pada motivasi profesional ini adalah teks yang telah berdialektika dengan kebutuhan pasar. Motivasi profesional ini muncul dari sebuah sistem representasi yang telah berteknologi. Lebih meningkat teknologi representasi, lebih meningkat pula motivasi tersebut karena dalam hal ini ada penumpukan jasa. Manusia lain yang menjadi bagian penting dalam peluncuran teks terminimalkan oleh datangnya teknologi. Semakin berkembang teknologi semakin tertumpuk pulalah jasa-jasa pada individu-individu pencetus teks itu sendiri. Setelah itu, lunturlah fungsi sosial sedikit demi sedikit. Semuanya digantikan oleh teknologi. Sosialisasi kebendaan. Lewat buku, lewat radio, lewat televisi, lewat internet, dan sebagainya. Di sinilah munculnya sebuah kemapanan bentuk sosialisasi modern, serba tidak langsung. Sosialisasi kebendaan yang mengalienasikan unsur-unsur kemanusiaan (meminimalkan pemunculan unsur-unsur tersebut) sehingga motivasi sosial hanya muncul pada tataran ide yang melandasi terbentuknya cerita (yang bisa didapatkan bukan dari lingkungan langsung, tapi bisa dari bacaan dan tontonan).

            Motivasi ketiga adalah motivasi tendensial atau motivasi ideologis, yang akan menghasilkan kerja idealis. Teks yang meluncur dari motivasi ini sarat dengan ajakan-ajakan yang mengerucut pada satu titik ideologi, yaitu ideologi pengarang dan ideologi komunitas seorang juru cerita. Motivasi ketiga ini muncul dari sebuah kepentingan seseorang atau sekumpulan orang yang meyakini sebuah cita-cita, yang kadang utopis, dan beranggapan bahwa cita-cita tersebut adalah baik bagi semua orang. Pada tataran ini akan terbentuklah sistem-sistem yang mendukung tersampaikannya tujuan ideologis tersebut. Pada praktiknya motivasi tendensial ini akan merasuk pada motivasi yang lain dengan persentase yang berbeda-beda karena tentu saja setiap juru cerita mempunyai ideologi yang berbeda-beda. Hanya saja jika ideologi yang dianut seorang juru cerita merupakan ideologi yang telah sistematis, misalnya dalam bentuk kelompok-kelompok tertentu, maka kepentingan kelompoklah yang dituju. Sedangkan ideologi masyarakat umum biasanya muncul dari tatanan umum yang telah mendasari kehidupan bermasyarakat, yakni, agama dan adat istiadat. Motivasi tendensial yang berlandaskan ideologi masyarakat tersebut biasanya bisa lebih membumi dibanding dengan ideologi kelompok.

            Ketiga motivasi tersebut tentu saja tidak berada pada kondisi mandiri tetapi biasanya saling bersinggungan satu sama lain, saling beirisan. Hanya saja titik berat motivasinya ke arah mana itu bisa terdeteksi jika para pembaca menganalisis teks lebih mendalam.

            Terlepas dari motivasi tersebut, teks yang telah dikeluarkan sebagai hasil rekaan pengalaman manusia akhirnya akan muncul dalam berbagai jenis media representasi. Pertama adalah media lisan yang muncul sebelum adanya teknologi cetak- mencetak. Walaupun pada kenyataannya pada saat itu manusia berusaha mengabadikan sejarahnya lewat prasasti-prasasti dan sebagainya. Media lisan ini pada zaman modern kadang masih sering diperlukan karena kemurniannya, kelangsungannya, dan kepemilikan aspek feed back yang langsung dari pendengar. Sebagai contoh, selain dipublikasikan lewat media cetak dan media lainnya, takjarang pengarang hadir membacakan karyanya pada sebuah acara dan membahasnya dalam sebuah diskusi. Kedua, adalah media cetak. Media yang muncul pada era Gutenberg ini adalah media yang dirasakan efektif dalam memproduktifkan manusia. Dari media ini kita mengenal apa yang disebut dengan membaca. Membaca yang berarti tindak mentransfer pengetahuan lewat penglihatan sebenarnya merupakan aktivitas yang sudah sering dilakukan oleh manusia dalam rangka perenungan, misalnya membaca tanda-tanda alam dan tanda-tanda kemanusiaan. Hanya saja membaca pada media representasi pengalaman ini adalah membaca dalam artian tekstual. Di sini ada aksi penggantian tanda yang dijadikan objek bacaan. Penggantian tanda dari ikon, indeks, ke simbol[2]. Aksara adalah simbol yang muncul dari konvensi masyarakat.

            Ketiga adalah media audio atau media pendengaran. Media pendengaran kali ini adalah bukan media pendengaran yang juga terjadi pada media lisan tetapi media pen-dengaran yang  bermedia, yaitu teknologi. Media audio ini biasanya diwakili oleh radio. Radio seringkali dijadikan media merepresentasikan pengalaman dalam bentuk sebuah episode cerita yang dikemas sedemikian mungkin sehingga masyarakat dapat menerimanya secara saksama. Pada era 80-an di Indonesia sangat menggejala sekali cerita rakyat yang dipancarkan oleh radio-radio sehingga sangat terlihat masyarakat mempunyai keterikatan imajiner terhadap sebuah alur cerita. Saat ini radio masih bertahan karena mobilitas manusia yang kemudian menghasilkan keperluan hiburan instan saat berkegiatan.

            Keempat adalah media audio-visual. Media yang saat ini tengah merajai berbagai media yang ada, bahkan secara budaya telah menjadi budaya popular di masyarakat. Jarang sekali masyarakat yang tidak memanfaatkan media ini untuk mengetahui dunia-dunia lain sampai-sampai kecenderungan masyarakat akan media yang lain tersisihkan karena media ini. Media visual, dalam hal ini buku, sangat mungkin menjadi media yang paling tersisihkan bila budaya baca belum tertanam kuat dalam sebuah masyarakat.

            Terakhir adalah multimedia. Media yang muncul dari kecenderungan mutakhir teknologi. Saat ini multimedia yang direpresentasikan oleh munculnya internet mulai dijelajahi dan dijadikan alternatif oleh para juru cerita, bahkan telah ada situs-situs dan media-media sosial tertentu yang mengkhususkan diri dalam membangun tradisi bercerita ini. Setelah munculnya media multimedia ini media yang lain terutama buku telah mempunyai sebutan baru sebagai media tradisional. Saat ini bisa dikatakan sebagai era cyber, yang merangkum berbagai kecenderungan sebelumnya. Bagi Negara, masyarakat, keluarga, atau individu yang tidak punya tatanan yang kuat cyber culture ini bisa mengacak dan menghancurkan.

  1. Proses Komunikasi

            Setelah sebuah pengendapan pengalaman menjadi sebuah teks cerita, yang diperlukan oleh seorang juru cerita adalah proses komunikasi yang efektif. Pengarang sebagai pembuat sebuah dunia endapan yang otonom mau tidak mau dalam hal ini harus disebut sebagai seorang juru cerita karena di balik istilah itu ada sebuah ikon yang transparan dalam hubungannya dengan proses komunikasi.

            Seorang juru cerita adalah seorang produsen teks yang mempunyai citra gabungan antara seorang penulis dan pelisan endapan pengalaman. Juru cerita senantiasa merasakan sebuah ruang imajiner antara dirinya dengan para pendengar secara face to face. Pendengar yang berarti pembaca akan merasakan sebuah sisi imajiner pula dengan munculnya niat-niat umpan balik, maka pada titik inilah budaya kritik[3] akan muncul.

            Setelah semua proses komunikasi terjadi seorang pendengar yang berarti pembaca akan dihadapkan pada sebuah tindak pendefinisian isi komunikasi yang diawali oleh persepsi bebas tentang teks yang ditangkap. Pendefinisian ini akan berlanjut pada sebuah simpulan yang kemudian mengendap secara simultan pada stok respon pembaca yang setelah bergabung dengan hasil pengkritisan sebagai efek dari  umpan balik menjadi sebuah pengendapan pengalaman baru yang kemudian akan berwujud sebuah teks baru. Begitulah seterusnya. Oleh karena itu, seorang pembaca atau pendengar adalah seorang juru cerita selanjutnya.

            Pada titik inilah, sebuah upaya kebudayaan dalam merepresentasikan pengalaman terbentuk. Produk budaya dalam berbagai medianya kemudian membentuk pola komunikasi dan industri yang dianggap sebagai strategi utama peradaban. Hari ini, bahkan dunia telah dibentuk oleh jalinan narasi dari representasi pengalaman yang terwujud dalam berbagai genre beserta medianya. Karena itu, buku, radio, televisi, bioskop, laman, dan media sosial menjadi ujung tombak berbagai kontestasi kehidupan. Wallahu’alam.

[1] Tentang mimesisme dan estetika Islam akan dibahas terpisah.

[2] Tentang Semiotika dan Sastra akan dibahas lebih lanjut

[3] Akan dibahas pada tulisan tersendiri

M. Irfan Hidayatullah. Dosen sastra Universitas Padjajaran. Dewan Pertimbangan Forum Lingkar Pena. Penulis novel “Sang Pemusar Gelombang”.

Ihwal Sang Penulis / 

M. Irfan Hidayatullah

M. Irfan Hidayatullah lahir di Tasikmalaya, 3 Maret 1973. Ia menyelesaikan pendidikan TK sampai SMA-nya di kota kelahirannya itu. Namun, setiap libur pendek maupun panjang, ia habiskan di rumah ayah-ibunya di tepi Pantai Pangandaran. Ia memang besar, selain dalam didikan ayah-ibu tercintanya, juga dalam asuhan kakek-neneknya di Tasikmalaya. Pada kultur dua ruang itulah (Tasikmalaya dan Pangandaran) ia tumbuh. Setelah selesai SMA, ia lantas menyelesaikan kuliah sarjananya di Jurusan Sastra Indonesia Unpad tempat ia sekarang bekerja sebagai dosen. Saat ini penulis tercatat sebagai mahasiswa S3 Pascasarjana Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI setelah pada tahun 2006 ia raih gelar magister Humaniora di tempat yang sama.

Nuun. Jangan dipendam. Jangan sembunyikan. Berbagilah kabar. Berkirimlah karya. Layangkan ke editorcantik[at]gmail[dot]com, untuk disyiar di laman kita.




Untuk pemesanan
cukup klik Mizanstore
Atau telepon 089616676975

Sayap-Sayap Rahmah
Buku Ketiga dari Seri Sayap Sakinah
Karya Duet Afifah Afra dan Riawani Elyta
Harga 50,000
Order ke: 0819 04715 58


Novel "Meja Bundar"
Karya @hendraveejay & @elmanohara
Pesan via LINE: bitread_id
Pesan via Whatsapp:
0838-9079-0002, 0823-2006-3397


Klik Gambar untuk Memperbesar




Latest Tweets

Kabar Berita

Login

Agenda LITERASI

  • DCIM100GOPRO

    Munas ke-4 Forum Lingkar Pena, Menjaga Identitas Bangsa di Era Digital

    2 menit baca | BANDUNG, FLP.or.id – Seiring dengan perkembangan zaman, penulis sebagai bagian dari masyarakat yang melek literasi terus ditantang untuk berkembang sesuai dengan kemajuan zaman. Apalagi pada era digital seperti sekarang ini, tantangannya semakin besar. Terlebih lagi, hingga saat ini Bangsa Indonesia masih tergolong sebagai negara dengan minat baca yang masih rendah sehingga…

  • kisah-mister-flp-kaskus

    Kolaborasi FLP dan Kaskus Creator Akan Bahas Penulisan Kisah Misteri

    tak sampai 1 menit baca | Forum Lingkar Pena (FLP) mengadakan kolaborasi dengan salah satu kegiatan rutin KASKUS Creator, yaitu KOPDAR KASKUS Creator. Hadir sebagai pembicara dari FLP adalah penulis Koko Nata. Ajang kopi darat itu biasa diisi sharing perihal dunia tulis-menulis. Di sana, peserta kopdar dapat berdiskusi seputar tips dan teknik menulis. KOPDAR KASKUS…

  • workshop-kepenulisan-flp-munas-4

    Kamu Mau (Makin) Bisa Nulis Travel Writing, Cerita Humor, Puisi, dan Skenario? Workshop Kepenulisan Munas ke-4 FLP Ini Layak Kamu Ikuti

    1 menit baca | Apakah kamu pecinta jalan-jalan, penikmat komedi, peminat puisi, atau penyuka film yang ingin merasakan ‘nikmat’nya jadi produsen karya? Jika iya, maka agenda awal November 2017 ini niscaya sayang untuk dilewatkan. Terutama bagi kamu yang berdomisili di Bandung dan sekitarnya. Dalam rangka pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) IV Forum Lingkar Pena (FLP), panitia…


Peringkat Alexa